Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB XXVI


__ADS_3

Echa menyimpan kembali ponselnya. Echa merasa tidak enak saat melihat raut wajah kak Adit saat ini. Wajah yang biasa menampilkan senyuman kini terlihat kusut dan tertekuk.


"Maaf ya kak, aku udah buat kakak nunggu." Ujar Echa.


Sadar kini Echa sedang merasa tak enak hati dengannya, Adit segera menerbitkan senyuman.


" Tidak perlu meminta maaf, cha. Aku hanya merasa cemburu." Jawab Adit cepat.


Ucapan Adit sukses membuat Echa tersipu malu.


"Kakak cemburu?" Tanya Echa sedikit tidak percaya.


"Benar cha, aku cemburu jika ada laki-laki lain dekat denganmu. Aku kesal jika ada laki-laki lain perhatian denganmu." Jawab Adit penuh keyakinan.


"Cemburu dan kesal, kak. Yang benar saja. Masa sih seorang kak Adit cemburu dengan seorang gadis cupu seperti aku?" Kedua alis Echa naik keatas dengan mata melebar.


"Kenapa? Ada yang salah? Terus... Aku gak boleh gitu cemburu sama cewek yang aku sukaisukai, begitu?"


Mimik wajah Echa lansung berubah ketika aku berbicara jujur padanya.


"Kalau benar begitu, aku merasa terharu dan senang kak. Bisa dekat dengan kakak saja aku sudah merasa senang dan beruntung. Apalagi saat aku tahu bahwa kakak menyukaiku."


"Sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama dengan kak Adit. Hanya saja aku malu jika bertepuk sebelah tangan". Ujar Echa sedikit malu.


Bak gayung yang bersambut, Adit pasti merasa senang mendengar kejujuran dari bibir Echa. Rasanya malam ini adalah malam yang indah untuk di kenang. Bagaimana tidak, keraguan yang selama ini begitu menghantui ternyata tidak menjadi kenyataan.


Senyum yang terpatri di wajah sepasang sejoli yang tengah bahagia tersebut tidak pernah lepas. Karena malam semakin larut, Adit memutuskan untuk meninggalkan restoran dan mengantarkan Echa pulang ke rumah.


***

__ADS_1


"Aku pamit ya, takut kemalaman. Sebelumnya, aku juga ingin berpamitan dengan om dan tante." Adit berucap sembari bangkit dari tempat duduk.


"Bentar ya kak, aku panggil mama dan papa dulu." Jawab Echa dan segera bergegas ke ruang keluarga.


Beberapa menit kemudian, orang tua Echa berjalan mendekat ke arah Adit berdiri.


"Sudah mau pulang, dit?" tanya papa Echa.


"Iya, om. Takut kemalaman nanti sampai di rumah." Jawab Adit seraya mengulurkan tangan untuk mencium takzim kedua tangan orang tua Echa.


"Hati-hati di jalan ya, dit. Tante titip salam untuk mama dan papa kamu. Maaf tante belum bisa mampir kesana, lain kali pasti tante mampir kesan." Ujar mama Echa dengan lembut.


"Iya, tan. Nanti Adit sampaikan salam tante ke mama dan papa."


"Adit pamit ya om, tan. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, nak."


"Selamat malam kekasih hati, sampai jumpa besok di sekolah." Adit berucap lirih di telinga sang kekasih.


Tanpa menunggu jawaban, Adit gegas memasuki mobil dan mulai menyalakan mesin.


Seraya memandangi adit yang terus menjauh, diam-diam Echa tersenyum. Merasakan kupu-kupu kecil yang berterbangan di hatinya.


***


Disepanjang perjalanan, wajah Adit terlihat begitu sumringah. Cuaca yang begitu cegah menambah kebahagiaan di hati lelaki itu.


Tidak jauh berbeda dengan Adit, Echa yang biasanya terlihat pendiam, kini terlihat sumringah dan ceria. Sejak kejadian semalam, Echa terlihat lebih percaya diri.

__ADS_1


"Sudah sampai, dik Echa." Ucap pengemudi ojek langganan Echa.


"Sudah sampai ya, bang. Ini ongkosnya bang." Echa menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru kepada sang pengemudi.


"Simpan saja kembaliannya bang." Pengemudi ojek terdiam bingung. Namun belum sempat ia menjawab, Echa lansung pergi memasuki gerbang sekolah. Membuat pengemudi ojek terdiam dan segera meninggalkan sekolah.


Dengan wajah yang bahagia Echa berjalan menuju kelas. Setelah berada di kelas, ia mengutak-atik ponsel sambil menunggu kedatangan kedua sahabatnya.


Awalnya Echa ingin menghubungi sahabatnya melalui sambungan telepon, namun Echa mengurungkan niatnya dan hendak pergi ke toilet. Saat berjalan menuju pintu kelas, senyuman yang mengembang kini berubah kaget.


"Kak A-dit!" Panggilannya tergagap saat melihat sosok laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. Laki-laki yang terlihat lebih tampan dari hari biasanya.


"Good morning, my love." Ucap Adit dengan mengedipkan mata ke Echa.


"Sedang apa, kak?" tanya Echa memecah segala gejolak dalam perasaannya.


"Sedang ingin melihat kekasih hati. Aku rindu dengan aroma parfum yang selalu ia kenakan."


Echa menelan ludah mendengar perkataan Adit. Bagaimana tidak, sampai saat ini Echa belum memberitahukan tentang hubungannya kepada siapapun. Echa takut jika ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Echa merasa belum siap dengan reaksi siswa lain.


"Kenapa? Ada yang salah dengan omonganku barusan?" Adit bertanya pada Echa yang terlihat gugup saat ini.


"Tidak kak, hanya saja aku... Ehm A-ku khawatir jika ada siswa lain yang mendengar pembicaraan kita kak. Aku takut jika mereka mengetahui hubungan kita, mereka akan menjauhi kakak."


"A-ku takut, apa yang dikatakan kak Mutia kemarin benar-benar terjadi dengan kakak." Echa berbicara dengan sedikit terbatas dan menundukkan kepala.


"Echa, dengerin aku. Apapun yang akan terjadi nanti denganku, itu semua tidak ada hubungannya denganmu."


"Aku yang mendekatimu terlebih dahulu, aku yang mengenal sifat dan karaktermu. Aku yang menyukaimu tanpa ada paksaan dari siapapun, dan aku juga yang meminta mu untuk menjadi kekasihku."

__ADS_1


"Jadi mereka tidak berhak memberikan komentar apapun tentang hubungan kita, oke!" Jawab Adit dengan lembut kepada Echa.


__ADS_2