
Hampir seluruh wahana permainan yang ada sudah mereka coba. Banyak tiket yang diperoleh oleh mereka. Echa menarik tangan Adit untuk segera menukarkan tiket yang di peroleh. Mutia pun sama, bergegas menuju kasir untuk menukarkan tiket dengan hadiah yang ia inginkan.
Echa memilih sebuah boneka tazmania yang berukuran sedang, sedangkan Mutia memilih boneka teddy bear. Kedua gadis itu terlihat senang dengan hadiah yang di peroleh. Senyum yang mengembang di wajah keduanya menular kepada Adit dan Rafi.
Permainan Adit dan Rafi memang tidak diragukan. Tak heran jika pasangan mereka mendapatkan tiket yang banyak untuk bisa di tukarkan. Merasa lelah setelah bermain game, Rafi mengajak teman-teman nya untuk mencicipi ice cream yang berada di sudut mall. Tentu akan saja tidak ada penolakan yang terdengar dari Echa dan Mutia.
Ice cream strawberry dan vanilla menjadi pilihan para gadis. Sedangkan coklat dan vanilla menjadi pilihan sang pria. Rasa manis yang mendominasi serta kelembutan ice cream mampu mencairkan suasana. Keempat remaja itu terlihat akrab dan saling bercanda. Sesekali Rafi mencuri pandang ke arah Mutia. Untuk pertama kali nya Rafi melihat Mutia tersenyum lebar dan bahkan berkata konyol di depannya.
"Mutia terlihat seperti orang yang berbeda saat ini. Apa ini jati diri Mutia sebenarnya?" Batin Rafi.
"Kenapa aku merasa bahwa Rafi sedang memperhatikan ku? Apa mungkin ini hanya perasaanku saja?" Batin Mutia.
Jam sudah menujukkan pukul 21.00 wib, Echa berniat mengajak Adit untuk pulang. Seperti mengetahui apa yang sedang di fikirkan Echa, Adit mengajak Rafi dan Mutia untuk pulang.
"Sepertinya sudah larut malam, sebaiknya kita pulang yuk. Lagian akhir-akhir ini hampir setiap malam akan turun hujan, aku takut jika nanti Echa dan aku kehujanan."
"Mutia, kamu tadi pergi sendiri atau di antar supirmu?" Tanya Adit pada Mutia.
"Aku tadi menggunakan jasa transportasi online, dit. Gampang lah, nanti aku bisa pesan lagi." Jawab Mutia.
"Gak usah, Mutia. Biar aku aja yang antar kamu pulang, kebetulan aku tadi naik mobil sendiri." Pungkas Rafi.
__ADS_1
Adit dan Echa kompak menatap satu sama lain. Seperti memiliki pikiran yang sama, keduanya terlihat heran dekat ajakan Rafi pada Mutia. Bagaimana tidak, sebelumnya Rafi dan Mutia pernah terlibat pertengkaran. Tapi kini, Rafi dan Mutia terlihat sangat akrab. Sejak kapan mereka jadi seakrab ini?
Merasa sedang diperhatikan, Rafi membuka suara untuk menjelaskan.
"Kemarin aku dan Mutia bertemu tanpa sengaja, awalnya kami hanya ingin menemani mama kami untuk makan siang bersama. Saat tiba ditempat yang dijanjikan, kami berdua terkejut. Ternyata ibu kami berteman. Dari situ aku dan Mutia mulai akrab dan mungkin kini kami adalah seorang teman." Jelas Rafi kepada Adit dan Echa.
Adit dan Echa tersenyum senang, mereka merasa senang karena akhirnya Rafi dan Mutia kini berteman.
"Baiklah, kalau begitu aku merasa lega sekarang. Aku titip sahabat ku ya, Fi. Tolong antarkan dia ke rumah dengan selamat dan tanpa ada kurang sedikit pun." Adit berbicara dengan tegas pada Rafi.
"Siap...!" Jawab Rafi cepat.
Hari ini sekolah mengadakan acara perpisahan untuk siswa kelas XII, setiap kelas memiliki wakil untuk menunjukkan bakatnya. Pihak sekolah mengadakan acara pentas seni yang meriah. Para siswa yang memiliki bakat ikut berpartisipasi memeriahkan acara pensi. Di mulai dengan tarian, bernyanyi, drama musical, stand up comedy dan bahkan sulap. Di balik kemeriahan acara pensi hari ini, Echa terlihat murung dan sedih. Echa sedih karena ia tidak akan bertemu Adit lagi setiap hari.
"Ternyata hari ini tiba juga, kak Adit akan meninggalkan sekolah dan melanjutkan kuliah. Apa kak Adit akan ingat aku jika dia sudah menjadi mahasiswa?" Ucap Echa bergumam.
Tika dan Lia yang melihat Echa termenung segera mendekat ke arahnya.
"Woiii... Bengong aja! Ngapain sendirian disini?" Tika menepuk pundak Echa.
"Astaghfirullah, Tika. Aku kaget bangat tahu! Untung aja aku sampe jatuh." Jawab dengan tangan mengelus dada.
__ADS_1
"Lagian kamu sih, dari tadi aku liatin melamun aja. Ada apa sih? Kok sepertinya kamu sedih banget." Timpal Lia.
"Aku cuma ngerasa sedih aja, bentar lagi siswa kelas XII lulus. Itu berati aku gak bisa ngeliat kak Adit dan kak Mutia tiap hari." Jawab Echa lesu.
"Bilang aja kalau kamu bakalan kangen sama kak Adit sang pujaan hati." Ucap Lia menggoda Echa.
"Ngomong apa sih kamu, Lia?" Tanya Echa sedikit tersipu malu.
Lia tersenyum jahil, sambil mencolek dagu Echa. Dia mulai menggoda Echa.
"Ngaku aja deh cha, kita itu berteman udah lama. Kita pasti tahu lah saat kamu berbohong dan menutupi perasaan kamu." Ujar Tika
Seketika waja Echa bersemu merahmerah mendengar ucapan Tika dan Lia. Dia tidak menyangka bahwa kedua temannya benar-benar mengerti suasana hatinya. Ternyata mereka benar-benar teman yang paling memahami suasana hati Echa.
"Makasih ya udah jadi teman yang baik untuk aku, teman yang selalu ada buat aku. Dan teman yang selalu bisa memahami aku di saat apapun." Ucap Echa dengan wajah sendu. Ia begitu terharu dengan sikap Tika dan Lia.
"Sama-sama, cha. Kita akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu bahkan di saat kamu terpuruk sekalipun. Kita bukan hanya sekedar teman, cha. Kita sudah seperti saudara." Jawab Lia.
"Bener, cha. Sampai kapanpun kita akan tetap menjadi saudara, meskipun bukan dari rahim yang sama. Dan semoga persahabatan kita bisa kekal." Ucap Tika menimpali.
Rezeki bukan hanya berupa materi ataupun sejenisnya. Memiliki teman yang ada disamping kita dalam keadaan apapun adalah rezeki yang tak ternilai. Pertemanan yang baik juga bisa sebagai sumber kebahagiaan bagi beberapa orang. Untuk itu sangatlah beruntung jika bisa memiliki teman yang selalu ada disamping kita dalam keadaan apapun.
__ADS_1