Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA PART XVIII


__ADS_3

#perhatian Adit


"Echa-- em Echa sebenarnya hanya sedang tidak enak badan kak, beberapa hari ini dia terlihat murung. Aku rasa Echa sedang menyembunyikan sesuatu." Tandas ku lesuh. Aku terpaksa berkata yang sebenarnya tentang keadaan Echa. Lagian kak Adit akhir-akhir ini sedang dekat dengan Echa.


Aku yakin, pasti kak Adit sangat mengkhawatirkan Echa saat ini. Apalagi kejadian kemarin ada hubungannya dengan kak Adit. Aku dan Lia memang sudah mengetahui apa yang terjadi pada Echa beberapa hari yang lalu.


"Apakah Echa tidak memberitahu mu apa yang sedang dia fikirkan? Bukannya kalian bersahabat sudah lama," tutur Adit membuat aku terdiam, skak matt.


Kuakui, tebakan kak Adit sangat tepat, rupanya kak Adit sudah memahami Echa begitu baik.


"Tidak kak, sepertinya Echa belum ingin berbagi cerita kepada kami." Pungkas ku langsung menutup buku yang tengah aku baca.


Adit segera pamit setelah mengetahui alasan Echa tidak berada di kelas.


Bagaimana sekarang keadaan Echa? Apakah dia masih tertekan dan trauma dengan kejadian kemarin. Semoga hanya ketakutan ku saja. Aku yakin Echa bukanlah gadis yang lemah.


_____


Sepulang sekolah aku bergegas menuju rumah Echa, tidak lupa aku membeli parcel buah-buahan sebagai buah tangan.


"Aku akan meminta maaf pada Echa, karena aku Echa akhirnya jatuh sakit seperti ini" Adit bergumam.

__ADS_1


Sebenarnya sejak kemarin aku ingin menemui Echa. Tapi karena kesibukanku sebagai ketua OSIS, aku harus menunda niatan ku.


Beberapa menit berlalu aku tiba di kediaman Echa.


"Assalamu'alaikum," ucapku dengan sedikit berteriak. Berharap agar sang pemilik rumah segera membukakan pintu.


"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari balik pintu. Terdengar suara pintu sedang dibuka.


"Apa kabar tante?" ucap Adit setelah mencium takjim punggung tangan mama Echa.


"Alhamdulillah baik nak," jawab mama sembari menuntun Adit agar segera masuk ke rumah.


"Adit mau bertemu Echa ya nak. Sebentar tante panggilkan," ucap mama sambil beranjak menuju kamar Echa.


Echa menyambar hijab instan yang tergantung di balik pintu,kemudian keluar untuk menemui Adit.


"Kak Adit!"


Suara nyaring Echa menyadarkanku dari lamunan. Seiring dengan hentakan kaki yang terdengar mendekat.


"Bagaimana keadaanmu cha? Kamu sakit apa?

__ADS_1


Tanya yang dilontarkan kak Adit menerbitkan senyum yang terpatri di wajah ini. Sejak kapan kak Adit begitu khawatir dengan keadaanku?


"Aku hanya terlalu letih kak." Aku menjawab singkat.


"Tidak perlu khawatir kak, mungkin sebentar lagi aku akan merasa sehat kembali."


Lagi-lagi aku merasa terharu dengan sikap yang ditunjukkan kak Adit padaku.


"Aku harap seperti itu, cha. Aku masih ingin mengajakmu jalan-jalan. Kamu harus banyak makan". Adit berucap sembari memberikan buah tangan yang dia bawa.


"Terimakasih kak," ucap Echa terharu.


Tanpa pikir panjang, Adit mengupas buah jeruk dan memberikannya pada Echa. Tak hanya mengupasnya, Adit juga hendak menyuapi Echa. Sementara Echa merasa malu dengan kelakuan Adit yang begitu memanjakannya.


"Kak--" Echa berkata lembut pada Adit.


"Kakak tak perlu menyuapi Echa, biar Echa makan sendiri ya!"


Perkataan Echa menghentikan tangan Adit. Adit sadar bahwa perlakuannya terlalu berlebihan.


"Kakak gak marah kan? Echa hanya merasa tidak enak jika ada orang yang melihat." ucap Echa lirih.

__ADS_1


"Tidak cha, aku tidak marah. Aku merasa senang karena kamu telah mengingatkan ku." Adit berucap dengan lembut.


__ADS_2