Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB XXXVII


__ADS_3

Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Papa Adit memberi arahan pada pak Ujang untuk menepi di salah satu restoran yang ada di tepi jalan. Restauran ini terlihat cukup ramai pada jam makan siang seperti ini. Disini mereka menyajikan makanan bernuansa Melayu dan padang. Kedua keluarga begitu tampak menikmati hidangan yang tersaji. Bahkan Inayah meminta agar membeli lauk lebih untuk di rumah. Gurihnya santan, harum aneka rempah serta rasa pedas sangat mendominasi semua makanan begitu memanjakan lidah. Semua orang tampak puas dengan rasa masakan restauran tersebut. Selesai mengisi perut, rombongan Adit bergegas menuju rumah kontrakan yang sudah dibooking oleh papanya. Rumah kontrakan berlantai dua dengan fasilitas yang cukup mewah ini cukup aman dan nyaman. Jarak dari rumah ini juga tidak terlalu jauh dengan kampus Adit. Orang tua Adit benar-benar memikirkan yang terbaik untuk anaknya.


Di dalam kamar sudah tersedia sebuah spring bed berukuran medium, sebuah lemari untuk menyimpan baju, pendingin ruangan, satu buah televisi LED berukuran 21 inchi, lemari pendingin satu pintu, satu buah dispenser, satu buah bufet disamping tempat tidur. Kamar berukuran 7x9 cm ini terbilang mewah untuk seorang mahasiswa pemula seperti Adit, bahkan di dalam kamar Adit juga terdapat satu kamar mandi pribadi.


Sesampainya di kontrakan, Echa dan mama Adit membantu merapikan barang-barang Adit. Kedua wanita beda generasi itu terlihat kompak melakukan semuanya. Selesai berbenah, Adit mengajak Echa dan Inayah pergi ke salah satu supermarket terdekat. Adit berencana membeli perlengkapan kamar mandi, serta membeli bahan makanan sebagai persedian di kamar.


Ketiganya tampak mulai memilah-milah barang yang akan di beli, hingga akhirnya semua barang yang di butuhkan lengkap. Adit membayar semua barang belanjaan, tak lupa ia juga menyempatkan diri untuk membeli cemilan kesukaan Inayah.


Suara adzan magrib terdengar berkemundang merdu dari mesjid yang ada didekat kontrakan Adit. Gegas semua penghuni kamar bergerak untuk melaksanakan kewajiban 3 rakaat. Papa Echa bertindak sebagai imam memimpin jalannya sholat magrib, mereka mengerjakan sholat dengan khusyuk dan hikmat. Kebersamaan seperti ini adalah momentum yang sulit untuk di ulang kembali. Namun tidak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan nya.


"Mungkin selesai sholat maghrib kami akan bergegas kembali ke rumah , Dit. Karena besok papa dan papa Echa akan kembali bekerja. Sedangkan Echa dan Inayah juga harus kembali bersekolah."


"Kamu gak keberatan kan dit?" Ucap papa Adit memecahkan kesunyian.


"Tidak apa, pa. Adit juga ngerti kok." Jawab Adit cepat.


"Hati-hati disini ya, nak. Jangan tinggalkan sholat, dan jangan pulang terlarut malam." Ucap mama Adit berpesan seraya membelai rambut anak lelakinya.


"Iya, ma. Adit akan selalu mengingat pesan dan nasehat mama. Do'a kan Adit baik-baik disini ma, karena do'a mama sangat Adit butuhkan sampai kapanpun." Jawab Adit lirih.


Adit memeluk mama dengan erat, mencium pipi sang mama dengan lembut serta mencium takzim punggung tangan wanita yang melahirkannya. Ia juga mencium takzim punggung papa dan kedua orang tua Echa. Bagi Adit, orang tua juga sudah seperti orang tuanya sendiri. Buliran bening luruh di pipi mulus Echa, matanya berembun menyiratkan kesedihan.


"Jangan menangis, cha. Jika libur, aku akan segera pulang menemuimu." Ucap Adit menenangkan Echa.


"Janji ya, kak. Kakak harus jaga kesehatan, jangan makan sembarangan. Jangan tidur larut malam dan jangan lupa memberi kabar." Ucap Echa tegas penuh dengan penekanan.


"Siap, tuan putri!" Adit mengangkat tangan seolah memberi hormat pada pemimpin.


Melihat tingkah mereka berdua, semua orang tersenyum geli. Tingkah mereka mengingatkan masa muda orang tua Echa dan Adit. Cukup dengan drama percintaan Adit dan Echa, papa Adit meminta pak Ujang untuk menyalakan mesin mobil. Sedangkan mobil yang dikendarai Adit, papa ingin Adit memakainya sebagai alat transportasi.


Adit melambaikan tangan kearah mobil yang semakin terlihat menjauh.Tidak bisa dipungkiri, Adit juga merasa sepi saat semua kembali ke rumah. Untuk menghilangkan rasa sedih, Adit mencoba mengirim pesan kepada Echa. Membuka applikasi berlogo telepon berwarna hijau, Adit mulai mengirimkan chat pada Echa.

__ADS_1


[Assalamu'alaikum, tuan putri. Masih merasa sedih kah?]


[Waalaikumsalam, kak. Masih, tapi sedikit berkurang 😊]


[Jangan terlalu lama sedihnya, ya. Ntar cantiknya luntur loh!]


