CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Friska Ditemukan


__ADS_3

Yuda, Vika, dan Beni mendekati Krisna. Mereka mengamati permukaan jurang yang tergores benda kecil. Mata Yuda menyusuri dasar jurang itu.


“Bisa jadi dia jatuh di sekitar sini. Ayo kita cari lagi.” kata Yuda.


Mereka menyusuri sekitar tempat itu. Vika menggunakan tongkat kayu kecil untuk mengorek-ngorek tumpukan sambah. Tiba-tiba Vika berteriak.


“Aku menemukan sepatu! Tapi cuma satu.” kata Vika menunjukkan sepatu yang ditemukannya.


“Iya. Itu sepatu Friska! Tidak salah lagi.” Krisna begitu bahagia menemukan titik terang.


“Ayo semangat!!! Sebentar lagi pasti ketemu.” Yuda memberi semangat.


Beny duduk di tempat ditemukannya sepatu itu. Tiba-tiba ia melihat daun yang berserakan membentuk suatu garis meski terlihat lusuh. Seketika Beni berlari. Ia mendekati sebuah lubang kecil. Matanya semakin terbelalak ketika ia melihat serabut seperti rambut.


“Aku menemukannya!” teriak Beni.


Yuda, Vika dan Krisna berlari mendekati Beni. Beni membersihkan daun kering di lubang kecil itu. Terlihat wajah Friska yang tak sadarkan diri. Krisna masih tercengang. Badannya kaku tak bisa bergerak melihat keadaan Friska.


Beni dibantu Vika menarik tangan Friska hingga tubuhnya keluar dari lubang sempit itu. Yuda memeriksa keadaan vital Friska. Yoga menarik napas lega. Ia memerintahkan Vika mengobati luka-luka Friska. Berbeda dengan Krisna, ia masih tercengang dalam jeratan kekhawatiran.


“Hei bocah! Dia cuma pingsan. Dia masih dianugerahi keberuntungan.” kata Yuda menepuk pundak Krisna.


Krisna tersadar dari lamunannya. Ia langsung mendekati Friska yang di rebahkan di permukaan jurang. Vika meluruskan kaki Friska dan mengeluarkan obat-obatan dari tasnya. Yuda mengabari semua tim untuk berhenti melakukan pencarian karena Friska sudah ditemukan.


“Krisna? Kamu baru pertama kehilangan orang seperti ini?” tanya Vika.


“Iya kak. Aku sadar, aku masih bocah. Aku hanya bisa panik. Bahkan melihat Friska tak sadarkan diri pikiranku sudah tak karuan kak. Aku merasa hancur kak.” kata Krisna jujur.


“Iya nggak apa-apa. Aku tahu perasaanmu kok. Kami dulu juga pernah seperti itu. Kamu masih kurang pengalaman aja.” kata Beni.


“Kelak kamu akan lebih peka dan tenang seiring kamu tumbuh dewasa.” kata Yuda sambil tersenyum.


“Kamu pacarnya ya?” tanya Vika sambil mengamati raut wajah Krisna.


“Iya kak. Baru juga jadian tadi pagi.” kata Krisna tersipu malu.

__ADS_1


“Ya wajarlah kalau kamu sepanik itu.” kata Beni sambil tertawa.


“Kris, ayo tersenyum. Hilangin paniknya.” kata Vika mengajak Krisna tersenyum.


Krisna pun tersenyum meski masih khawatir dengan keadaan Friska. Vika dengan telaten membersihkan luka Friska dan membalutnya dengan perban. Tiba-tiba ada yang menarik perhatian Vika.


“Eh, dia pakai kalung yang ada liontinnya. Bagus lho.” kata Vika memegang liontin itu.


“Kepo nih jadinya. Ada fotonya siapa? Coba lihat!” kata Beni.


Vika membukanya perlahan. Setelah terbuka dengan sempurna, mata Vika terbelalak. Beberapa detik berlalu, mata Vika berkaca-kaca.


“Kenapa?” tanya Yuda penasaran.


“Lihat fotonya.” jawab Vika singkat.


Yuda dan Beni mendekat dan melihat foto di liontin itu. Krisna tak mau ketinggalan. Ia juga mendekat. Yuda dan Beni pun menjadi sedih melihat foto itu. Krisna yang tak tahu apa yang mereka pikirkan.


Krisna hanya tahu ada dua foto laki-laki di kedua belah liontin berbentuk hati itu. Seorang lelaki paruh baya tersenyum ceria dan seorang pemuda kira-kira seumuran dengan Yuda juga tersenyum ceria.


“Kami kenal mereka. Rio dan Om Fadli.” kata Yuda.


“Ya seperti yang kamu rasakan tadi. Kala itu, kami dan rombongan dari Jogja mendaki gunung bersama dengan misi membersihkan sampah plastik, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Saat itu hujan begitu deras, angin juga bertiup kencang. Kami sudah mendirikan camp di atas. Kami panik ketika mendengar om Fadli terpeleset saat mengencangkan tali pengikat agar tendanya tidak terbawa angin.” Vika menceritakan kejadian itu.


