
"Hari ini aku akan bertemu dengan cowok yang aku kenal dia minggu lalu melaui medsos." Ucapnya dengan sumringah.
Mendengar ucapan Lia, aku dan Tika merasa geram. Bagaimana tidak, sedari tadi kami sudah merasa khawatir dengan kabar yang akan disampaikan Lia. Tapi, justru kami harus mendengar kabar yang jauh dari kata penting.
Tika menjitak kepala Lia seteleh mendengar perkataannya. Tindakan Tika juga mewakili rasa kesalku kepada Lia.
"Kenapa sih? Kok kamu jitak kepala aku?" tanya Lia polos.
"Masih untung aku jitak, kalau bisa aku jambak tuh kepala. Biar kamu gak ngeblank." Jawab Tika sedikit emosi.
"Aku kira berita penting apa yang ingin kamu sampaikan, ternyata berita kencanmu." Kesal Tika.
"Itu kan berita penting, gimana kalau misalnya aku bakalan jadian sama cowok kaya anak seorang pengusaha. Pasti aku bakalan terkenal. Dan kalian, sebagai sahabatku pasti merasa bangga dan ikut terkenal juga." Jumawa Lia.
Hahahaha....
Aku dan Tika tertawa mendengar khayalan Lia. Lia memang orang yang gemar berkhayal memiliki suami yang tampan dan kaya. Tidak salah memang, hanya saja kami selalu merasa geli dengan semua khayalan yang ia ciptakan.
"Kok kalian tertawa sih? Bukannya mengaminkan, malah ngeledek." Sungut Lia.
"Iya, deh. Amin Ya Allah." Jawabku kompak dengan Tika.
"Gak ikhlas banget sih do'a nya." Protes Lia.
"Kami ikhlas, Lia. Ikhlas banget, masa iya sih kami gak ikhlas buat do'ain sahabat kami yang cantik ini." Ucapku pada Lia.
Perlahan Lia tersenyum dan memeluk kami dengan erat. Bagiku memiki sahabat seperti Lia dan Tika adalah sebuah rezeki besar yang sangat aku syukuri. Tidaklah mudah memiliki orang-orang yang tulus dan ikhlas seperti mereka.
Bel sekolah telah berbunyi, itu tandanya pelajaran hari ini telah berakhir. Seluruh siswa berlari meninggalkan kelas.
"Kamu jadi ketemuan dengan cowok yang kamu ceritain tadi, Lia? tanya Tika.
" Jadi dong, bisa penasaran aku kalau gak jadi ketemu." Jawab Lia.
"Emang janjian ketemu dimana?" Ucapku menimpali.
"Di cafe tempat kita biasa nongkrong. Selain aku sering kesitu, tempat itu juga ramai pengunjung. Jadi aku gak akan ngerasa khawatir." Jawab Lia.
"Bagus, itu. Jangan mau kalau di ajak ke tempat sepi." Ucap Tika.
__ADS_1
"Tenang aja, Tika. Aku ngerti kok." Ucap Lia.
Aku merasa sedikit lega setelah mengetahui tempat yang akan di kunjungin Lia, begitu juga dengan Tika. Rasanya kami tidak akan merasa khawatir jika Lia bertemu dengan kenalannya disana.
"Aku pamit duluan, ya. Sepertinya tukang ojek langganan aku udah nunggu di depan." Pamit ku pada mereka.
"Hati-hati di jalan ya, Cha." Seru mereka kompak.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Selang beberapa menit aki tiba di rumah. Segera aku berganti baju dan berniat mengisi perut yang mulai keroncongan. Di sela-sela waktu makan, ponselku berdering. Terlihat nama kak Adit menari-nari di layar ponsel.
Kuangkat panggilan video di aplikasi berlogo telepon berwarna hijau. Terlihat wajah kak Adit yang tersenyum diseberang.
"Assalamu'alaikum, sayang. Sedang apa?"
"Waalaikumsalam, kak. Lagi makan siang kak, kakak udah makan?" tanyaku.
"Sudah, kok. Tadi aku mampir di warung bu Nani. Maaf ya, semalam aku gak kasih kabar ke kamu. Kemarin jadwal kuliah aku lumayan padat, karena kelelahan aku jadi lupa kasih kabar." Sesal Adit.
"Gak apa kok, Echa ngerti." Jawabku jujur.
