Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB XXXVIII


__ADS_3

#pelajaran


Gedung sekolah itu sudah mulai ramai didatangi oleh para siswa, termasuk para guru yang hendak mengajar. Terlihat juga beberapa pedagang makanan kecil mulai menjajakan dagangannya di depan gedung sekolah.


Echa tiba di sekolah dengan tepat waktu, wajahnya mendadak sendu saat mengingat hari ini pertama kalinya ia tidak akan bertemu dengan Adit di sekolah.


"Echa", panggil Lia sahabatnya, yang seketik membuat echa menoleh. " Kak Adit udah berangkat ya, cha."


Echa menganggukan kepalanya, kemudian memeluk erat Lia. Lia membalas hangat pelukan Echa, sedikit mengelus punggung Echa. Setelahnya mereka beranjak menuju kelas.


"Kamu jangan sedih ya, kan masih ada aku dan Tuhan disini." Lia berkata lagi, setengah berbisik.


"Kalau kamu pengen cerita, jangan ragu-ragu buat hubungi kita. Atau kita bisa pergi bareng, supaya kamu gak sedih terus dan ngerasa kesepian." Tambanya lagi.


Echa tersenyum mendengar Lia yang mengkhawatirkannya.


"Sudah, jangan seperti ini. Aku gak apa-apa kok, hanya sesekali merasa rindu."


"Beneran nih, atau kamu lagi pura-pura ya?"


"Beneran, Lia. Makasi banget ya kamu udah khawatirin aku. Kalian emang sahabat terbaikku." Puji Echa.


Setibanya dikelas, bel berdering sangat nyaring. Seluruh siswa mulai memasuki kelas dengan tergesa-gesa. Echa merasa lebih baik sekarang, wajahnya sendu yang ia tampilkan kini berubah menjadi wajah ceria.


"Alhamdulillah, guru belum masuk."


Echa terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara Tika. Tika berjalan melewati Echa dengan nafas yang tersengal-sengal. Cepat-cepat ia menoleh kearah Tika.


"Kamu kenapa?" tanya, kaget melihat Tika yang terlihat ngos-ngosan saat memasuki kelas.


"Aku habis lari-larian tadi, takut terlambat. Ban motor aku tadi bocor." Jawab Tika.


"Bocor? Kok bisa?" Echa penasaran mendengarnya.


"Ban motor aku menginjak paku yang cukup besar taditadi." Tika menatap ke arah echa. "Agak sedikit aneh sih, karena disitu jalanya mulus banget. Bisa-bisanya ada paku di jalan yang seperti itu."


"Jangan mikir yang aneh-aneh, anggap aja kamu lagi apes," ucap Echa kemudian.

__ADS_1


"Iya sih, mungkin emang hari ini aku lagi apes aja." Pungkas Tika.


Guru mulai memasuki kelas, semua siswa tertib mendengarkan pelajaran yang sedang disampaikan. Pelajaran pagi ini membahas tentang reproduksi. Ibu guru mencoba menyampaikan materi secara detail, berharap para siswa bisa mengerti dengan cepat.


Disisi lain, Adit telah selesai membersihkan diri. Aroma asam kini menghilang dari tubuhnya. Hari ini Adit berencana pergi ke kampus. Ia hanya ingin sekedar mengetahui kegiatan yang ada di kampus. Namun, suara dering ponsel mengalihkannya. Tertera nama mama menari-nari di layar ponsel. Adit segera mengangkat panggilan vidoe dari mama.


"Wah, Adit. Anak mama udah ganteng dan rapi aja."


Adit tersenyum mendapatkan pujian dari mama. Mama pun menerbitkan senyum melihat penampilan Adit. Mama memang sudah tidak muda lagi, tapi kecantikan mama tidak kalah dibanding para remaja saat ini.


"Iya, ma. Adit mau ke kampus, Adit pengen liat-liat kampus dulu. Supaya nanti Adit gak kaget dan terbiasa dengan suasana kampus." Ucap Adit.


"Oh gitu. Mama kira kamu mau pergi main atau pergi cari sarapan." Jawab mama.


"Adit udah sarapan kok ma, kebetulan di depan ada yang jualan bubur ayam. Buburnya juga enak ma, jadi Adit gak bakalan susah-susah buat cari sarapan." Jelas Adit.


"Wah, alhamdulillah dong. Jadi anak mama gak akan pergi jauh buat cari sarapan." Pungkas mama.


"Iya, ma. Mang Asep juga orangnya ramah, suka cerita." Adit menimpali.


"Oh, jadi namanya mang Asep. Ya sudah nak, pergilah ke kampus. Hati-hati dijalan ya nak, dan jangan telat makan. Inget pesan mama, pilih makanan yang sehat. Jangan makanan junkfood." Pesan mama kepada Adit.


"Mama tutup ya, nak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, ma."


Adit kini mulai membelah jalanan kota, Adit mengendarai mobil dengan perlahan. Selain untuk keselamatan, Adit juga ingin menikmati pemandangan setiap sudut kota. Hanya butuh waktu 20menit untuk tiba di kampus, Adit segera memarkirkan mobil. Adit berjalan menyusuri setiap lorong kampus, tujuannya saat ini hanya untuk berkeliling. Selesai menjajaki kampus, Adit segera pergi meninggalkan kampus. Adit ingin makan siang disalah satu tempat makan dekat kampus. Matanya tertuju pada sebuah warung kecil yang terlihat cukup sepi. Adit menepikan mobil dan segera turun.


