Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB 43


__ADS_3

#rindu


Selesai membersihkan diri dan melaksanakan sholat dzuhur, Echa duduk termenung di depan jendela. Pandangannya menatap kearah luar. Entah mengapa hari ini Echa merasa rindu dengan Adit, sejak semalam Adit belum memberi kabar pada Echa. Echa mengingat kembali kenangan bersama Adit di sekolah.


"Echa! Makan, nak!"


Teriakan mama menyadarkanku dari lamunan. Bayangan manis tentang Adit buyar, saat aku tersadar oleh panggilan mama.


"Iya, ma. Bentar lagi." Jawabku tanpa mengubah posisi.


"Cepat ya, nanti perut kamu bisa sakit loh!"


"Iya, ma." Lagi-lagi aku menjawabnya dengan kata iya, namun tubuh ini masih enggan untuk merubah posisi.


Selang beberapa detik suara ibu tidak terdengar lagi, hanya terdengar suara kicauan burung dari pohon yang berada di luar. Tidak ingin membuat ibu marah, akhirnya aku memutuskan keluar kamar. Berjalan menuju dapur untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.


"Ayo, makan. Lihat ini, ibu masak sayur tumis kangkung kesukaan kamu. Ibu juga masak tempe goreng tepung dan sambalado ayam." kata ini, saat aku sudah berada di ruang makan.


Sayur tumis kangkung memang makanan kesukaanku, namun suasana hati yang kurang bagus membuat nafsu makanku sedikit menurun.


"Wah, enak banget ini." Aku tersenyum lebar menutupi suasana hati yang sedikit buruk. Kuambil sedikit sayur dan aneka lauk yang tersedia di meja makan.


"Cha, kok tumben makannya sedikit banget." Ucap mama saat melihat piring yang terisi di depanku.


"Iya, ma. Mungkin karena terlalu capek, Echa jadi kurang nafsu makan." Jawabku.


"Kamu capek banget, ya?" Mama duduk di hadapanku dan ku lihat matanya menilik gerak-gerikku.


"Sedikit, ma." Aku membuang pandangan sambil menyendokkan sesuap nasi kedalam mulutku.


"Nak, kalau kamu merasa capek. Sebaiknya setelah makan kamu langsung istirahat ya. Kesehatan tubuhmu lebih penting. Jangan sampai kamu jatuh sakit." Kata mama.


"Iya, ma." Ucapku lirih memandang mama.


Aku mulai mengunyah sesuap demi sesuap makan di piringku. Sedangkan mama sibuk menata belanjaan yang ia beli tadi.


"Oh ya, Cha. Bagaimana kabar Adit? Apa dia sudah mulai aktif kuliah?" tanya mama.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, ma. Sepertinya hari ini Adit mulai kuliah ma." Jawabku jujur. Terakhir kali berkomunikasi, Adit memberitahu bahwa hari ini ia mulai aktif kuliah.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau dia baik-baik saja." Semoga dia betah disana."


Mama memang sering menanyakan kabar Adit, mama bahkan sudah menganggap Adit seperti anaknya sendiri. Mungkin karena mama hanya memiliki satu anak, jadi beliau merasa senang saat Adit mulai akrab dengan keluarga kami.


Adit memang anak yang baik, sikapnya yang sopan dan ramah membuat mama dan papa cepat akrab dengannya. Bahkan tak jarang mereka sering bersanda gurau bersama.


"Mama harap hubungan kalian baik-baik saja, cha. Meskipun nanti kalian tidak berjodoh, semoga kalian bisa terus menjaga silaturahmi." Kata ibu padaku.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan mama. Kendati bibirku tak melontarkan sepatah kata, namun hatiku berharap semoga hubunganku dengan Adit akan baik-baik saja.


"InshaAllah ya, bu. Do'a kan saja yang terbaik." Ujarku di sela-sela kunyahan.


"Seorang ibu pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk anaknya, cha."


Ucapan ibu sepenuhnya benar, semua ibu pasti berdo'a dan berharap yang terbaik untuk anak-anaknya. Meskipun terkadang ia merasa kecewa dengan sikap sang anak, tetapi sejatinya seorang ibu tak kan pernah mendo'akan keburukan.