Perlahan aku menyuapkan makanan kedalam mulutku. Ditemani seperti ini, membuat nafsu makanku meningkat. Nasi yang ada di piring kini telah berpindah ke perutku.
"Alhamdulillah." Ucapku selesai menenggak segelas air putih.
"Sudah selesai?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah, sudah kak."
"Alhamdulillah."
Hampir sejam aku berbicara dengan kak Adit. Banyak hal yang kami bicarakan. Kak Adit menceritakan kegiatan sehari-harinya selama disana. Sesekali ia juga bilang kalau ia sangat merindukanku. Sebenarnya aku juga merasa demikian, hanya saja aku masih merasa malu untuk mengungkapkan nya.
"Udahan dulu ya teleponnya, 30 menit lagi aku ada kuliah. Gak apa kan kalau aku tutup?" tanyanya sopan.
"Gak apa, kak. Kuliah kakak kan lebih penting." Jawabku.
__ADS_1
"Makasih ya, sayang. Makasih udah pengertian."
"Sama-sama, kak. Semangat kuliahnya ya sayang." Ucapku malu-malu.
Adit terkejut mendengar ucapanku. Senyumnya mengembang sempurna saat menatapku.
"Sepertinya aku semakin tidak sabar bertemu denganmu, cha. Aku ingin mendengar langsung saat kamu memanggilku dengan kata sayang." Ujar Adit.
Ucapan Adit sukses membuat Echa tersipu malu. Kedua pipinya kini bersemu merah bak kepiting rebus. Echa tengah berpikir, bagaimana bisa ia memiliki keberanian berkata seperti itu saat Adit berada dihadapannya.
"Jangan berpikir menghindar saat aku memintanya, cha. Karena aku sungguh-sungguh ingin mendengar langsung darimu." Ucap Adit dengan sedikit penekan.
Echa tidak bisa menolak lagi dengan permintaan Adit. Satu-satunya cara, Echa hanya berharap jika nanti Adit akan lupa.
"Aku tutup ya, assalamu'alaikum." Salam Adit.
"Waalaikumsalam." Jawab Adit.
Aku beranjak ke kamar setelah membereskan piring makanku. Ku coba untuk menetralkan rasa yang berkecamukberkecamuk. Jujur saja jantung berdebar saat mendengar ucapak kak Adit, membayangkannya saja sudah seperti ini. Bagaimana jika berhadapan langsung dengannya?
"Semoga saja kak Adit akan lupa nanti." Aku bermonolog dalam hati.
Ya, dari dulu aku memang sangat sulit untuk berterus terang. Itu sebabnya aku lebih banyak berdiam diri dari pada mengekspresikan perasaanku.
Lima belas menit berlalu, aku masih termenung mengingat kembali obrolan tadi. Hingga aku tidak menyadari kehadiran mama di sampingku.
"Cha, kamu baik-baik aja kan? Kok keliatannya sedang memikirkan sesuatu. Dari tadi mama panggil kamu tapi gak ada jawaban." Berondong mama dengan nada khawatir.
"Mama, maaf ma Echa gak dengar mama panggil Echa. Echa baik-baik aja kok,ma." Jawabku.
"Beneran? Kamu gak bohong kan sama mama?"
"Gak kok, ma. Tadi tuh kak Adit telepon, dia cerita kalau semalam jadwal kuliahnya penuh. Echa tadi cuma lagi mikir, ternyata kuliah itu sangat berbeda dengan masa sekolah." Jawabku asal.
"Pasti berbeda, sayang. Karena tingkatannya sudah berada lebih tinggi. Kamu rindu ya dengan Adit, karena jadwal kuliahnya yang padat, jadi kalian tidak bisa sering telponan." Ujar mama.
"Ehm-- gak kok, ma. Echa juga gak mau ganggu konsentrasi kak Adit buat belajar." Terangku.
"Bagus kalau begitu. Sebagai orang yang spesial buatnya, kamu harus terus mensupport dia. Terus memberi semangat untuk dia menggapai cita-citanya. Bukan malah menghambatnya. Begitu juga sebaliknya." Pesan mama.
__ADS_1
"Iya, ma. Echa pasti akan selalu ingat semua pesan mama." Jawabku menanggapi pesan mama.
Setelah berpesan, mama keluar dari kamarku. Mama juga mengingatkanku untuk segera keluar kamar, karena sore ini mama ingin mengajakku pergi ke toko buku. Tentu saja dengan senang hati aku menerima ajakan mama.