“Ya mungkin memang sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, di tengah cuaca yang buruk tiba-tiba itu, kabut tebal menyelimuti kami hingga jarak pandang kami tidak lebih dari satu meter. Rio mencoba mencari om Fadli. Namun, sepertinya ia juga tak beruntung. Kami hanya bisa berteriak-teriak memanggil nama mereka di tengah badai. Pemimpin rombongan saat itu menyuruh kami tidak gegabah mencari mereka agar korban tidak bertambah.” Beny menambahkan cerita.


“Badai itu berlangsung tak lama. Hanya sekitar setengah jam. Namun, kejadian itu cukup membuat kami trauma selama berbulan-bulan. Setelah badai reda, kami dan rombongan mencari om Fadli dan Rio. Pencarian berlanjut sampai cukup lama. Hingga akhirnya kami menemukan mereka dalam kondisi tak bernyawa. Semua menangis histeris.” kata Vika sambil berlinang air mata.


“Mereka orang-orang baik yang memiliki semangat tinggi. Om Fadli adalah sosok senior yang menjadi panutan. Om Fadli sangat totalitas dalam membimbing jiwa kepemimpinan kami, beliau juga orang yang sangat mencintai lingkungan. Pernah suatu saat beliau ingin meninggal di alam bebas karena ingin bersatu dengan alam. Kami kira beliau cuma bercanda. Pada akhirnya keinginan beliau terkabul saat itu. Namun, kami tak pernah menyangka akan secepat itu.” kata Yuda ikut mengenang peristiwa itu.


“Mungkin om Fadli itu ayah Friska kak. Aku pernah dengar kalau ayahnya meninggal saat pendakian.” kata Krisna.


“Benar juga. Kami masih ingat saat mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir, ada seorang gadis kecil yang menangis tersedu-sedu sambil berteriak-teriak. Ibunya terus menenangkannya, tapi ia tak juga jera. Jadi, gadis itu sudah sebesar ini sekarang. Dan,,, ternyata ia mengikuti jejak ayahnya.” kata Yuda.


“Udah dulu noatalgianya ya. Coba aku bangunkan dengan air.” kata Vika.

__ADS_1


Vika memercikkan air ke wajah Friska. Perlahan Friska membuka matanya. Tangannya reflek hendak memegangi kepalanya yang dibalut perban. Ia memandangi sekitar.


“Kkk...Kak Krisna?” Friska terbata-bata menyebut nama Krisna.


Sepertinya kepala Friska masih pusing. Saking girangnya Krisna memeluk Friska. Friska masih mengumpulkan kesadarannya.


“Eh, udah meluknya. Friska biar minum dulu.” kata Vika sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Friska menenggak air putih yang diberikan Vika dengan rakus. Setelah itu ia tersenyum lega melihat orang-orang yang menolongnya itu.


“Terima kasih kak atas bantuannya.” kata Friska.


“Ngomong-ngomong aku masih penasaran kenapa kamu bisa berada di lubang sempit itu?” tanya Yuda.


Friska menceritakan semua kejadian yang ia lalui. Yuda, Beni, dan Vika tersenyum mendengar cerita itu. Sedangkan Krisna malah miris membayangkan rasa sakit karena peristiwa tadi. Krisna merasa semua yang Friska lalui tidaklah mudah dan pastinya sakit.


“Kamu tangguh, pemberani dan cerdas seperti om Fadli.” kata Yuda.


Friska kaget ketika nama ayahnya disebut. Ia bingung kenapa mereka bisa tahu.


“Maaf, tadi kami membuka liontin kalungmu.” kata Vika.


“Nha kebetulan kami kenal dengan mereka berdua.” kata Beni.


Friska memegang liontin yang biasanya ia masukkan ke dalam baju. Beberapa saat kemudian ia memasukkan lagi liontin itu.


“Oke, kalau sudah kita lanjutkan perjalanan sebelum hari gelap. Friska bisa jalan?” tanya Yuda.


Friska mencoba berdiri dengan susah payah. Namun, banyak memar di kakinya menimbulkan rasa nyeri hingga Friska terhuyung. Krisna dengan sigap menangkap tubuh Friska yang hampir roboh itu.


“Tolong dibantu ya pacarnya. Kita cari rute yang lebih mudah meski agak jauh ya.” kata Yuda sambil tertawa jahil.


Mereka mulai berjalan. Friska dan Krisna saling berpandangan. Wajah Friska memerah dan ia pun menunduk. Krisna tersenyum bahagia bisa bersama orang yang ia cintai lagi. Krisna memapah tubuh Friska dan berjalan bersama.


Sepanjang perjalanan mereka tak banyak mengobrol. Friska masih memikirkan mimpinya saat ia pingsan tadi. Krisna masih sibuk dengan pikirannya. Dalam hati ia berpikir belum tahu apapun soal Friska apalagi kesedihannya selama ini. Krisna dihantui rasa bersalah pernah salah memperlakukan Friska.

__ADS_1


Krisna mempererat tangannya membuat Friska kembali saling bertatapan dengan wajahnya. Krisna kembali tersenyum semanis mungkin.


__ADS_2