Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA PART XXXV


__ADS_3

Cie..... Pasangan baru!"


Rafi tersenyum menanggapi perkataan Adit dan Echa. Akhirnya Rafi bisa mengungkapkan perasaannya. Rafi merasa senang bisa menjalin hubungan dengan Mutia.


Jam di tangan menunjukkan angka 21.30 wib, Adit berpamitan kepada Mutia dan Rafi. Adit dan Echa memberikan selamat atas hubungan baru keduanya. Tak lupa, Echa dan Mutia saling bercipika-cipiki. Adit menggenggam tangan Echa dan meninggalkan pasangan baru tersebut. Kedua keluarga juga saling berpamitan dan pulang menuju rumah masing-masing.


****


Minggu, pukul 10.00 pagi Adit dan Echa pergi ke taman kota. Sebelum Adit meninggalkan kota, Adit ingin memberikan moment indah pada Echa. Seperti hari ini, Adit mengajak Echa untuk piknik. Segala keperluan piknik sudah Adit siapkan sejak kemarin. Mulai dari tikar piknik, aneka minuman dan makanan, aneka buah-buahan, dan tak lupa aneka snack serta coklat juga ada.


Sebelum sampai di tempat tujuan, Adit meminta Echa untuk menutup mata dengan sehelai sapu tangan. Adit menuntun Echa ke tempat yang telah ia siapkan. Diatas tikar piknik tersebut, Adit telah merapikan semua perlengkapan piknik.


Sebelum aku pergi sebisa mungkin aku ingin terus mengukir senyum di wajahmu. Akan aku ciptakan kenangan indah yang akan selalu kamu ingat. Jarak tempuh yang jauh mungkin akan menjadi penghalang kita untuk bertemu, namun setidaknya kenangan yang aku ciptakan mampu mengobati rasa rindu kita berdua.


Adit menuntun Echa berjalan menuju tepi kolam, kebetulan di taman ini ada kolam ikan yang tak begitu luas. Dengan lembut tangan kanan Adit mengenggam tangan Echa, sedangkan tangan kiri Adit merangkul pundak Echa dari arah belakang. Mungkin kejutan ini jauh dari kata mewah, tapi niat tulus Adit justru memberikan kesan tersendiri bagi Echa.


Dengan perlahan Adit mempersilahkan Echa duduk, setelah itu Adit membuka penutup mata Echa dengan lembut. Saat kain penutup terlepas, Echa merasa terharu melihat semua yang telah dipersiapkan untuknya. Echa benar-benar bisa merasakan kesungguhan Adit dalam menyiapkan semuanya. Taman yang semula tampak biasa, kini disulap Adit semenarik mungkin.


Kak Adit benar-benar membuat aku terharu, aku kira adegan seperti ini hanya bisa aku lihat di dalam sinetron atau tulisan di novel saja. Ternyata hari ini aku bisa merasakan sendiri. Aku benar-benar merasa beruntung, seperti tuan putri yang bertemu dengan seorang pangeran yang baik hati.


"Kamu suka gak dengan semua ini?" Tanya Adit.


"Suka kak, sangat suka sekali! Aku kira yang seperti ini hanya ada di drama Korea aja, ternyata sekarang aku rasain sendiri. Terima kasih banyak ya kak, Terima kasih untuk waktu yang kakak habiskan untuk menyiapkan ini semua." Jawab Echa dengan mata berbinar.


"Sama-sama tuan putri." Jawab Adit.


Taman ini memang tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang berkunjung. Sebagian pengunjung datang bersama keluarga. Sama halnya seperti Adit dan Echa, mereka juga mengadakan piknik disini.

__ADS_1


"Echa, seminggu lagi aku akan pergi ke luar kota. Mungkin aku pergi bersama mama dan papa, karena Inayah tengah sibuk untuk latihan pensi di sekolah."


"Ehmm... Apa kamu tidak ingin pergi mengantarkan aku?" Tanya Adit menatap Echa.


"Minggu depan ya kak? Sebenarnya Echa juga ingin ikut mengantarkan kakak, tapi Echa belum meminta izin pada orang tua Echa." Jawab Echa sendu.


"Tidak apa, cha. Kalau tidak bisa jangan di paksa." Ujar Adit tersenyum.


Sepanjang hari Adit dan Echa menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita. Bercanda dan tertawa bersama ditemani angin sepoi-sepoi yang berhembus. Semakin sore suasana di taman semakin ramai, bahkan beberapa pedahang kaki lima telah berjejer rapi di pinggir jalan untuk menjajakan dagangannya.


Adit melihat seorang kakek yang tengah duduk dengan nafas terengah-engah di pinggir trotoar. Kakek yang diperkirakan berusia 60 tahun tersebut sedang memegang dada dan terduduk lemas. Refleks Adit bangkit dan ingin mendekati kakek.


Melihat pergerakan Adit yang tiba-tiba, Echa bertanya dengan heran.


"Ada apa kak? Kakak mau kemana?" Tanya Echa penasaran.


"Kamu lihat kakek tua yang sedang duduk disana, cha?" Adit menunjuk ke arah kakek tua tersebut.


