Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
GADIS CUPU INCARAN SANG IDOLA PART XXII


__ADS_3

Sedetik kemudian, pak Rudi memasuki kelas dengan seseorang yang yang berada di samping nya.


"Echa..... "


"Rafi..... "


Semua orang yang ada disekitar tempat itu terkejut dan membeku...


Pak Rudi menoleh, tampak gurat penasaran di wajah sang guru saat menatap Rafi dan Echa bergantian.


"Maaf Pak, saya begitu terkejut melihat keberadaan Echa disini. Echa adalah teman saya, kami bertemu di salah satu toko buku yang berada di mall terbesar di kota ini."


"Sudah lama kami tidak bertemu pak, saya sangat senang bisa berada satu sekolah dengan Echa.


Pak Rudi terlihat mengangguk setelah mendengar penjelasan Rafi.


Sedangkan Echa terlihat sumringah karena bisa bertemu dengan temannya.


Pak Rudi meminta Rafi untuk segera memperkenalkan diri di hadapan teman-teman nya.


"Hai semua... Perkenalkan nama saya Rafi Dirgantara. Biasa di panggil Rafi, saya harap teman-teman bisa menerima kehadiran saya dengan baik." Rafi memperkenalkan diri di depan kelas.


"Hai Rafi..... Salam kenal". Semua siswa menjawab dengan kompak.


" Baiklah Rafi, kamu bisa duduk disana. Pak Rudi mempersilahkan Rafi seraya menunjukkan bangku kosong di sebelah Echa.


"Baik Pak, terima kasih." Ucap Rafi.


Rafi berjalan menuju bangku yang tersedia. Dia berjalan dengan terus menatap ke arah Echa.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu cha? sudah tiga bulan kita bertemu. Aku selalu mencarimu ketidak berada di toko buku favourite kita". Rafi berucap dengan lirih.


"Kabar ku baik fi, aku juga sangat ingin bertemu denganmu. Tapi akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, itu sebabnya aku sudah lama tidak berkunjung kesana."


"Oh ya dit, bagaimana bisa kamu pindah kesekolah ini?" Echa menimpali.


"Oke, nanti akan aku ceritakan semuanya, sekarang kita sudah bertemu. Aku harap kita tidak akan terpisah lagi seperti dulu. Dan kamu berhutang untuk mengajakku keliling sekolah." Adit berucap dengan antusias kepada Echa.


"Baiklah, nanti aku akan mengajakmu berkeliling sekolah".


Kedatangan siswa baru juga menyita teman sekelas Adit, tidak sedikit siswi yang penasaran dengan wajah sangat siswa baru yang menjadi buah bibir saat ini.


" Aku dengar, siswa baru itu juga jago main basket." Ucap siswa satu.


"Aku juga dengar, kalo siswa baru itu salah satu cowok yang terpopuler di sekolah yang lama." Ucap siswa dua.


"Aduh.. Aku jadi semakin penasaran dengan siswa baru itu. Siapa tau aku bisa dekat dan berpacaran dengannya, kan aku juga ikut populer." Ucap siswi lain menimpali.


Setelah kejadian kemarin, Mutia berubah menjadi anak yang manis. Dia juga bersikap baik dengan teman-teman sekelasnya.


Perubahan Mutia juga di ikuti oleh sahabat nya.


Derap langkah kaki Adit terdengar mendekati Mutia, Adit duduk di bangku kosong di hadapan Mutia.


"Kamu tidak ikut kepo dengan siswa baru itu, Tia?" tanya Adit yang sengaja menggoda sahabatnya.


"Apakah kamu tidak mengenalku dit? sejak kapan aku terlihat kepo dengan seorang pria. Aku rasa justru sebaliknya, banyak pria yang kepo mencari tahu tentang aku."


"Aku kan gadis terpopuler di sekolah, bisa jatuh harga diriku jika aku melakukan hal konyol seperti itu." Jumawa Mutia kepada Adit.

__ADS_1


Memang benar yang dikatakan Mutia, selama ini banyak cowok yang mencari perhatian dan ingin dekat dengannya. Tapi Mutia tidak terlalu perduli dengan mereka.


Gadis populer juga melekat padanya sejak dulu. Paras yang cantik dan kepiawaiannya dalam menari menjadi daya tarik bagi kaum adam.


Adit terbahak-bahak mendengar ucapan Tia. Kamu memang tidak di ragukan untuk memuji diri sendiri,Tia. Sifat Percaya dirimu bahkan melebihi batas normal.


Aku penasaran, cowok mana yang bisa mengimbangi percaya dirimu dan meluluhkan hatimu untuk bisa dijadikan seorang pacar.


"Berhentilah mengolokku, dit. Bagaimana hubunganmu dengan Echa? Apa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu?" Tia bertanya dengan tersenyum smirk.


"Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk berbicara dengannya, Tia."


Sebenarnya aku ingin segera berbicara dengan Echa tentang perasaanku, tapi belum bisa menemukan moment yang pas untuk itu.


"Gimana sih kamu dit, lambat banget prosesnya. Mau nunggu sampai kapan? Nungguin Echa di deketin cowok lain ya!" tegas Mutia.


Wajah Adit terlihat gusar menatap Mutia. Ia tak mau jika hal tersebut benar-benar terjadi.


"Aku hanya belum menemukan waktunya Tia, jangan berdo'a yang buruk untukku dong. Harusnya kamu mendoakan yang baik-baik untuk sahabatmu." Protes Adit.


"Ini demi kebaikanmu, dit. Kan kamu juga yang merasa senang jika akhirnya Echa membalas perasaanmu. Kamu tidak akan gusar lagi dan merasa takut ada cowok lain yang ingin mendekati Echa." Omel Mutia.


"Baiklah, malam ini aku akan mengajaknya dinner." Ujar Adit.


*****


Sebelum menuju parkiran, Adit berencana menemui Echa di kelas. Adit berniat mengajak Echa untuk dinner malam ini. Sesuai dengan pembicaraan Adit dan Mutia tadi pagi, Adit akan segera mengungkapkan perasaannya.


Sebelum memasuki kelas Echa, langkah Adit terhenti melihat dia orang yang terlihat sedang asik mengobrol.

__ADS_1


Ada rasa nyeri melihat kedekatan mereka berdua, gadis itu terlihat begitu senang saat mengobrol dengan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Siapa laki-laki itu? mengapa mereka terlihat begitu akrab?" Adit bermonolog dalam hati.


__ADS_2