
Setelah menyelesaikan makanannya, Adit dan Mutia kembali menuju kelasnya.
Tepat di depan perpustakaan, Adit melihat Echa yang tengah membaca buku di sudut ruangan. Adit hendak menghampirinya, tetapi dia mengurungkan niatnya karena mendengar suara bel berbunyi.
"Lebih baik aku menemuinya saat pulang sekolah." Batin Adit.
Adit melanjutkan langkahnya menuju kelas. Namun sesekali matanya mencuri pandang ke arah gadis yang tengah berada di perpustakaan.
Pelajaran telah usai, semua siswa telah beranjak dari kelas masing-masing untuk pulang ke rumah.
Adit bergegas menuju kelas Echa, mencari keberadaab Echa disana. Adit menajamkan penglihatannya, tapi Adit tak kunjung melihat Echa.
"Kak Adit lagi cari siapa?" Sapa Tika.
"Kakak lagi cari Echa nih, kok gak kelihatan ya? Echa kemana Tika?" Jawab Adit.
__ADS_1
"Oh.. Echa, Echa udah pulang kak. Tapi sebelumnya dia akan menemui kak Mutia di area belakang sekolah." Ujar Tika pada Adit.
"Menemui Mutia? Untuk apa Echa menemui mutia?" Adit terlihat panik mendengar jawaban Tika.
"Gak tau kak, tadi teman kak Mutia datang ke kelas dan memberi pesan pada Echa agar menemui kak Mutia di area belakang sekolah." Jelas Tika.
Adit yang khawatir pun segera melangkah ke area belakang sekolah. Dia takut jika Mutia akan melakukan hal yang buruk pada Echa. Adit cukup mengenal sifat teman kecilnya, dia tidak segan-segan untuk melukai seseorang jika dia sedang marah.
Saat tiba disana, Adit berjalan mengendap-endap. Adit tidak mau keberadaannya diketahui oleh Mutia dan teman-temannya. Samar-samar Adit mendengar percakapan mereka.
"Iya kak, saya Echa. Ada apa kak?" Echa bertanya pada kakak kelasnya.
"Kamu ada hubungan apa dengan Adit? Sebaiknya kamu harus menjaga sikapmu pada Adit. Kamu tahu kan Adit adalah bintang di sekolah ini?" Ucap Dinar kembali.
"Menjaga sikap? Maksud kakak?" Tanya Echa kembali.
__ADS_1
"Adit adalah bintang sekolah, apa kata siswa yang lain kalo dia dekat dengan gadis cupu seperti kamu? Kedekatan mu bisa menurunkan harga dirinya. Adit adalah teman dekatku Echa, aku rasa aku lebih pantas berada di dekatnya. Aku juga sudah lama mengenalnya. Sejak kecil, aku dan dia sudah terbiasa bersama."
"Aku tidak mau kamu berharap lebih pada Adit. Karena Adit lebih pantas untuk berdampingan dengan orang yang setara denganya." Mutia berbicara dengan lantang dan penuh penekenan.
Mendengar perkataan tersebut , Echa merasa sakit hati. Tubuhnya melemas, matanya mengembun dan nafasnya pun terasa tersendat setelah mendengar semuanya.
Echa merutuki kebodohannya selama ini. Echa tidak menyadari bahwa dirinya tidaklah sebanding dengan Adit. Adit adalah siswa idola di sekolahnya, sedang dia hanyalah gadis cupu yang tak memiliki banyak teman seperti Mutia.
Mendengar perkataan Mutia, Adit yang bersembunyi merasa geram dan mengepalkan tangannya.
Adit segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Mutia......" Adit berteriak dengan lantang ke arah Mutia dan sahabatnya.
Mendengar suara yang tidak asing bagi mereka, Mutia dan Echa berbalik badan. Melihat Adit muncul dari arah belakang, sontak membuat keduanya terlonjak kaget.
__ADS_1
Rahang yang mengeras, mata yang berwarna merah, serta pandangan yang begitu menyeramkan dari Adit membuat Mutia dan teman-temannya merasa tersudut. Mutia pun merasa takut melihat kemarahan Adit saat ini.