
#Meminta izin
"Alhamdulillah, nak. Mama gak akan paksa kamu kok nak, cukup mau bertemu dan menjalin pertemanan saja mama merasa senang. Terima kasih ya anak mama yang tampan dan sholeh." Mama mendekat kearahku dan memberikan jecuoan di pipiku.
Ah, rasanya tidak salah aku menerima tawaran mama. Melihat mama yang begitu bahagia hingga mendaratkan ciuman di pipiku membuat aku merasa senang. Jika hanya bertemu dengan gadis itu bisa membuat mama sebahagia ini, harusnya sudah sejak awal aku menerima tawaran mama. Mama, sehat lah selalu, karena senyuman mama memberikan kebahagiaan untukku.
***
"Assalamu'alaikum, tante." Adit mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu rumah Echa.
Pagi ini Adit sengaja pergi sekolah lebih awal. Sesuai dengan perkataan nya kemarin, mulai hari ini Adit akan menjemput dan mengantar kan Echa.
"Waalaikumsalam." Mama Echa menjawab salam dan membuka pintu rumah.
"Adit... Kok pagi-pagi udah ada disini?" tanya mama Echa.
"Ehm.. Iya tante. Adit mau jemput Echa buat pergi sekolah bareng." Jawab Adit tersipu malu.
"Jemput Echa? Kok tumben nak? Biasanya kan Echa pergi naik ojek." tanya ibu sedikit heran.
"Ya ampun, tante sampe lupa. Ayo masuk nak Adit, sekalian sarapan bareng yuk. Echa juga lagi siap-siap, belum keluar dari kamarnya." Mama Echa mengajak Adit untuk sarapan bersama.
"Tidak usah tan, Adit nunggu disini aja." Jawab Adit sopan.
__ADS_1
"Jangan dong, dit. Masa tante biarin kamu sendirian disini, sementara tante dan keluarga sarapan. Kalau mama mu tahu, Bila-bila tante di pecat sebagai sahabatnya." Ujar mama Echa sedikit bercanda.
Adit tersenyum tipis mendengar candaan mama Echa. Walaupun hanya beberapa kali bertemu, Adit sudah merasa akrab dengan kedua orang tua Echa.
"Baiklah tan, Adit ikut sarapan dengan tante dan keluarga." Adit menjawab sedikit ragu.
Lima menit Adit menunggu Echa di meja makan, tapi belum ada tanda-tanda kemunculan Echa. Hingga akhirnya mama Echa pergi untuk menjemput Echa. Terdengar mama mulai mengetuk pintu kamar Echa.
Tok.. Tok... Tok...
"Cha, belum selesai? Nanti kesiangan loh. Di meja makan juga ada Adit nungguin kamu. Katanya hari ini kamu mau pergi sekolah bareng Adit." Ucap mama kepada anak gadis nya.
Mendengar sang mama menyebut nama Adit, Echa terlonjak kaget. Dan bergegas keluar kamar.
Ya Allah... Bagaimana bisa aku lupa kalau hari ini kak Adit akan menjemput ku. Apa tadi mama bilang? Kak Adit menunggu di meja makan? Astaga, itu tandanya kak Adit juga akan ikut sarapan bersama mama dan papa. Ya Allah... Apa yang akan aku jawab jika mama dan papa bertanya tentang aku dan kak Adit?
Sebaiknya aku berkata jujur pada orang tuaku. Lagi pula, orang tuaku juga bersahabat dengan orang tua kak Adit. Jika di sembunyikan, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Echa keluar kamar setelah merapikan semuanya.
"Selamat pagi pa, ma." Sapa Echa.
"Loh kok cuma papa dan mama aja yang di sapa. Disini kan juga ada adit." Ucap papa menggoda putrinya.
"Ehm-- pagi kak, Adit." Sapa Echa sedikit malu-malu.
__ADS_1
"Pagi juga, Cha." Jawab Adit.
"Sepertinya ada yang menyembunyikan sesuatu kepada kita ma." tanya maka yang memandang kearah mama.
Uhuk.. Uhuk...
Ucapan papa sukses membuatku terbatuk saat tengah mengunyah roti bakar yang menjadi menu sarapan pagi ini. Merasa tersentil dengan ucapan papa, aku memandang wajah papa dan mama bergantian. Sebelum aku membuka mulut untuk menjelaskan, kak Adit membuka suara terlebih dahulu.
"Maaf om, tante. Sebelumnya Adit minta maaf karena lancang menjemput Echa pagi ini. Sebenarnya om, saya dan Echa saat ini sedang dekat. Jika om dan tante tidak keberatan, saya ingin meminta izin untuk memiliki hubungan spesial dengan Echa. Tentunya hubungan yang lebih dari sekedar teman." Ucap Adit menjelaskan.
"Oh begitu rupanya, ma." Papa Echa melirik ke arah istrinya.
"Baiklah, dit. Om dan tante akan mengizinkan kalian. Tapi dengan syarat, om ingin pastikan jika sekolah dan konsentrasi belajar kalian berdua tidak terganggu. Dan yang paling penting, kalian harus bisa menjaga nama baik dan kehormatan kami paran orang tua. Baik itu orang tua Echa dan juga orang tua mu, dit." Ucap papa Echa tegas menatap putri nya dan juga Adit.
"Baik,om. Adit akan selalu ingat semua pesan om." Jawab Adit.
"Dan satu hal lagi, Adit dan Echa. Kalian harus menjaga batas, tante tidak ingin kalian melewati batasan apapun. Tante minta kamu menjaga putri tante dengan baik, dit." Ucap mama Echa menimpali.
"Baik, tan. Adit akan selalu mengingat semua pesan om dan tante. Adit akan menjaga Echa dengan baik, dan Adit akan mengantar kan Echa pulang tepat waktu tanpa ada sedikitpun yang kurang dari Echa." Jawa Adit meyakinkan kedua orang tua Echa.
Mendengar obrolan antara kedua orang tuanya dengan Adit membuat Echa terharu dengan sikap Adit. Echa terpana dengan sikap dewasa Adit. Meskipun Adit masih berusia 17 tahun, tapi sikap yang ia tunjukkan seperti lelaki dewasa yang jauh dari umurnya.
Selesai sarapan, Adit dan Echa berpamitan. Adit dan Echa mencium takzim punggung tangan kedua orang tua Echa. Melihat Echa dan Adit, mama dan papa Echa tak berhenti menyunggingkan senyum di wajah keduanya. Orang tua Echa terlihat bahagia melihat Adit dan Echa. Gadis kecil yang mereka besarkan dengan penuh kasih sayang kini telah menjelma gadis remaja yang cantik. Gadis kecil yang selalu mereka timang-timang, kini sudah memiliki teman dekat yang berlawanan jenis.
__ADS_1
Waktu yang terus berputar meninggalkan kenangan yang indah. Kenangan masa kecil Echa yang begitu melekat di hati mama dan papa Echa. Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Gadis kecil yang selalu manja itu akan mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Dan sebagai orang tua, mama dan papa Echa harus tetap menasehati, memantau, mengingatkan dan memberi bekal agar sang putri tidak melanggar norma-norma dan ajaran-ajaran yang berlaku di agama maupun di masyarakat. Mereka tidak ingin merasakan penyesalan dan kekecewaan di kemudian hari.