
Adit yang tak percaya dengan ucapan Mutia membulatkan matanya. Bagaimana bisa Mutia begitu membenci Echa? Bagaimana bisa Mutia selalu berprasangka buruk kepada Echa?
"Mutia...... Kamu benar-benar kehilangan akal! Bagaimana bisa kamu menuduh Echa seperti itu?" cerca Adit pada Mutia.
"Kamu benar-benar berubah dit," gumam Mutia.
Mutia mengambil langkah seribu meninggalkan Adit dan Echa yang masih terdiam. Kekecewaan Mutia memuncak saat Adit tak lagi menaruh percaya.
"Lebih baik kita pulang, cha. Kamu pasti kaget dengan kejadian hari ini," ucap Adit lirih. Berharap agar Echa tidak merasa sedih.
"Baiklah kak, aku akan segera pulang dan beristirahat." Echa berucap lirih.
Sehari setelah kejadian itu, Echa terlihat murung dan sedih. Echa lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar.
Kebingungan pun terlihat jelas pada orang tua Echa, terutama sang mama.
Mama merasa ada yang sedang disembunyikan oleh anak semata wayangnya.
"Bolehkan mama masuk ke kamarmu, cha? " Mama mengetuk pintu kamar Echa.
__ADS_1
"Silahkan ma." Echa berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya.
Mama duduk di tepi ranjang Echa, dengan perlahan mama memulai pembicaraan.
"Apa kamu punya masalah nak?" Mama berbicara sambil mengelus pucuk kepala Echa.
"Kamu terlihat murung sejak kemarin, nak. Apa semua baik-baik saja?" tanya mama.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan ma, Echa hanya merasa letih saja. Echa hanya perlu istirahat." Ucap Echa lirih.
"Baiklah nak, mama berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada putri mama." Ujar mama untuk memastikan kembali keadaan anak semata wayang mama.
"Maafkan Echa ma, Echa telah berbohong." Batin Echa.
Mama pamit dan menyuruh Echa untuk segera istirahat. Echa mengangguk patuh atas perintah mama.
Adit yang masih terjaga, merasa khawatir tentang keadaan Echa. Adit merasa bersalah terhadap Echa. Mutia yang dianggap sebagai sahabat, ternyata bisa berbuat hal yang tak terduga.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Adit. Adit beranjak dan melihat nama kontak yang tertera di benda pipih miliknya. Ternyata Reza sang sahabat yang kini menghubungi, gegas Adit mengangkat telepon tersebut.
__ADS_1
"Halo Adit, kamu lagi di rumah gak? Aku dan Riyan ingin berkunjung. Ada hal yang ingin kami bicarakan tentang Mutia." Ucap Reza.
"Aku sedang di rumah, datanglah za. Aku juga ingin bercerita sesuatu tentang Mutia." Jawab Adit cepat.
Dua puluh menit setelah sambungan telepon Adit dan Reza, Reza dan Riyan pun kini telah menampakkan diri di kediaman Adit. Adit segera mengajak mereka menuju kamar.
"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Mutia, za?" Ucap Adit dengan nada tegas.
"Aku dan Riyan baru mendengar kabar dari siswa lain bahwa Mutia mengancam Echa kemarin, benarkah itu dit?" Tanya Reza penasaran.
"Benar za, Mutia melakukan itu semua bersama sahabat-sahabatnya. Dan aku berada disana saat itu." Adit berucap lirih.
"Bagaimana bisa dit? Kenapa Mutia begitu nekat?" Reza dan Riyan menatap tajam Adit.
"Entahlah za, yan. Aku juga tak habis fikir dengan Mutia." Adit merasa gusar serta mengusap wajahnya dengan kasar.
Kedua sahabat yang menyaksikan Adit ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Adit saat ini.
"Adit, apakah kamu mengetahui bahwa Mutia menyukaimu? Mutia menyayangimu lebih dari seorang sahabat." Riyan menatap Adit.
__ADS_1