Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANGAT IDOLA BAB XXIV


__ADS_3

#RafiDanMutia


Rafi menoleh saat namanya di sebut.


Bukanya menjawab, Rafi justru terpaku seraya menatap tangan Adit yang menggenggam erat tangan Echa.


"Ada hubungan apa laki-laki ini dengan Echa? Kenapa dia berani menggenggam tangan Echa?" Rafi bermonolog dalam hati.


"Apa dia kekasih Echa?" Rafi bergumam.


"Rafi.. Apa yang terjadi? Ada denganmu dan kak Mutia?" Tanya Echa.


"Gadis ini, gadis ini tidak hati-hati saat berjalan. Gadis ini menabrakku cukup keras, untung saja aku tidak tersungkur akibat ulahnya." Rafi berbicara dengan tangan menunjuk ke arah Mutia.


"Eh, cowok sombong. Aku sudah bilang kan bahwa aku tidak sengaja menabrakmu. Dan aku juga sudah meminta maaf." Tegas Mutia.


"Minta maaf itu harusnya yang ikhlas donk, minta maaf tapi kok wajahnya ngeselin." Ucap Rafi.


"Kamu.. bisa gak sih kamu gak usah ngajak berantem. Bisa kan ngomong yang sopan dengan cewek? Aku tuh kurang ikhlas gimana lagi minta maaf ke kamu?" Mutia tersulut emosi mendengar perkataan Rafi.


Adit dan Echa tertegun mendengar perdebatan keduanya.


"Bagaimana ini kak?" Echa menoleh kearah Adit.


"Aku juga bingung Cha, kenapa Mutia dan Rafi bisa bertengkar seperti ini. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah bertemu apalagi saling mengenal." Jawab Adit.


Suasana permusuhan begitu terasa di antar Rafi dan Mutia. Keduanya saling menatap remeh satu sama lain.


Echa berusaha untuk meredam emosi Mutia dan Rafi. Echa berbicara lembut dengan kedua orang yang kini terlihat seperti Tom n Jerry.


"Kak Tia, Rafi. Kalian belum saling mengenal, tidak baik berbicara kasar satu sama lain. Ini semua hanya kesalahan pahaman kecil."


"Tidak baik jika terus berlanjut. Lihatlah orang-orang di sekeliling kalian, mereka melihat kalian berdua dengan tatapan aneh. Apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian di kantin?"


"Aku juga tidak ingin jika kak Tia dan Rafi harus berurusan dengan guru BP". Echa berjalan mendekati Mutia, dan berusaha membujuk.


Rafi dan Tia terlihat berfikir dengan nasehat Echa. Semua perkataan Echa memang benar, kini mereka sudah menjadi pusat perhatian di kantin. Bahkan kini mereka sedang berbisik-bisik menatap ke arah kami.

__ADS_1


"Rafi, Tia sudah jelaskan kalau dia tidak sengaja. Sebaiknya kamu memaafkan Tia." Ujar Adit yang kini hadir di tengah-tengah mereka.


Rafi dan Mutia kemudian berjabat tangan sebagai tanda saling memaafkan. Adit dan Echa pun merasa lega setelah mereka berbaikan.


Setelahnya, Echa memperkenalkan Rafi kepada Mutia.


Pov Mutia


Hari ini aku merasa tidak enak badan. Perut dan pinggangku juga terasa sakit. Seingatku, aku tidak makan aneh-aneh sejak semalam, tapi kenapa perutku terasa sakit sekali?


Untuk mengalihkan rasa sakitku, aku berniat untuk mendengarkan lagu dari ponselku dengan menggunakan earphone. Tapi, tanpa sengaja aku melihat tanggal yang tertera di gawai.


Astaga, kenapa aku bisa lupa bahwa hari ini aku kedatangan tamu bulanan.


Aku bergegas menuju kantin untuk membeli pembalut.


Aku berlari sedikit terburu-buru, dan tanpa sengaja..


Bruk... Aku menabrak seseorang yang berdiri di depanku.


Saat melihat laki-laki yang tanpa sengaja aku tabrak, aku sedikit kagum melihat parasnya.


Mata yang berwarna coklat dengan bentuk hidung yang tegak, tatanan rambut yang rapi, serta lesung pipi di bagian kiri menambah kekaguman ku.


Benar-benar pahatan sempurna yang di idamkan para wanita.


Namun, sedetik kemudian rasa kagum itu terkikis saat mendengar nada bicaranya yang terdengar angkuh.


Aku sudah berusaha untuk meminta maaf, tapi laki-laki itu masih terlihat tidak terima.


****


Weekend ini Echa ingin menghabiskan waktu di rumah, ia berencana untuk menghabiskan waktunya dengan menonton serial drama Turki di laptopnya.


Echa sedang memilah-milah serial drama Turki yang akan ia lihat. Tak hanya itu, bahkan Echa telah menyediakan beberapa cemilan untuk menemani acara nontonnya.


Setelah selesai memilah-milah, pilihan Echa jatuh pada serial yang bercerita tentang seorang CEO yang jatuh hati pada Chef pribadinya. Selain cerita yang bagus, pemeran serial tersebut juga sangat tampan dan cantik.

__ADS_1


Sementara Adit terlihat sedang bingung di dalam kamarnya. Sebenarnya malam ini Adit ingin mengajak Echa untuk pergi dinner, Adit bertekad untuk memberi tahu perasaannya kepada Echa.


"Gimana ya cara ngajak Echa? Kok aku jadi gugup gini sih?" Batin Adit.


Sebuah ide muncul di benak Adit. Adit menghubungi Mutia untuk bertanya cara mengajak Echa pergi dinner.


Adit segera menyambar ponsel yang terletak di nakas. Setelah menemukan kontak Mutia, Adit segera menghubunginya.


"Assalamu'alaikum, Mutia."


"Waalaikumsalam, Adit." Jawab Adit dari seberang telepon.


"Ehm-- Tia, bantu aku. A-ku ingin mengajak dinner Echa nanti malam, ta-pi aku bingung bagaimana cara berbicara dengan Echa." Tanya Adit sediit terbata.


Mutia tertawa mendengar suara Adit yang terbata-bata.


"Hahaha... Adit. Kamu tuh lucu ya, hanya mengajak Echa untuk dinner saja kamu segugup ini. Bagaimana nanti saat kamu menyatakan perasaanmu?"


"Berhenti menertawakanku Tia, aku butuh bantuanmu. Bukan malah mengejekku." Ucap Adit sedikit kesal.


"Oke, baiklah. Sekarang kamu hubungi Echa, dan tanya apa dia ada acara malam ini? Jika tidak, kamu bilang ke dia kalau kamu ingin mengajaknya dinner." Ucap Mutia.


"Tapi, jika Echa bertanya dalam rangka apa mengajaknya dinner aku harus bilang apa?"


"Ya kamu bilang aja ada hal yang ingin aku katakan, dan ini sangat penting". Lanjut Mutia.


"Baiklah, aku akan coba. Terima kasih atas sarannya."


"Iya, sama-sama. Ya sudah, aku tutup ya teleponnya. Aku akan segera pergi dengan ibuku. Assalamualaikum." Pamit Mutia.


"Waalaikumsalam, Tia." Jawab Adit.


Tak bisa di pungkiri aku merasa gugup saat hendak menghubungi Echa. Namun,segera ku tepikan rasa gugup dan segera menghubungi Echa.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Echa. Tertera nama Adit sedang menari-nari di layar ponsel.


Echa bergegas mengangkat panggilan telepon dari Adit.

__ADS_1


"Assalamualaikum, kak Adit." Echa memberi salam.


__ADS_2