[Kakak... Mulai deh jailnya. 😤]


[Haha 🤣 bercanda sayang. Terima kasih ya parfumnya, parfum itu bisa sebagai obat jika aku rindu denganmu]


[Terima kasih kembali... Sayang 💕]


Membaca balasan chat terakhir Echa, seketika senyum Adit merekah. Baru kali ini Echa menyebutnya dengan panggilan sayang. Wajahnya bersemu merah bak kepiting rebus. Seandainya Echa berada disamping Adit, sudah pasti Adit akan langsung memeluknya. Adit membersihkan diri untuk segera beristirahat, perjalanan yang cukup panjang menyisakan rasa letih di tubuh Adit. Namun sebelum Adit merebahkan diri keatas kasur, ia menyempatkan diri untuk mengerjakan kewajiban empat rakaat.


Rasa kantuk mulai menyerang Echa saat ini, Echa mencoba memejamkan mata dan menyandarkan kepala di bangku penumpang. Suara nafas yang teratur menandakan sang pemilik telah tertidur lelap.


Pak Ujang menepikan mobil di depan kediaman Echa, papa Adit sengaja mengantarkan keluarga Echa terlebih dahulu. Setelahnya keluarga Adit pamit pulang ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, semua orang merasa penat dan letih. Itu sebabnya mereka bergegas menuju kamar untuk beristirahat.


"Assalamu'alaikum, cha."


"Waalaikumsalam, kak."


Echa yang masih menggunakan mukenah menjawab lembut salam Adit.


"Habis sholat, ya. Cantik banget sih tuan putri aku."


"Iya, kak. Habis selesai sholat berjamaah bareng mama dan papa. Ehm.. Mulai deh jailnya." Jawab Echa.


"Emang bener kok kalau kamu cantik. Kalau gak cantik, mana mungkin aku bisa jatuh hati denganmu." Ujar Adit seraya mengedipkan salah satu matanya.


Echa hanya bisa tersipu malu mendengar perkataan Adit. Sedangkan Adit semakin gentar untuk menggoda Echa.

__ADS_1


"Kakak Adit sudah sholat subuh?" Tanya Echa kemudian.


"Alhamdulillah, sudah cha. Selesai sholat kakak langsung hubungi kamu." Jawab Adit.


"Cha, kakak izin tutup telponnya ya. Kakak ingin jogging sebentar di sekita sini. Sekalian kakak juga mau cari sarapan, barangkali ada pedagang yang menjajakan dagangannya untuk sarapan." Ujar Adit menimpali lagi.


"Iya, kak. Echa juga mau bantu mama nyiapin sarapan." Pungkaa Echa.


"Rajin banget sih pacar aku, jadi gak sabar pengen cepat-cepat ngehalallin." Goda Adit pada Echa.


"Kakak..... "


Echa yakin sekarang pipinya bersemu merah seperti tomat. Adit benar-benar membuatnya mati kutu dengan rayuannya. Namun, Echa juga merasa candu dengan rayuan Adit. Melihat Echa yang menyembunyikan wajahnya, Adit kini justru merasa senang. Sedangkan Echa segera berpamitan untuk menghindari tatapan Adit.


"Kak Adit, sepertinya mama memanggil Echa. Echa pamit dulu ya kak... Assalamu'alaikum". Pamit Echa meyudahi panggilan telepon.


" Waalaikumsalam, cha." Sahut Adit.


Adit pergi keluar untuk melakukan jogging di sekitar kontrakan. Disana ia melihat pedagang bubur ayam yang menyandarkan gerobaknya di pinggir jalan. Adit datang menghampiri untuk sarapan pagi. Aroma kaldu dari bubur ayam Cirebon tersebut membangkitkan rasa lapar di perut Adit. Adit memesan semangkuk bubur dan segelas teh manis hangat. Menu sarapan Adit kali ini terasa pas untuk cuaca pagi yang sedikit mendung. Dengan lahap Adit menyantap bubur ayamnya, Adit bahkan melahap seluruh buburnya sampai tandas.


"Penghuni kontrakan baru ya, mas?" Tegur bapak penjual bubur.


"Iya, pak. Baru tadi malem saya nyampe disini." Jawab Adit sopan.


"Panggil mang Asep aja mas, yang lain juga seperti itu kok." Sahut mang Asep.


"Mas nya kerja atau kuliah mas?" Mas Asep menimpali.


"Saya kuliah, mang. Rencana minggu depan baru akan aktif ke kampus." Balas Adit.


"Oh, mahasiswa toh. Disini jug banyak perantau mas, kebanyakan sih masih mahasiswa seperti mas nya. Dan disini juga cukup aman kok mas, soalnya ada bapak security yang selalu patroli." Ujar mang Asep menjelaskan.

__ADS_1


Kontrakan Adit memang terlatak di dalam sebuah perumahan. Namun para pemilik sengaja membangun kontrakan untuk para mahasiswa dari perantauan. Sedangkan untuk penghuni lain di perumahan ini adalah pasangan suami istri. Kontrakan yang di tempati Adit adalah sebuah kontrakan yang dimiliki oleh seorang pengusaha properti. Kontrakan ini sengaja di desain mewah untuk para mahasiswa, hanya orang dari kalangan menengah keatas yang mampu menyewanya. Selesai sarapan, Adit kembali ke kamar. Adit ingin segera membersihkan badan yang terasa lengket.


__ADS_2