
#sisi biak Mutia
Waktu yang terus berputar meninggalkan kenangan yang indah. Kenangan masa kecil Echa yang begitu melekat di hati mama dan papa Echa. Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Gadis kecil yang selalu manja itu akan mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Dan sebagai orang tua, mama dan papa Echa harus tetap menasehati, memantau, mengingatkan dan memberi bekal agar sang putri tidak melanggar norma-norma dan ajaran-ajaran yang berlaku di agama maupun di masyarakat. Mereka tidak ingin merasakan penyesalan dan kekecewaan di kemudian hari.
***
"Rafi.... Buruan nak! Nanti kita telat loh." Ucap mama Rafi.
"Iya, ma. Rafi udah selesai kok. Mama buru-buru banget sih, masih jam segini juga." Ucap Rafi seraya menatap arloji yang melekat di pergelangan tangan.
"Mama kan gak mau kalau kita sampai telat, Rafi. Gak enak nanti sama temen mama." Balas mama.
Berbagai pertanyaan menyesak benak. Ingin rasanya tenang tapi tidak bisa. Pertemuan ini membuat aku sedikit gugup. Aku takut jika aku dan gadis yang akan ku temui tidak bisa akrab. Pasti kami akan merasa canggung.
Aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Apalagi aku belum pernah bertemu sebelumnya, pasti sulit untuk ku berpura-pura akrab atau terlihat ramah. Karena alesan ini juga lah yang membuat mama terus-terusan mengajakku untuk berkenalan dengan anak dari teman-temanya. Mama tidak ingin aku hanya berdiam diri di rumah.
Kami tiba di sebuah restauran yang tidak jauh dari rumah. Restauran yang cocok di kunjungi oleh keluarga. Tempat ini juga asri dan sejuk, pohon rindang yang berbaris rapi serta beberapa kolam ikan mas koi menyegarkan mata pengunjung. Aku dan mama memilih tempat lesehan yang ada di bagian sudut restauran. Kami memang lebih suka memilih tempat lesehan di bandingkan harus duduk di kursi makan.
Sebelum sahabat mama dan anaknya datang, aku memanggil pelayan untuk memesan segelas ice lemon tea. Rasanya membasahi tenggorokan dengan segelas ice lemon tea pasti cocok saat cuaca yang sedang panas. Kami memang berjanji bertemu di jam makan siang.
Baru saja hendak menenggak minumanku, sudah terlihat dua orang perempuan beda generasi mendekati meja kami. Mataku menyipit memastikan penglihatan yang ada di depan mata. Gadis yang rambutnya terurai dengan balutan dress berwarna dusty pink dan hand bag berwarna hitam itu, sepertinya aku mengenalnya. Wajahnya tidak asing bagiku, tapi apa mungkin ia gadis yang sama dengan yang ku kenal?
Kedua wanita itu kini sudah sampai di meja kami. Mama memyambut ramah kedatangan temannya. Mama mempersilahkan mereka untuk duduk, sedangkan aku menunduk berpura-pura memainkan gadget.
"Rafi, kenalin ni teman mama dan anaknya. Ini tante Rahma dan anak perempuannya." Ucap mama sembari menatap ku dan tante Rahma bergantian.
__ADS_1
Aku mengangkat kepala dan meletakkan gadget di atas meja. Bak tersambar petir di siang hari, aku berlonjak kaget melihat gadis yang berada disamping tante Rahma. Begitu juga dengan gadis itu.
"KAMU....!!! " ucap kami bersamaan dan saling menunjuk.
Mama dan tante Rahma merasa bingung dan saling pandang.
"Kalian saling kenal?" tanya mama kepada kami berdua.
"Dia murid yang baru pindah ke sekolahku, ma." Jawab anak tante Rahma, Mutia.
"Jadi, dia teman sekolah kamu Rafi?" tanya mama kepada Rafi.
"Iya, ma." jawabku cepat.
"Ya Allah... Dunia memang begitu sempit ya." Kelakar mama.
"Iya,gak nyangka kalau anakku dan anakmu ternyata sudah saling kenal dan bahkan satu sekolah." tante Rahma menimpali.
