
Seperti orang yang sedang memastikan sesuatu. Mata Echa menatap lurus kedepan, kedua netra Echa tertuju pada sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati santap malam di ujung rooftop. Adit juga menajamkan penglihatan nya untuk memastikan orang yang tengah duduk di sudut ruangan.
"Rafi........ "
"Mutia..... "
Adit dan Echa menyebutkan nama orang yang tengah mereka lihat. Keduanya secara spontan bertatapan muka dan mengerutkan dahi. Tak tahan dengan rasa penasaran, Adit mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Mutia.
Tut... Tut.... Terdengar suara panggilan yang terhubung kepemilik nomor. Sedang Echa masih betah memperhatikan Rafi dan Mutia. Mutia terlihat mengambil ponsel dari tas yang terletak diatas meja dan segera menerima panggilan Adit.
[Assalamu'alaikum, dit. Ada apa dit, tumben kamu nelpon, biasa nya juga chat doang. ]
[Waalaikumsalam, Tia. Gak ada apa-apa Tia, aku cuma pengen nelpon aja. By the way, kamu lagi dimana? Kok kedengeran nya rame banget. ]
[Ehm.. Aku lagi di luar dit, lagi makan di luar bareng sepupu aku. ]
[Sepupu, siapa? Bukannya kamu lagi makan bareng Rafi ya? ]
Deg... Mutia mematung mendengar ucapan Adit. Bagaimana Adit mengetahui kalau sekarang ia sedang bersama Rafi.
[Tidak usah bingung, Tia. Coba kamu liat ke kiri. ]
Dengan refleks Mutia memutar kepala kearah kiri, Mutia kaget dan menutup mulutnya. Sedangkan Adit dan Echa kini melambaikan tangan kearah Mutia. Mutia mematikan sambungan telepon dan tersenyum kikuk. Rafi heran melihat Mutia yang bersikap aneh setelah menerima telepon.
"Kami kenapa Mutia? Kok mendadak sikap kami jadi aneh gini." Tanya Rafi.
"Sepertinya kita akan segera di interogasi lagi, Rafi." Jawab Mutia.
"Hah? Interogasi, maksudnya gimana?" Pungkas Rafi.
"Coba kamu lihat kearah kanan kamu, kamu bisa lihat disana ada siapa. Dan kamu pasti langsung tahu apa maksud aku tadi." Ujar Mutia.
Rafi menuruti Mutia untuk melihat arah yang ia tuju. Rafi kaget saat melihat Adit dan Echa melambaikan tangan kearahnya. Mata Rafi melebar saat melihat mereka berada di tempat yang sama dengannya.
"Adit... Echa.... " Ucap Rafi parau.
__ADS_1
Adit dan Echa melangkah kan kaki mendekati Rafi dan Mutia. Rasa penasaran yang besar mendorong Adit untuk segera bertanya langsung kepada keduanya. Kini mereka telah duduk dalam satu meja yang sama. Rafi dan Mutia terlihat seperti penjahat yang telah tertangkap basah. Melihat raut wajah Mutia, Echa semakin penasaran dengan hubungan keduanya.
"Kok kalian bisa disni? Barengan lagi." Tanya Rafi menatap Adit.
"Harusnya yang tanya seperti itu aku, fi. Kalau aku sih kesini mau makan malam bareng keluarga ku dan Echa. Dan seperti kamu ketahui, kalau sekarang lagi menjalin hubungan dengan Echa. Lalu, kamu? Bagaimana bisa kamu dan Mutia bisa berdua disini?" Adit membalikkan pertanyaan Rafi.
"Ehm.. Sebenernya ini restauran keluarga aku. Dan aku sengaja undang Mutia buat makan malam disini. Ya hitung-hitung sebagai ucapan selamat aku untuk kelulusan mutia." Rafi menjelaskan sedikitpun gugup.
"Oh.. jadi kamu cuma ngucapin selamat buat Mutia aja nih. Buat aku enggak?" Ujar Adit.
"Iya... Jadi kamu cuma mau undang kak Mutia aja buat makan malam di restauran kamu? Aku enggak?" Echa menimpali.
Rafi terlihat kikuk dengan ucapan Adit dan Echa. Sepertinya ia memberikan jawaban yang salah.
"Eh.. Bukan gitu maksudnya. Sebenarnya.... " Ucap Rafi menggantung.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Mutia, Rafi. Aku rasa kalian lebih dari sekedar teman." Ujar Adit.
Rafi dan Mutia sontak saling menatap satu sama lain. Sebenarnya saat ini Rafi merasa nyaman dengan Mutia. Hanya saja Rafi belum bisa memastikan apakah rasa nyaman ini berarti bahwa ia mulai menyukai Mutia. Hanya saja, Rafi merasa sedih jika mengingat Mutia yang akan meninggalkan sekolah. Itu berat, Rafi tidak bisa bertemu dengannya setiap hari.