Diwarung sepi ini, ada dua orang wanita paruh baya yang tengah menunggu kedatangan pelanggan. Satu memakai hijab instan, sedangkan yang satu lagi memakai penutup kepala seperti songkok.


"Mau makan apa mas? Mau dibungkus atau makan disini?" Ucap Ibu dengan hijab instan setelah melihat kedatanganku.


"Saya mau makan disini saja, bu. Saya makan dengan lauk ayam semur, tempe orek, tumis labu siam dan telur balado bu." Ucapku sambil menunjuk kearah etalase.


"Baik, mas. Tunggu sebentar ya, biar saya siapin dulu." Ucapnya terlihat senang.


Ibu mulai memindahkan aneka lauk keatas piring kaca, dengan terampil tangannya menyusun lauk tersebut dengan rapi.

__ADS_1


"Ini mas pesanannya. Minumnya mau dibuatin apa mas?" Ucapnya lagi.


"Es teh manis aja, bu." Jawab ku kemudian.


Aku mulai melahap makanan yang dihidangkan. Makanan ini cukup enak di lidahku, rasanya juga tidak terlalu manis ataupun asin. Dengan lahap aku menyantap menu yang aku pesan. Dalam benak aku bertanya, kenapa warung ini terlihat sepi? Padahal makanan yang disajikan tidak lah buruk.


Seluruh makanan telah tandas kedalam perutperut. Aku begitu menikmati makan siang hari ini. Tiba-tiba aku berfikir untuk membungkus beberapa lauk untuk makan malam. Karena aku juga tidak berniat keluar malam ini.


"Bu, kira-kira lauknya bisa gak kalau buat nanti malam? Kebetulan saya ngekost bu, jadi mau di bungkus buat makan malam." Tanya Adit.


"Bisa, mas. Nanti ibu pisahin bungkusnya, jadi bisa awet buat malem. Kami juga masaknya sampai tanak mas, jadi gak takut basi kalau buat malam." Ibu menjelaskan dengan ramah. "Mau pake lauk apa mas?


" Saya di bungkusin sambalado ikan, tahu dan tempe goreng, dan buat sayurnya saya mau sayur asem aja buk." Ucap Adit.


"Baik, mas. Saya siapin dulu." Jawab ibu.


Ibu membungkus semua pesanan ku, ibu juga memberikan aku bonus kerupuk. Katanya biar makannya makin enak, dan balik lagi kesini. Tentu saja aku menerima dengan senang hati.


"Nenek yang duduk disana itu orang tua ibu ya?" Tanya Adit seraya menunjuk kearah wanita bersongkok di belakang ibu pemilik warung.


"Oh si mbah? Dia mertua saya, mas. Sudah mulai pikun. Orang tua saya sudah lama meninggal sejak saya kecil." Jawab ibu.


"Maaf ya, bu. Saya jadi buat ibu sedih. Kalau suami ibu kerja dimana?" Adit menimpali.


"Suami saya sudah meninggal dia tahun yang lalu, mas. Beliau kecelakaan, dan pernikahan kami tidak dikaruniai anak. Jadi sekarang saya tinggal berdua sama si mbah." Ucap Ibu dengan wajah sendu.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, maaf in saya ya buk. Saya bener-bener minta maaf." Sesal Adit.


"Gak apa-apa mas, sudah takdir yang kuasa. Kita hanya sebagai manusia hanya tinggal menjalani." Ibu tersenyum kearah Adit.


"MashaAllah, tegar banget ya ibu. Ibu benar-benar kuat dan hebat." Ucap Adit kagum.


"Ah... Si mas ini bisa saja." Ibu tersenyum malu. "Sebenernya saya membuka usaha ini dari santunan suami saya mas, saya berfikir bagaimana caranya agar saya bisa kerja tanpa melalaikan mertua saya. Jadi saya putuskan untuk membuka warung."


"Ibu benar-benar wanita hebat, bu. Ibu bahkan merawat mertua ibu dengan kasih sayang. Padahal bisa saja ibu memberikan mertua ibu k panti jompo, apalagi suami ibu juga udah gak ada. Tapi ibu beda, ibu merawatnya dengan ikhlas." Ujar Adit.


"Sya tidak sampi hati, mas. Bagaimana pun mertua saya sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri, beliau juga dulu baik sama saya. Bagaimana bisa saya membalas semua kebaikannya dengan menelantarkannua." Ibu berucap dengan mata berkaca-kaca. "Di dunia ini saya tidak memiliki siapa-siapa lagi mas, saya hanya punya ibu mertua saya.

__ADS_1


Adit begitu tersentuh mendengar penuturan sang ibu, mungkin tidak muda untuk perempuan diluar sana jika berada di posisi sang ibu. Namun, kasih sayangnya serta ketulusannya mampu menjalani semua hari-harinya yang sulit. Sungguh menjadi sebuah pelajaran yang besar untuk Adit. Sebagai seorang anak laki-laki Adit tentu ingin kelak bisa mendapatkan istri seperti sang ibu, yang juga bisa menyayangi mertua seperti ibu kandungnya.


__ADS_2