Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB XXVIII


__ADS_3

#Rafi dan Mutia


Dari jauh Rafi dan Mutia melihat pemandangan yang membuat iri. Echa dan Adit terlihat begitu bahagia. Mereka juga terlihat serasi sebagai seorang kekasih.


Rafi dan Mutia tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua, meskipun ada sedikit rasa nyeri yang terbesit di hati masing-masing. Tapi Rafi dan Mutia bersikap lapang dada menerima semuanya. Bagi keduanya, melihat orang yang mereka sayang tersenyum bahagia, sudah cukup memberikan kebahagiaan juga untuk keduanya.


Tidak ada seorang pun yang ingin merasakan sakit hati. Namun dengan adanya rasa sakit, kita bisa belajar untuk memaafkan dan berlapang dada. Seperti halnya dengan Rafi dan Mutia, walaupun merasakan nyeri pada hati. Rafi dan Mutia tetap berlapang dada menerima keputusan orang yang mereka sayangi.


Rafi menuju parkiran dan hendak meninggalkan sekolah. Langkahnya terhenti ketika melihat Mutia berdiri di dekat gerbang sekolah. Mutia terlihat gusar, seperti sedang menunggu seseorang. Rafi memberanikan diri untuk bertanya.


"Sedang apa kamu berdiri sendiri disini?" tanya Adit.


"Aku sedang menunggu seseorang untuk menjemputku. Seharusnya pak Rio sudah tiba dari tadi, tapi sampai sekarang pak Rio belum datang juga." Jawab Mutia sambil melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Disini sudah sepi, sebaiknya kamu segera pulang. Jika kami tidak keberatan, aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik untukmu jika berada disini sendiri." tawar ragi kepada Mutia.


Bukan tanpa alasan Rafi menawarkan diri untuk mengantarkan Mutia. Sekolah sudah terlihat sepi saat ini, dan di dekat Mutia berdiri Rafi melihat sekumpulan remaja sedang memperhatikan Mutia. Rafi takut jika remaja itu bertindak tidak baik pada Mutia. Meskipun Rafi sempat bertengkar dengan Mutia, tapi Rafi juga tidak suka jika ada orang yang ingin berniat buruk pada seorang gadis, terlebih lagi gadis itu bersekolah di tempat yang sama dengannya.


Setelah menimbang tawaran Rafi, Mutia memutuskan untuk menerima tawarannya. Mutia juga merasa takut berdiri sendirian disana.


"Jika tidak keberatan, aku akan senang hati menerima tawaran mu." Jawab Mutia.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah dengan keadaan selamat." Ucap Rafi.


Rafi mulai melajukan mobilnya dan mulai membelah jalanan. Sepanjang perjalanan keduanya terlihat diam mengunci rapat bibir mereka. Rafi dan Mutia larut dalam pikiran masing-masing. Untuk menetralkan suasan, Rafi mencoba menyalakan musik. Alunan merdu dari suara sang penyanyi sedikit membuang rasa canggung antara mereka berdua.


"Terima kasih Rafi, sudah berkenan mengantarku pulang. Jujur, aku sempat merasa takut saat berada sendiri disana." Ucap Mutia dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Aku juga tidak akan tega meninggalkanmu sendirian disana. Aku tidak sejahat itu." Jawab Rafi sedikit melirik kearah Mutia.


Mutia tersenyum menampilkan deretan giginya yang sempurna setelah mendengar jawaban Rafi. Sepertinya aku sedikit menyesal telah berfikiran buruk tentang Rafi saat pertengkaran kami tempo hari. Hari ini justru Rafi menawarkan diri untuk mengantar aku pulang. Apa aku harus meminta maaf pada Rafi? Karena jika di fikir kembali, sebenarnya memang aku yang salah karena tidak hati-hati saat itu.


Tapi bagaimana tanggapan Rafi setelah aku meminta maaf? Apa dia akan menertawakan ku? Atau dia justru akan mengejekku?


Ahh... Aku jadi bingung sendiri. Tapi, mengalah kan bukan berarti kita kalah. Sebaiknya aku harus meminta maaf, karena aku juga tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang disekitar ku.


"Mutia, ada apa? Kamu sakit? Kok tiba-tiba kamu diam dan sedikit gelisah." tanya Rafi yang saat ini sedang menatap Mutia.