______


"Semangat untuk hari ini, masa depan masih panjang." Batinku.


Aku keluar kamar menuju dapur, berniat membantu mama menyiapkan sarapan pagi. Saat tiba di dapur, aku melihat mama sedang menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan di olah.


"Pagi, ma." Sapaku.


"Pagi, nak. Sudah selesai sholat dan mandi?" tanya mama.


"Sudah, ma." Jawabku jujur.


"Hari ini mau masak apa untuk sarapan, ma?" Timpalku lagi.


"Mama hanya ingin memasak bihun goreng dengan topping bakso, telur, dan sosis." Jawab mama.


"Echa bantu potong bakso dan sosisnya ya, ma. Nanti biar Echa juga yang bersihkan dan potong-potong sawinya." Ujar Echa.


"Oke, biar mama siapkan bumbunya dulu."

__ADS_1


Selang satu jam, masakan sudah selesai dan terkadang diatas meja. Mama juga menyusun peralatan makan dan menyediakan susu untuk kami sarapan. Sedangkan aku kembali ke kamar untuk berganti seragam sekolah.


Beberapa menit berlalu, kami telah menyelesaikan sarapan pagi. Hari ini papa menawarkan diri untuk mengantarkan aku ke sekolah. Tentu saja aku menerima tawaran papa dengan senang hati. Selain akan lebih cepat sampai di sekolah, aku bisa meminta uang jajan tambahan kepada papa nanti. Itulah sebabnya aku merasa senang jika papa mengantarku ke sekolah.


Tepat pukul 07.00 pagi, aku sampai di sekolah. Tak ingin membuang waktu, aku segera mencium takzim punggung tangan papa, dan segera melakukan niat awalku. Meminta uang jajan tambahan pada papa. Mataku berbinar saat papa memberiku sejumlah uang, ucapan Terima kasih tak berhenti aku ucapkan pada papa.


Aku berjalan menyusuri koridor sekolah, berkali-kali aku mengulas senyum saat berpapasan dengan siswa lainnya. Hingga akhirnya aku tiba di kelas.


"Tumben kamu cepat datang, cha?" tanya Tika.


"Iya, nih. Kebetulan tadi aku dianterin papa." Jawabku.


"Oh, pantesan aja."


"Lia, mana? Belum datang ya?" aku bertanya pada Tika.


"Mungkin bentar lagi, cha." Jawabnya dengan santai.


"Oh, ya. Gimana kamu dengan kak Adit? Masih sering komunikasi kan?" Tika memutar badan kearahku.


"Baik, kok. Masih, kami masih sering berkomunikasi. Cuma semalam kak Adit tidak ada memberi kabar, mungkin sibuk atau letih. Karena semalam hari pertamanya kuliah." Ucapku santai.


"Bagus lah kalau begitu. Tidak ada yang berubah kan dengan sikap kak adit?" tanyanya lagi.


"Gak kok, Tika. Sejauh ini masih sama." Jawabku jujur.


Selang beberapa menit, Lia muncul dihadapan kami. Dengan nafas terengah-engah, Lia berdiri di depan kami. Lia memegang tangan ku dan Tika, sedangkan kami menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Ada hal yang ingin aku ceritakan." Ujarnya dengan serius.


"Iya, tapi sebaiknya kamu duduk dulu. Jangan sambil berdiri, sepertinya kamu habis lari-lari." Tika menuntun Lia untuk duduk di kursinya.


"Coba sekarang kamu bilang, ada hal penting apa yang ingin kami bicarakan. Aku dan Tika siap mendengarkanmu, Lia." Ucapku dengan tenang.


"Hari ini aku akan bertemu dengan cowok yang aku kenal dia minggu lalu melaui medsos." Ucapnya dengan sumringah.


Mendengar ucapan Lia, aku dan Tika merasa geram. Bagaimana tidak, sedari tadi kami sudah merasa khawatir dengan kabar yang akan disampaikan Lia. Tapi, justru kami harus mendengar kabar yang jauh dari kata penting.

__ADS_1


__ADS_2