Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB XXXIII


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir seluruh siswa kelas XII berkumpul disekolah, karena hari ini para siswa akan mendengarkan pengumuman kelulusan. Seluruh siswa telah berkumpul di gedung aula sekolah sejak pagi. Tidak hanya para siswa, para orang tua pun turut hadir mendampingi putra-putri mereka. Semua orang kini merasa gugup dan khawatir dengan hasil yang akan diumumkan. Hasil yang akan di dengar sangatlah berpengaruh untuk kelanjutan pendidikan mereka.


Kepala sekolah dan para staff guru memasuki gedung, masing-masing mulai duduk di kursi yang telah di sediakan. Salah seorang staff guru mulai memberikan penyambutan kepada para orang tua siswa. Hingga saat yang di tunggu, sang guru akan mengumumkan hasil dari ujian serta hasil dari rapat dewan sekolah tentang kelulusan para siswa.


"Hari ini mungkin akan menjadi salah satu hari yang sangat menegangkan bagi siswa kami dan para orang tua siswa. Setelah berjuang selama tiga tahun, hari ini kita akan mengetahui hasil perjuangan tersebut."


"Siswa-siswi kami yang kami sayangi, para orang tua yang saya hormati. Saya selaku perwakilan dari pihak sekolah, dengan ini mengumumkan secara bangga dan bahagia. Bahwasanya semua anak didik kami dinyatakan lulus dan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih lanjut." Ucap salah satu staff sekolah.


Seluruh siswa bersorak gembira mendengar pengumuman tersebut. Para orang tua ikut merasakan kebahagiaan yang tercipta di gedung aula sekolah. Tangis bahagia menggema di seluruh aula. Tangis haru, tawa, pelukan serta jabatan tangan mewakili perasaan dari setiap orang.


Echa dan kedua sahabat juga tersenyum bahagia mendengar kelulusan kakak senior. Kebahagiaan yang akan menular kepada setiap orang yang mendengarnya.


Echa menghampiri Adit dan orang tuanya. Echa melihat Adit dan Mutia saling berpelukan dan menangis haru. Melihat pemandangan itu, Echa ikut turut merasakan haru. Tapi, tidak menampik jika Echa juga merasakan sedih. Ia merasa sedih karena setelah ini Adit akan pergi jauh untuk melanjutkan pendidikannya.


Malam itu, malam sebelum pengumuman kelulusan. Adit datang menemui Echa, Adit memberi tahu bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya di luar kota. Dan tentu saja akan sangat jarang pulang dan bertemu dengan Echa. Saat itu Echa merasa sangat sedih, tapi Echa juga tidak ingin menjadi egois dan menahan Adit untuk tetap disini. Echa tidak ingin menjadi penghalang Adit untuk mengejar cita-citanya. Adit sangat ingin menjadi seorang dokter dan bisa membuka praktek sendiri. Ia ingin memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma untuk orang yang kurang beruntung .


Echa terlonjak kaget saat merasakan seseorang menggenggam tangannya. Matanya menangkap sosok lelaki dengan senyum khasnya sedang menggenggam tangan milik Echa. Adit menaikan kedua alis seperti hendak bertanya apa yang telah terjadi. Dengan cepat Echa menggelengkan kepala dan memberikan senyum yang manis.


"Kamu kenapa, cha? Kok mukanya sendu gitu?" Tanya adit.

__ADS_1


"Gak kok kak, aku baik-baik aja. Aku tuh terharu ngeliat kakak sama kakak senior yang lainnya dan aku seneng dengar semuanya lulus." Jawab Echa dengan cepat.


"Ah yang bener, bukan karena sedih gak bisa ketemu aku lagi setiap hari disekolah?" Ucap Adit menggoda dengan alis yang naik turun.


"Dihh... Kepedean. Biasa aja kok." Jawab Echa mengelak.


"Beneran nih, kalau iya juga gak ada yang keberatan kok." Mama Adit menggoda Echa.


"Tante...." Wajah Echa bersemu merah mendengar candaan yang terlontar dari mama Adit.


"Iya sayang, ada apa?" Jawab mama tersenyum geli.


Adit dan kedua orang tuanya hanya bisa senyum saat melihat Echa yang tengah merasa malu. Echa sudah seperti anak sendiri bagi kedua orang tua Adit. Kepolosan dan kesederhanaan Echa menjadi saya tarik bagi mama dan papa Adit. Bukan hanya mama dan papa Adit, bahkan Inayah adik Adit juga senang mengenal Echa.


Pukul 19.00 wib Adit telah sampai di restauran yang diberi nama " Rafi's Restauran ". Di tempat ini keluarga Adit dan Echa akan makan malam bersama.


