Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB 6


__ADS_3

🥰🥰🥰


"Echa kamu gak aku anterin pulang? Itupun kalo kamu gak keberatan."


"Emang gak ngerepotin kakak nanti? Rumah aku jauh loh kak."


"Gak kok, kan aku yang mau anterin kamu. Jadi, aku gak akan ngerasa direpotin. Jawab Adit."


"Ehmmm... Yaudah deh kak." Senyum Echa pada adit.


Mereka berdua pun akhirnya pergi bersama menuju parkiran.


Sedangkan diseberang jalan, nampak sepasang mata sedang memperhatikan kedekatan mereka. Dia adalah Mutia, gadis yang telah lama menaruh perasaan kepada Adit namun tak pernah mendapatkan respon dari sang idola. Mutia dan Adit adalah teman masa kecil, mereka akrab dari masih duduk di bangku TK. Mutia begitu menginginkan Adit menjadi kekasihnya, tetapi tidak dengan Adit. Adit hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.


Mutia yang sedang berkumpul dengan sahabatnya merasa kesal, dia tidak suka melihat Adit akrab dengan siswi lain.


"Tia, itukan Adit? Dia lagi jalan bareng siapa? Kog keliatannya akrab banget?" Tanya Dinar teman sebangku Tia.


"Itu Echa, adik kelas kita. Dia yang kemaren duduk bareng Adit di kantin."


"Mereka kog keliatan akrab banget sih? Emang Adit udah lama kenal tuh cewek?".


" Aku gak tau dinar, dan aku gak mau tau. Yang aku tau Adit cuma boleh dekat dan akrab sama aku. Gak untuk cewek lain." Ucap Tia yang penuh emosi.


Sedangkan Adit dan Echa terlihat begitu akrab saat ini.


Setibanya di parkiran, Adit memberikan helm kepada Echa. Echa pun segera memasang pelingdung kepala tersebut.


Adit yang melihat Echa kesusahan mengaitkan pengait helmnya pun akhirnya mendekati Echa dan membantunya.


Jarak yang begitu dekat membuat kedua jantung mereka berdegup kencang. Bahkan pipi Echa pun memerah. Adit yang begitu dekat berhadapan dengan Echa terhipnotis dengan parfum yang dikenakan Echa.

__ADS_1


"Wangi parfum apa ini? Wanginya beda, seperti wangi bunga liar yang ada dihutan. Wangi ini begitu lembut, bahkan aku belum pernah mencium wangi parfum yang seperti ini." Batin Adit.


Setelah selesai membantu Echa. Echa pun mengucapkan terimakasih padanya.


Keduanya pun segera menaiki kuda besi dan mulai jalan perlahan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam.


Hingga tanpa sengaja Adit mengerem mendadak karena tiba-tiba seekor kucing melintas di depannya.


Echa yang tanpa persiapan pun akhirnya memeluk erat tubuh Adit. Seperkian detik mereka terdiam dalam posisinya.


Adit yang merasa dipeluk tiba-tiba tersenyum kecil.


"Maaf kak, aku gak sengaja." Ucap Echa malu-malu.


"Gak masalah kok Cha, emang seharusnya tuh kamu pegangan ama aku, biar kamu gak jatuh."


Bak kepiting rebus, kini wajah Echa bersemu merah.


Kepolosan dan kesederhanaan Echa begitu menarik untuk sang idola.


Echa siswi yang tak pernah mencari perhatiannya di sekolah begitu menarik perhatiannya saat ini.


Rasanya dia ingin mengenal lebih jauh lagi tentang Echa, terlebih lagi aroma tubuh yang tercium olehnya.


Begitu menenangkan dan terasa candu bagi adit.


Akhirnya mereka tiba dirumah Echa. Echa bergegas turun dari kendaraan yang dia tumpangi.


"Makasih ya kak, udah anterin aku sampai kerumah. Kakak gak mau mampir dulu?"

__ADS_1


"Iya sama-sama, boleh deh. Aku juga mau sekalian pamit sama orang tua kamu." Jawab Adit.


Echa dan Adit masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum ma... "


"Waalaikumsalam... Echa udah pulang nak?" Eh ada temen Echa, mari masuk nak.


Mama Echa yang melihat kedatangan teman Echa, langsung mem mempersilahkan Adit untuk masuk.


"Iya tante.... Terimakasih." Jawab Adit.


"Kenalin ma, ni temennya Echa. Dia kakak kelas Echa, kak Adit namanya." Ucap Echa pada mamanya.


"Apa kabar tante..?" Saya Adit tan, temen sekolah Echa. Ucap Adit sambil mencium takzim punggung tangan mama Echa.


"Alhamdulillah, kabar tante baik. Oh... Jadi nak Adit kakak kelas Echa ya?"


"Tante belum pernah loh liat temen cowok Echa datang kerumah, baru kamu temen Echa yang datang dan ketemu tante."


Echa yang mendengar penuturan mamanya pun merasa malu.


Pipinya merona seperti tomat.


Sedangkan Adit yang mendengar penuturan mama Echa merasa begitu senang dan bangga. Tidak tau kenapa, Adit merasa nyaman bisa berkenalan dengan Echa dan mamanya.


Mama Echa ternyata sosok yang begitu baik dan ramah. Beliau bahkan mengundang Adit untuk ikut makan siang. Namun, Adit tidak bisa terlalu lama berada dirumah Echa. Dia tahu, bahwa saat ini ada seorang ibu yang menantikan kepulangannya.


Adit pun segera pamit kepada Echa dan mamanya.


"Hati-hati di jalan ya nak, jangan ngebut-ngebut bawa motornya." Pesan mana Echa.

__ADS_1


"Iya tante... Adit pamit ya tan, assalamu'alaikum.. "


Selang beberapa menit Adit sampai dirumah. Namun..


__ADS_2