"Astaghfirullah, kak. Sepertinya kakek itu butuh pertolongan kak. Ayo kita bantu kak!" Echa menarik tangan Adit untuk menemui si kakek.


Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke tempat kakek istirahat, karena banyak orang yang lalu lalang disekitar taman. Setibanya disana, Echa segera memberikan sebotol air mineral yang telah ia bawa sebelum menemui kakek.


"Ini ada air minum kek, silahkan diminum dulu." Echa menyerahkan sebotol air kepada kakek."


"Terima kasih, nak." Kakek meminum air hingga separuh botol.


Kakek merasa sedikit lega setelah membasahi kerongkongan, nafas yang terengah-engah kini berangsur-angsur teratur. Adit dan Echa terlihat lega melihat kondisi kakek.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, nak. Badan kakek tadi lemes, kakek lupa bawa minum dari rumah. Kaki kakek juga gemeteran, makanya tadi kakek istirahat disini." Ujar kakek.


"Kakek udah makan?" Tanya Echa.


"Belum nak, hari ini kakek belum ada jual rongsokan. Jadi kakek belum ada penghasilan buat beli makan." Ucap kakek sembari memperlihatkan karung yang ia bawa.


Hati Echa terenyuh mendengar cerita kakek, buliran bening lolos begitu saja di wajah Echa. Echa Melihat kondisi kakek yang sudah tidak begitu sehat merasa sangat sedih. Di usia tuanya beliau masih harus berjuang untuk mencari nafkah, seharusnya saat ini beliau sedang bersantai di rumah dan memperbanyak ibadah.


Adit melihat Echa sesenggukan di sampingnya mencoba untuk menenangkan. Adit sedikit menghibur Echa agar merasa tenang. Setelahnya Adit mengajak kakek pergi ke salah satu tempat makan untuk mengisi perut kakek yang sedang kosong.


"Ayo kek, kita makan disana. Kebetulan kami juga belum makan." Ucap Adit.


Mata kakek berbinar mendengar ajakan Adit, dengan langkah tergopoh-gopoh kakek bangkit dan berjalan ke tempat makan yang berada di seberang. Adit membantu merapat kakek untuk berjalan, Adit merasa tubuh kakek bergetar hebat karena menahan lapar.


Adit memesan nasi dengan lauk ikan bakar, sebelumnya kakek berpesan agar tidak memberikan lauk ayam. Kondisi gigi kakek yang ompong, tidak memungkinkan untuk kakek mengunyah nya. Kakek makan dengan sangat lahap, Adit dan Echa tersenyum puas melihat kakek makan. Adit juga memesan kan 2 bungkus makanan serta beberapa botol minuman lagi untuk kakek bawa pulang ke rumah.


Kakek mengucapkan alhamdulillah setelah selesai menyantap makanannya, tak lupa ia juga berterima kasih atas kebaikan Echa dan Adit. Selesai makan, kakek berpamitan kepada Adit dan Echa. Kakek berencana untuk melanjutkan mencari barang rongsokan. Namun Echa menahan kepergian kakek.


"Sebentar kek, Echa mau ambil sesuatu dulu disana. Kakek tunggu sebentar disini bareng Adit ya." Pinta Echa.


Ternyata Echa berlari ke arah taman, Echa mengambil semua makanan yang tadi mereka gunakan untuk berpiknik. Tak ada satu pun yang tersisa disana, semua ia masukan ke dalam kantung belanjaan dan di berikan kepada kakek. Tak lupa ia juga menyelipkan beberapa lembar uang untuk kakek, bahkan Adit juga ikut menambahi beberapa lembar uang yang ia ambil dari dompetnya.


Kakek tersenyum senang menerima kebaikan mereka, kakek juga mendoakan kebaikan pada mereka. Bahkan kakek juga berdo'a semoga mereka berjodoh sampai ke pernikahan dan dititipkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Adit dan Echa hanya mampu mengaminkan semua do'a kakek. Keduanya mencium takzim punggung tangan kakek. Echa juga berpesan agar kakek langsung pulang ke rumah. Echa terlalu khwatir dengan keadaan kakek jika harus lanjut mencari rongsokan. Kakek pun akhirnya menuruti Echa dan segera pulang ke rumah.


"Hati-hati di jalan ya kek, salam buat orang yang ada di rumah." Ucap Echa dengan ramah.


"Iya, nak. Terima kasih banyak untuk semuanya ya nak, kalian benar-benar anak yang baik. Orang tua kalian pasti bangga dengan kalian berdua. Kakek pamit ya nak, assalamu'alaikum." Pamit kakek.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, kek." Jawab keduanya.


Adit dan Echa masih setia melihat kepergian kakek yang semakin menjauh. Kejadian hari ini benar-benar menjadi pengalaman yang berarti untuk keduanya. Tak lupa mereka panjatkan syukur atas nikmat yang masih bisa meraka rasakan sampai saat ini. Adit dan Echa merasa sangat beruntung karena tidak merasakan kelaparan. Di dalam hati, mereka bertekad akan memberikan kehidupan terbaik untuk kedua orang tua mereka kelak.


__ADS_2