"Nama restauran ini sangat familiar, apa benar ini restauran milik Rafi? Atau hanya kebetulan saja namanya sama. Tapi mungkin saja restauran ini milik keluarganya, karena berita yang beredar di sekolah Rafi adalah salah satu anak dari seorang pengusaha yang sukses di kota ini." Guna Adit.


Sepuluh menit kemudian keluarga Echa datang, mereka segera duduk di kursi kosong yang telah tersedia. Adit dan Echa duduk bersebelahan, keduanya terlihat malu-malu saat ini. Orang tua Echa dan Adit sudah mengetahui hubungan mereka, bahkan mereka sangat senang serta mendukung.

__ADS_1


Adit memanggil pelayan untuk memesan menu makan malam. Adit memilih kroket daging sapi dengan saus mushroom sebagai makanan pembuka, sedangkan untuk makanan inti ia memesan steik tenderloin dengan kematangan medium. Dan sebagi penutup Adit memesan puding buah yang di lengkapi ive cream vanila dan potongan buah segar sebagai topping.


Kedua keluarga menikmati menu makan malam dengan sedikit bercengkrama. Masakan yang di pilih terasa lezat dan memuaskan lidah. Tidak salah jika banyak orang yang merekomendasikan tempat ini. Bahan yang mereka gunakan adalah bahan makanan segar, hal ini bisa dirasakan dari rasa manis dari setiap makanan yang mereka makan. Begitu fresh dan memanjakan lidah.


Selesai makan, Adit mengajak Echa pergi ke bagian rooftop restauran. Restauran ini terdiri dari dua lantai. Lantai dasar di desain untuk keluarga, sedangkan lantai atas di desain sesuai dengan gaya anak remaja. Adit menggandeng tangan Echa menaiki tangga menuju rooftop. Ia memilih kursi yang menghadap kearah luar gedung. Lampu-lampu dari berbagai bangunan menghiasi suasana malam yang sedikit mendung.


Adit menarik kursi kemudian mempersilahkan Echa untuk duduk. Keduanya tampak hening untuk beberapa saat. Adit memulai pembicaraan dengan bertanya kegiatan Echa hari ini. Echa menceritakan kegiatannya, mulai dari bangun tidur, sarapan, pergi ke sekolah sampai makan malam bersama. Tak ada satu pun yang luput dari ingatan Echa.


Adit menarik bibirnya melengkung keatas. Mendengar Echa yang bercerita dengan antusias, Adit merasa puas. Saat ini Echa terlihat seperti gadis kecil yang sedang bercerita kepada sang ayah. Echa begitu menggemaskan, Adit bahkan ingin sekali mencubit pipi chubby Echa yang sedari tadi terlihat semakin menggembung. Sadar sedang diperhatikan, Echa menutup langsung menarik tangan dan menutup wajah.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu tutupin wajah kamu?" Tanya Adit seraya menatap wajah Echa sedikit heran.


"Kakak kenapa senyum-senyum liatin aku tadi? Pasti ada sesuatu ya di wajahku, atau ada sesuatu yang nyangkut di gigiku ya?" Jawab Echa polos.


"Hahaha..."


Adit terbahak-bahak mendengar bagian akhir ucapan Echa. Bagaimana bisa Echa berpikiran konyol seperti itu. Gadis ini benar-benar lugu dan polos.


"Tuh kan, kakak aja sampai tertawa seperti itu. Aku kan jadi malu." Jawab Echa dengan suara parau.

__ADS_1


"Ya Allah, Echa. Kamu tuh bener-bener gemesin ya! Bisa-bisanya kamu mikir hal yang konyol seperti itu. Gak ada cha, gak ada sesuatu yang nyangkut atau nempel di gigi kamu. Aku tuh senyum karena aku gemes liat pipi kamu yang chubby itu. Rasanya pengen banget aku cubit tuh pipi. Udah ya, jangan di tutupin lagi wajahnya. Sekarang turunin tangan kamu, aku jadi gak bisa lihat pipi chubby kamu lagi." Ujar Adit menjelaskan.


Echa segera menurunkan tangannya dan tersenyum. Echa yang tadinya malu setengah mati, kini merasa lega dengan penjelasan Adit. Echa terlihat menajamkan penglihatannya dan sesekali mengucek mata. Seperti orang yang sedang memastikan sesuatu. Mata Echa menatap lurus kedepan, kedua netra Echa tertuju pada sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati santap malam di ujung rooftop. Adit juga menajamkan penglihatan nya untuk memastikan orang yang tengah duduk di sudut ruangan.


__ADS_2