Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB X


__ADS_3

Saat hendak membuka pintu Adit tersentak dengan kedatangan Mutia.


"Haii Dit, kamu sibuk gak? Aku mau ngajak kamu nonton. Kamu mau kan?" Mutia bertanya pada Adit.


"Maaf Tia, aku gak bisa. Aku mau anterin Echa dan mamanya pulang." Adit menjawab dengan santai.


Mendengar jawaban Adit, Mutia mengerutkan dahinya. Dia terlihat bingung dengan kehadiran Echa di rumah Adit.


Echa yang berdiri tepat dibelakang Adit menyapa Mutia dengan sopan dan ramah.


"Haii kak Mutia. Apa kabar?" Tegur Echa.


"Ehmmm baik kok. Kok kamu bisa di rumah Adit?" Jawab Mutia.


"Aku kesini sama mama aku kak. Kebetulan mama dan mamanya kak Adit adalah sahabat semasa sekolah. Dan hari ini mereka mengadakan arisan di sini. Aku dan mama di minta tante Elly untuk membantu dalam acara arisan tersebut." Echa menjelaskan secara detail kepada Mutia.


"Oh ya ma, kenalin ma. Ini kak Mutia, kakak kelas Echa disekolah. Kak Mutia juga teman sekelas kak Adit."


Mutia mengulurkan tangan kepada mama Echa. Mama Echa pun menyambutnya dan di sertai sebuah senyuman yang indah.


" Hai tante.. Saya Mutia." Mutia memperkenalkan diri.


"Hai juga cantik.. Tante mamanya Echa." Jawab mama tak kalah ramah.

__ADS_1


"Tia, aku anterin Echa dan mamanya dulu ya. Lain kali aja kita pergi nonton. Kamu kalau masih mau disini masuk aja kedalam. Di dalam ada Inayah dan mamaku." Adit berbicara pada Mutia.


"Yasudah deh Dit, lain kali aja aku main ke rumah. Aku mau langsung pamit aja, karena aku juga udah janji mau pergi dengan teman-teman yang lain. Assalamu'alaikum.. "


Mutia pun akhirnya pergi dengan rasa kecewa.


Sementara Adit bergegas pergi mengantarkan Echa dan mamanya.


Sekitar 20 menit, mereka tiba di kediaman Echa.


Adit yang mengetahui Echa sudah lelah pun akhirnya memutuskan untuk langsung pamit.


_______


"Bagaimana acara arisan kamu tadi ma? Banyak yang datang? Lancarkan acaranya?"


"Alhamdulillah berjalan lancar pa, hanya beberapa orang yang tidak datang karena anaknya sedang sakit." Jawab mama Adit.


"Pa, kamu masih inget kan sama Amel. Sahabatku waktu sekolah dulu?"


"Iya.. Aku masih ingat . Dia kan yang kamu mintai tolong buat bantu kamu tadi. Ada apa dengan sahabat mu itu?" Jawab papa yang tak kalah kepo.


"Ternyata.. Anak perempuannya itu sudah besar pa, cantik sekali. Dan Echa juga satu sekolah dengan Adit." Jawab mama Adit antusias.

__ADS_1


"Wahh.. Bisa kebetulan gitu ya ma. Jadi namanya gadis itu Echa ma. Papa jadi penasaran dengan Echa." Papa berbicara sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuk.


"Anaknya baik pa. Rajin, cantik, dan juga bisa memasak serta membuat kue. Beruntung banget pasti punya anak seperti Echa." Mama Elly bercerita dengan antusias.


"Kapan-kapan boleh ya pa aku undang mereka sekeluarga untuk makan malam disini?"


"Boleh donk ma, papa juga pengen ketemu dengan papanya Echa. Sudah malam ma, kita tidur yuk, papa juga udah mulai ngantuk."


Mereka berdua akhirnya pergi ke kamar untuk istirahat.


Di kamar lain, Adit masih belum bisa memejamkan matanya. Adit masih membayangkan saat dia ngobrol dengan Echa tadi sore.


Adit tersenyum mengingat kejadian tadi.


Sedangkan di kediaman Echa, Echa pun tak kalah senang dengan waktu yang dia habiskan hari ini.


Pertemuannya kembali dengan Adit begitu mengesankan.


Echa tidak menyangka bahwa dia bisa mengobrol dengan sang idola seperti tadi sore.


Sikap Adit yang hangat, berbanding terbalik dengan sikapnya di sekolah.


"Ternyata si kulkas 5 pintu begitu menyenangkan untuk diajak ngobrol." Batin Echa.

__ADS_1


__ADS_2