"Ehm- gak kok. Aku baik-baik aja. Rafi, itu jalan menuju komplek rumahku. Rumahku berada di deretan blok A no. 3." Mutia menjelaskan pada Rafi.


"Oh yang itu ya, oke." Rafi memutar kemudi menuju alamat yang dijelaskan oleh Mutia."


Hanya menghabiskan waktu 10 menit, Rafi dan Mutia kini sampai di depan kediaman Mutia. Rafi menginjak rem dan berhenti tepat di depan rumah Mutia.


"Tidak usah Mutia, lain kali aja aku mampirnya." Jawab Rafi.


"Terima kasih Rafi, sudah mau mengantar aku pulang. Dan satu lagi, aku ingin meminta maaf untuk pertengkaran kita waktu itu. Maaf kalau kata-kata ku waktu itu terdengar kasar. Ujar Mutia.


" Sama-sama, Mutia. Aku juga minta maaf. Aku pamit ya, salam untuk kedua orang tua mu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Rafi." Jawab Mutia.


Rafi berpamitan dan bergegas meninggalkan kediaman Mutia. Sedangkan Mutia masih betah berdiri dan menyaksikan kepergian Rafi.


***

__ADS_1


"Kamu sudah pulang Rafi?" tanya ibu Rafi. Siang ini mama Rafi tidak pergi berkumpul dengan teman-temanya.


"Sudah, Ma." balas ku singkat.


"Kenapa pulang terlambat?" tanyanya lagi. Ku hela sejenak nafas ini. Karena sudah tahu kemana arah tujuan obrolan ini.


"Tadi aku mengantar teman terlebih dahulu." Jawabku tenang. Walaupun sebenarnya aku sudah merasa kesal dengan pertanyaan ini.


"Oh begitu. Bagaimana dengan tawaran mama? Apa sudah kamu fikirkan?" Ucap mama.


"Tawaran yang mana, ma?" jawabku sedikit malas.


"Mama ingin mengenalkan mu dengan anak sahabat mama. Anaknya baik, sopan dan cantik. Mama rasa kamu akan cocok berteman dengan dia." Jelas mama dengan mata berbinar.


Mama memang seperti itu, selalu saja ingin mengenalkanku kepada anak dari sahabatnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku menolak, tapi mama tidak pernah menyerah dengan niatnya. Mama pernah bilang bahwa ia ingin aku seperti anak sahabatnya itu. Yang datang ke rumah dengan membawakan teman spesial. Ah mama, aku ini sebenarnya bukan tidak laku. Hanya saja saat ini aku belum bisa melupakan perasaan ku pada Echa, gadis yang diam-diam aku sukai.


"Rafi... Kok malah bengong sih?" Ucap Ibu sedikit mengagetkan ku.


"Iya ma, Rafi gak bengong kok. Rafi cuma lagi mikir, kenapa sih mama terus-terusan mau comblangin Rafi ke anak sahabat mama itu?" Lepas juga akhirnya uneg-uneg di dalam sini.


"Mama hanya ingin melihat kamu memiliki teman special nak, kalau nungguin kamu cari sendiri kelamaan. Kamu nya aja gak pernah kemana-mana, sekalinya keluar pasti pergi bareng teman-teman kamu yang cowok."


"Mama kan pengen liat anak mama ini kencan." Ucap mama panjang lebar.


"Oke ma, Rafi mau bertemu dengan gadis itu. Tapi, Rafi gak bisa janji buat suka dengan gadis itu. Karena perasaan itu gak bisa di paksain." Jawabku pasrah menerima tawaran mama.


"Alhamdulillah, nak. Mama gak akan paksa kamu kok nak, cukup mau bertemu dan menjalin pertemanan saja mama merasa senang. Terima kasih ya anak mama yang tampan dan sholeh." Mama mendekat kearahku dan memberikan jecuoan di pipiku.

__ADS_1


Ah, rasanya tidak salah aku menerima tawaran mama. Melihat mama yang begitu bahagia hingga mendaratkan ciuman di pipiku membuat aku merasa senang. Jika hanya bertemu dengan gadis itu bisa membuat mama sebahagia ini, harusnya sudah sejak awal aku menerima tawaran mama. Mama, sehat lah selalu, karena senyuman mama memberikan kebahagiaan untukku.


__ADS_2