CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
26 Friska Jatuh Cinta


__ADS_3

Friska Jatuh Cinta


Sementara itu, regu Krisna telah siap untuk memasuki gua. Mereka masuk dari salah satu cabang dan harus keluar melewati lubang utama. Di depan lubang utama sana telah menunggu senior yang akan memberi mereka tanda telah melewati rintangan ini.


Tugas mereka adalah melewati cabang gua yang dijuluki sebagai istana lumpur ini. Petunjuk yang mereka dapatkan hanyalah cabang utama gua tidak berlumpur. Cabang yang akan mereka lewati kelihatan sempit dari luarnya. Mungkin hanya bisa dilewati satu orang saja.


Krisna dan regunya membuat barisan melingkar. Mereka berdoa untuk keselamatan mereka. Krisna kemudian memimpin di depan. Perlahan ia masuk ke lubang itu. Dugaan pertama Krisna, gua itu adalah goa vertikal. Tapi ternyata setelah turun lima meter, gua itu ternyata gua horizontal. Rupanya yang tadi mereka lalui hanyalah lubang yang ada di atas goa. Krisna tersadar akan sesuatu.


“Semua diam dan dengarkan kata-kataku.” kata Krisna. Mereka semua diam.


“Tadi kita lihat diluar mendung. Kita tidak tahu hujan akan datang. Ini gua horinsontal. Saat hujan kalian tahu sendiri apa yang akan terjadi. Saat gua ini mulai dipenuhi air, tolong kalian jangan panik. Berpegangan tangan satu sama lain.” kata Krisna serius.


“Sayang aku jadi takut.” kata Jeny mendekati Krisna dan memeluk lengannya.


“Jangan takut. Mulai sekarang berdoa biar tidak hujan.” kata Krisna menenangkan Jeny.


Setelah Krisna turun dengan tambang yang ada disana. Selanjutnya di dalam gua Krisna hanya ditemani gelap. Krisna mengeluarkan senter dari sakunya dan menerangi sekeliling tempat itu. Dasar gua itu basah dan berlumpur.


Dari yang bisa Krisna lihat gua itu benar-benar gua horisontal dengan diameter kira-kira 5 meter dan hanya merupakan cabang gua. Kemudian setelah disusul oleh anggota regunya. Saat Jeny turun dan tahu gua itu gelap, ia langsung menjerit. Krisna memegang tangan Jeny.


“Tenang, kita akan baik-baik aja.” kata Krisna.


Irwan dan Erik tidak membawa senter karena mereka membawa barang-barang yang berat dan lainnya menyalakan senter yang sudah mereka siapkan. Mereka mulai berjalan lambat didasar gua. Dasar gua itu berlumpur dan penuh dengan batu-batuan.


Kadang batu yang mereka injak tidak rata dan kedalamannya tidak merata. Kadang air bercampur lumpur itu setinggi mata kaki, tapi ada pula yang setinggi paha bahkan lebih. Celana mereka basah dan kotor karena lumpur.


“Aduh, kakiku bisa lecet kalau kayak gini terus.” keluh Jeny.


“Sabar ya Jen. Jangan mengeluh terus. Kita harus hati-hati biar nggak kepeleset.” kata Aldi menenangkan Jeny.


Sementara Krisna dengan hati-hati meraih tangan Jeny dan menuntunnya. Sedangkan Erik, Friska dan Irwan berjalan di depan mereka. Friska mengarahkan senter ke dinding gua dan langit-langit gua.

__ADS_1


Gua ini memiliki ciri khusus ornamen yang terdapat di dalam gua seperti stalaktit, stalakmit, flow stone, helekit, soda straw, gouwer dam, dan dinding-dinding berornamen seperti bentuk kerangka ikan. Friska dapat melihat stalatit dan stalakmit yang dilapisi air yang melewatinya.


Hiasan goa itu seakan berkilauan saat ditimpa cahaya senter. Kemudian saat air itu menetes di ujung stalaktit nampak seperti berlian yang jatuh dengan indah. Sedangkan dinding gua banyak yang berornamen seperti kerangka ikan, ada pula seperti cangkang kerang dan beberapa mirip seperti fosil binatang laut.


Mereka berjalan menyusuri gua itu dengan berhati-hati dan berusaha menyesuaikan medan, terutama bagian dasar gua yang terkadang ada yang licin. Selain itu, lumpur yang ada di dasar gua itu menyulitkan mereka untuk melihat dasar gua.


“Kak, jangan lupa tugas kita untuk mengamati oranamen gua.” kata Friska datar.


“Iya.” jawab Krisna singkat.


