
"Apa yang kamu katakan pada Echa Mutia? Apa tujuanmu mengatakan itu semua pada Echa?" Geram Adit pada Mutia.
"A-aku hanya ingin dia sadar dit, bahwa gadis cupu sepertinya tidak boleh terlalu dekat denganmu. Kamu itu bintang di sekolah kita. Jika siswa lain melihat kedekatan kalian, mereka pasti akan mengolok-olok mu Dit.Aku tidak mau mereka mengolok-olokmu karena gadis cupu ini, dan aku yakin kehadirannya akan menambah masalah untukmu." Mutia berbicara dengan keras dan menunjuk ke arah Echa yang tertunduk lesu.
"Apa hak mu melakukan itu semua Tia? Siapa yang memberikan hak itu? Aku tidak pernah merasa rugi berdekatan dengan Echa." Jawab Adit dengan lantang.
"Hak....? Kita ini teman sejak kecil dit, dan aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu." Mutia berbicara dengan mata berbinar.
"Teman sejak kecil bukan berarti kamu bisa memutuskan apapun tentangku. Aku punya hak menentukan yang terbaik dan tidak untukku. Dan Echa bukanlah orang yang buruk untukku."
"Kedekatanku dengan Echa tidak akan mempengaruhi apapun. Justru aku senang, aku bahagia bisa mengenalnya.
Persetan dengan omongan orang tentangku. Aku hanya ingin hidup normal. Aku ingin berteman dan dekat dengan siapapun. Dan tentunya juga tanpa persetujuanmu." Adit berucap dengan tegas di depan Mutia dengan sedikit membentak.
__ADS_1
Mutia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Adit yang tak pernah meninggikan suaranya, justru kini membentak nya. Mutia membisu, persendiannya melemas. Buliran bening pun membanjiri pipi mulusnya.
Adit yang dia puja kini berbicara kasar di depannya. Perkataan Adit lolos membuatnya membeku.
Berbeda dengan Echa, Echa merasa tersentuh dengan perkataan Adit. Tak pernah terpikirkan oleh Echa , bahwa Adit akan membelanya di depan orang-orang.
Tapi Echa bukan lah orang yang picik, Echa juga merasa sedih melihat pertengkaran Adit dan Mutia. Echa merasa tak enak hati melihat sepasang teman masa kecil itu kini berselisih.
"Lihatlah Mutia, bahkan Echa tak sedikit pun menaruh benci padamu. Aku kecewa akan sikapmu Mutia." Adit berbicara dengan suara yang lirih.
Mutia tersenyum getir melihat Adit dan Echa. Seringai sinis kini terlihat di wajahnya cantiknya. Sedikitpun Mutia tidak percaya dengan perkataan Echa.
"Sungguh hebat pengaruhmu Echa, kamu memang gadis yang bermuka dua. Kamu berpura-pura baik di depan Adit. Berpura-pura seakan kamu perduli denganku, padahal kamu sekarang sedang tersenyum puas melihat aku dan Adit bertentangan." Mutia tersenyum dengan sinis.
__ADS_1
Adit yang tak percaya dengan ucapan Mutia membulatkan matanya. Bagaimana bisa Mutia begitu membenci Echa? Bagaimana bisa Mutia selalu berprasangka buruk kepada Echa?
"Mutia...... Kamu benar-benar kehilangan akal. Kenapa kamu sangat membenci Echa seperti ini?" Ucap Adit dengan dada yang naik turun.
Sekarang hanya ada rasa curiga yang meliputi fikiran Adit. Mengapa Mutia sangat membenci Echa? apakah ada seseorang yang sengaja mempengaruhinya?
" Mutia.. tidak semua yang kamu fikirkan itu benar. kamu belum mengenal Echa secara pribadi. Dan bagaimana bisa kamu menilai Echa seperti itu?" Adit mencoba berbicara dengan hati-hati.
"Adit, dia hanya gadis bermuka dua. Gadis cupu seperti dia hanya ingin pantas dengan ketenaranmu". Ucap Mutia dengan lantang.
" Mutia...... "
"Aku...
__ADS_1