Sedangkan Mutia sendiri mulai tertarik untuk mengenal Rafi lebih dekat. Semenjak pertemuan dengan Rafi dan mamanya, Mutia merasa ada ketertarikan dengan Rafi. Tanpa mereka sadari, sebenarnya benih-benih suka itu mulai tumbuh diantara mereka berdua. Hanya saja, mereka terlalu naif untuk saling berterus terang.
"Aku lagi nanya kok malah bengong. Harusnya di jawab dong, bukan malah bengong." Lagi-lagi Adit bertanya dengan alis bertaut.
Seolah tahu apa yang aku pikirkan, Rafi berniat menjelaskan pada Adit dan Echa. Rafi menyiratkannya dengan kedipan mata. Di ikuti aku yang menganggukkan kepala.
"Sebenarnya saat ini aku dan Mutia saat ini hanya dekat sebatas teman. Untuk kedepannya, aku juga belum tahu akan seperti apa. Tapi sejujurnya, saat ini aku mulai merasa nyaman dengan Mutia. Sebelumnya aku tidak mengatakan hal ini pada Mutia."
"Namun, didepan kalian aku akan berterus terang. Saat ini aku mulai nyaman dan tertarik pada Mutia, tapi aku gak tahu apa Mutia juga seperti itu." Sahut Rafi lagi.
Mutia terlihat kaget mendengar jawabanku barusan, dari sorot matanya dapat terlihat jelas.
"Lalu, bagaimana dengan kak mutia?" Ucap Echa melirik Mutia.
"Sebenarnya.... Aku juga mulai nyaman dengan, Rafi. Tapi.... " Ucap Mutia menggantungkan.
__ADS_1
"Tapi apa?" Potong Rafi.
"Tapi aku minder dan takut kalau kamu ngerasa bosen ngobrol denganku." Ujar Mutia.
"Apa selama ini aku pernah nunjukin rasa bosan ke kamu? Aku justru seneng bisa ngobrol sama kamu. Jujur, dulu aku pikir kamu itu gadis yang sombong dan congkak. Itu karena kamu adalah gadis populer disekolah. Tapi setelah obrolan kita kemarin, aku jadi kagum. Apalagi saat kamu jelasin peran penting ibu di keluarga, aku rasa kamu benar-benar pantas menyandang gelas siswi populer di sekolah."
"Seharusnya aku yang ngerasa minder jika dekat denganmu. Apa iya aku bisa ngimbangi popularitas kamu." Sahut Rafi lagi dengan kepala menunduk.
"Sepertinya kalian salah paham dengan pikiran masing-masing. Dan disini aku bisa lihat, kalau sebenarnya Rafi dan Mutia aling menyukai. Hanya saja, kalian berdua ragu dengan perasaan masing-masing." Adit tersenyum menatap mereka bergantian.
Rafi tersentaktersentak, dan langsung mengangkat kepalanya. Pura-pura tidak memerhatikan Mutia di depanya.
"Wah, yang benar sajasaja kamu, dit. Bagaiman mungkin Mutia menyukai aku?" ucapnya ragu.
"Emang kenapa? Apa kamu tidak menyukaiku?" Sahut Mutia.
Rafi menatap Mutia dengan intens, Rafi memberanikan diri menggenggam tangan Mutia.
"Mutia, jujur aku nyaman denganmu. Aku mulai menyukaimu. Aku senang bertukar cerita dengamu. Aku senang melihatmu tertawa lepas. Aku suka melihatmu saat sedang menyebabkan rambutmu di balik telinga. Dan aku suka mencium aroma segar buah strawberry dari rambutmu saat tertiup angin." Sahut Rafi menjelaskan.
Mutia tersipu malu mendengar penuturan Rafi. Baru kali ini ada seseorang yang memperhatikan nya begitu detail, bahkan ia mengetahui aroma shampo favouritenya. Mutia benar-benar tersihir oleh tatapan mata Rafi saat menggenggam tangannya. Tatapan itu terasa hangat untuk Mutia.
Adit dan Echa menjadi saksi kisah romantis antara Rafi dan Mutia. Senang melihat keduanya bersikap terbuka untuk perasaan masing-masing.
"Ehm... "
Suara batuk Echa memutuskan tatapan Mutia dan Rafi. Lagi-lagi Rafi dan Mutia merasa malu saat ini.
"So, sekarang gimana nih kejelasannya? Sampai kapan kalian hanya akan saling menatap satu sama lain?" Celetuk Echa.
Mendapat dorong dari Echa, Rafi memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
"Mutia, apa kamu mau berpacaran denganku? Ya meskipun aku adik kelas kamu, tapi aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan. Suer." Rafi mengangkat tangannya dengan kedua jarinya yang menunjukkan angka dua.
Blush.. Pipi Mutia bersemu merah mendengat ucapan Rafi,kemudian Mutia mengangukkan kepala menyetujui permintaan Rafi.
__ADS_1
"Cie..... Pasangan baru!"
Rafi tersenyum menanggapi perkataan Adit dan Echa. Akhirnya Rafi bisa mengungkapkan perasaannya. Rafi merasa senang bisa menjalin hubungan dengan Mutia.