"Ayo duduk Rahma, Mutia. Ayo kita pesan makanan, perutku sudah mulai keroncongan." Pungkas mama.
Rafi memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami. Nasi putih, sup buntut, ikan bawal asam manis, cah kangkung, serta tempe goreng menjadi menu pilhan kami siang ini. Sedangkan untuk minuman nya, mama dan tante Rahma memesan es teh manis. Aku dan Mutia memesan ice lemon tea.
Masakan di restauran ini sangat pas di lidah, perpaduan bahan yang segar dan bumbu yang pas memberikan cita rasa yang nikmat. Usai santap siang, kami mulai berbincang-bincang. Aku dan Mutia lebih terlihat menjadi pendengar yang baik untuk mama dan tante Rahma. Tempat belanja yang lagi mengadakan promo, tempat makanan yang recommended, salon yang bagus, tempat belanja yang murah, rencana untuk pergi liburan bareng, bahkan gosip seputar teman mereka kami dengar semuanya. Sesekali Mutia terlihat tersenyum geli mendengar obrolan antar kedua wanita paruh baya itu.
Ternyata di balik sifat Mutia yang terkesan jutek dan sombong, Mutia memiliki senyum yang indah. Senyum yang tidak pernah terlihat sebelumya. Aku mulai bosan dengan obrolan mama dan tante Rahma. Seperti mengetahui apa yang sedang aku fikirkan, Mutia meminta izin untuk mengajakku pergi ke taman depan. Tentu dengan senang hati aku mengiyakan ajakan Mutia.
__ADS_1
Kami berjalan beriringan ke taman depan, disana ada sebuah kolam ikan yang cukup besar serta beberapa kursi taman di pinggiran kolam. Kami memilih kursi di bagian kanan kolam.
"Kamu bosan ya dengerin mamaku dan mama kamu ngobrol?" tanya Mutia membuka percakapan.
"Iya, aku bosan. Rasanya obrolan mereka gak akan pernah habis. Ada saja bahan yang mereka bicarakan." Jawabku cepat.
Ha.. Ha.. Ha..
Mutia tertawa lepas mendengar jawabanku.
"Begitulah jika para emak-emak bertemu, selalu ada saja topik yang mereka bicarakan." pungkasnya.
"Apa semua wanita seperti itu? Atau jangan-jangan kamu juga seperti itu nanti jika sudah menikah?" Ujar Rafi.
"Mungkin, karena sepertinya memang sudah menjadi kodrat wanita jika bertemu dengan temannya mereka akan ngobrol sepanjang waktu."
"Tapi Rafi, kamu tahu gak? Jika wanita ngobrol dengan temannya, itu bisa membuat mereka senang dan terhindar dari stress. Apalagi ibu rumah tangga seperti mereka. Kita sebagai anak tidak tahu kesulitan apa saja yang ibu rasakan selama kita tidak di rumah."
"Ibu memiliki tanggung jawab yang besar untuk keluarganya. Mempersiapkan makanan dan anaknya, membersihkan rumah, memastikan suami dan anaknya untuk memakai pakaian yang bersih dan wangi. Mengatur pendapatan dan pengeluaran rumah. Dan masih banyak lagi, dan semua itu ibu lakukan sendiri."
"Kami pasti gak bisa bayangin kan gimana caranya ibu bisa melakukan semua itu. Ibu pasti merasa lelah, tapi mereka tidak pernah mengeluh. Tapi, ibu hanya minta di dengat saat mereka berbicara. Karena itu bisa sedikit membuang rasa jenuh mereka."
"Makanya, aku sebisa mungkin selalu dengerin semua cerita mama. Apapun itu, aku pasti dengerin." ujar Mutia menjelaskan.
Seperti anak kecil, aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan semua perkataan Mutia. Mutia memang benar, menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Rasanya aku harus lebih bisa menghargai mama lagi setelah mendengar penjelasan Mutia. Aku kagum dengan pemikiran Mutia, ia benar-benar mengerti mamanya. Rasanya sulit di percaya, gadis cantik yang sangat populer di sekolah, bisa memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
__ADS_1