Mereka berenam berjalan dengan penerangan senter. Dalam perjalanan itu Friska masih memikirkan apa yang ditanyakan senior itu. Masih terngiang di kepalanya.


“Apakah kamu menyukai Krisna?” itulah pertanyaan yang sangat sulit ia jawab.


Friska tak habis pikir kenapa rahasia hatinya dapat diketahui orang semudah itu. Friska tak mampu menjawab saat pertanyaan itu diajukan. Kemudian senior itu mengatakan


“Kalau kamu diam, berarti jawabannya iya.” kata senior itu sambil tersenyum.


Friska tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terdiam dan tak mampu mengucapakan sepatah kata pun. Sesaat kemudian senior itu melanjutkan pertanyaan lainnya. Saat wawancara selesai, ada beberapa pesan yang ia katakan pada Friska.


Friska tersenyum perlahan ia menyadari perasaannya. Tapi ia tetap tidak mampu membendung rasa penasarannya. Ia pun memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan yang menganggu hatinya itu.


“Mengapa kakak bisa tahu semuanya?” tanya Friska.


“Semua yang kalian lakukan ditempat ini kami amati. Tapi untuk masalah hati dan perasaan kami hanya menebak-nebak.” kata senior itu sambil tertawa.


Friska tersenyum mendengar hal itu. Friska sudah sadar bahwa ia mulai menyukai Krisna meski kadang ia sangat membencinya.


“Oia kak. Lalu kenapa kalian tidak menolongku saat aku jatuh?” tanya Friska penasaran.


“Oh, itu karena kami hanya sebatas mengamati. Dari pengamatan itu kami bisa menilai semuanya. Siapa yang mendorongmu kami juga tahu. Namun, kami ingin melihat sejauh mana tim kamu mengatasi masalah.” kata senior itu sambil beranjak pergi.

__ADS_1


Friska tidak berusaha untuk mengetahui pelakunya. Baginya semua itu adalah perjalanan dan hal itu telah menjadi masa lalu untuk saat ini. Kadang ia mencoba meyakinkan perasaannya saat ini yang masih sering berubah-ubah.


“Fris? Fris?!” Erik menepuk pundak Friska.


Friska tergagap. Ia memandang Erik yang berjalan di sampingnya.


“Kamu mikirin apa?” tanya Erik.


“Nggak apa-apa kok. Aku cuma memikirkan jawabanku tadi.” kata Friska.


“Ah udah lah Fris. Mereka selalu menduga-duga. Masak mereka tanya apakah aku suka ma kamu. Ya nggak lah, kita kan hanya teman. Lagian aku tahu siapa yang kamu suka.” kata Erik sambil tersenyum.


“Kamu jangan sok tahu.” Friska pun tertawa.


Krisna terus megamati apa yang mereka dari kejauhan. Ia sebenarnya ingin bergabung dengan mereka, tapi tangannya masih menggenggam Jeny.


Dalam kegelapan goa itu, Krisna terus merenung. Ia memikirkan bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Jeny kalau dirinya sama sekali tidak mencintainya. Semua kebohongan yang ia lakukan berkumpul jadi satu di kepalanya.


Kini Krisna sadar, dalam hal apapun, satu kebohongan yang ia buat akan menumbuhkan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya. Begitu seterusnya. Krisna sadar, ia telah membohongi hatinya sendiri hanya untuk menuruti tantangan Rudi.


Sesekali Friska mencuri pandang ke arah Krisna. Ia memandang leader nya itu yang terus-menerus menggandeng tangan Jeny. Perasaan Friska sebenarnya hancur. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain menatap Krisna dengan kebencian.


“Semuanya tetap berhati-hati!” kata Krisna.


“Iya Kak.” jawab kami serentak.


“Rik, kamu pernah jatuh cinta? Gimana rasanya?” tanya Friska.


“Nha to. Kamu lagi jatuh cinta kalau tanya gini. Pakai acara nggak ngaku.” kata Erik.


“Aku cuma tanya. Kadang aku merasa ingin dekat dengannya dan mengenalnya lebih jauh, tapi kadang aku merasa sangat benci kepadanya.” kata Friska.

__ADS_1


“Kalau orang yang kamu maksud itu Kak Krisna. Itu artinya kamu sudah jatuh cinta. Saat kamu benci pasti saat melihatnya bersama Jeny. Itu namanya cemburu.” kata Erik sambil tersenyum.


Friska tidak menanggapi perkataan Erik. Ia terdiam memikirkan apa yang dijelaskan temannya itu. Namun, tiba-tiba rasa takut hadir lagi ke relung hatinya. Ia pernah mencintai dan begitu sakit saat kehilangan.


__ADS_2