Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB XXXVI


__ADS_3

#syukuran


Secepat inikah waktu berlalu, hingga tanpa sadar esok aku akan pergi untuk melanjutkan pendidikanku. Rasanya berat untuk meninggalkan keluarga dan orang-orang yang aku sayang, tapi kepergianku juga tidak bisa aku batalkan. Tekadku untuk menjadi seorang dokter dan memberikan pelayanan terbaik untuk orang-orang yang tidak mampu harus aku gapai. Banyak orang yang tidak beruntung untuk melanjutkan kuliah, tapi aku harus bersyukur karena aku bisa berkuliah di tempat yang banyak orang idamkan.


Sejak pagi mama sibuk berkutik di dapur bersama tante amel, echa dan bibi. Iya, mama kembali meminta bantuan tante Amel untuk mempersiapkan beberapa hidangan sore ini. Aku dan mama berencana mengadakan jamuan untuk para anak yatim,ustadz,serta kerabat, teman-teman dan tetangga sekitar, jamuan ini sebagai ucapan syukur atas kelulusanku serta sekaligus sebagai perpisahan ku dengan yang lainnya. Aku berharap, semakin banyak yang datang, semakin banyak kebaikan yang mereka do'a kan untukku.


Sejak tadi aku asyik memperhatika echa yang sedang mengolah anekan cemilan dan cake. Ia tampak tekun dan teliti mengerjakan semua sendiri. Echa memang gemar membuat aneka cake serta jajanan pasar. Mungkin bakat itu ia dapatkan dari tante Amel yang telah piawai dalam dunia kuliner. Tak jarang sesekali aku menjahili Echa yang sibuk menghiasi cake. Seketika Echa berdecak kesal dan memperlihatkan wajah yang masam. Lucu sekali dia, bahkan saat sedang kesal pun ia terlihat menggemaskan.


Acara akan dilaksanakan setelah ashar. Sebelum para tamu mulai berdatangan, aku dan papa membantu pak Ujang untuk merapikan tempat yang akan digunakan. Aku mulai menyusun rapi beberapa kursi serta meja. Sedangkan di bagian luar, mama telah menyewa jasa E. O dari salah satu kenalan mama. Mama juga meminta tolong kepada para remaja mesjid untuk membantu bibi mengatur hidangan. Dan pastinya mama akan memberikan hadiah untuk mereka. Makanan yang telah matang dihias sedemikian rupa diatas meja. Ada rendang daging,ayam goreng kalasan, sayur capcay, balado keripik kentang, dan sayur sop yang masih hangat serta kerupuk udang sebagai pelengkap. Sedangkan untuk menu lainnya, mama juga menyediakan aneka dimsum, bakso urat, serabi, aneka cake dan jajanan pasar dan tak lupa mama juga menyediakan es buah.


Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, di susul dengan teman-teman, para tetangga dan juga kerabat. Tampak papa sedang menyambut kedatangan ustadz yang datang bersama para anak yatim, dengan sopan aku mengantarkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Untuk mendengarkan tausyiah dari ustadz, kami duduk di atas karpet yang ada di ruang tamu. Tausiah kali ini bertemakan tentang rasa syukur dan kewajiban sebagai seorang muslim. Ustadz menjelaskan pentingnya rasa syukur atas segala nikmat yang telah kita dapat, serta seberapa taat kita dalam mengerjakan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Tema ini memang sangat sederhana, tapi tidak sedikit diantara kita yang melalaikan.


Ustadz menutup tausiah dengan do'a bersama. Setelahnya, kami berbagi sedikit rezeki dengan para anak yatim-piatu. Para tamu mulai mencicipi aneka hidangan yang tersedia, kebahagiaan terpancar jelas di wajah adik-adik yang kurang beruntung. Aku memandangi wajah mereka satu persatu, wajah yang tengah bahagia menikmati hidangan yang disuguhkan. Beberapa kali mereka terlihat tertawa dan saling menjahili. Derap langkah kaki mendekat kearah tempatku berdiri, sedetik kemudian Echa berdiri disampingku.


"Aku perhatikan kakak dari tadi senyum-senyum sendiri? Bagi-bagi donk kalau lagi bahagia, jangan disimpen sendiri." Tanya Echa sambil melirik kearah Adit.


"Mau tahu banget atau mau tahu aja? Kasih tahu gak ya?" Jawab Adit sambil meneruskan jari telunjuknya ke dagu.


Echa menekuk wajah menanggapi ucapan Adit. Bibirnya manyun sekolah memberi tanda bahwa ia merasa kesal dengan jawaban Adit.


"Astaghfirullah, gemesin banget wajahnya. Awas loh ya, bisa nanti aku tarik tuh bibir. Terus pipi kamu juga aku tarik dua-duanya." Ucap Adit yang hendak mencubit pipi Echa.


Refleks Echa menjauh dan memegangi kedua pipinya. Ia benar-benar takut jika Adit sampai mencubit pipi chubby miliknya. Sontak saja Adit terbahak-bahak melihat Echa yang mundur ketakukan.

__ADS_1


"Jahat banget ih kakak, gimana kalau pipi aku merah terus bengkak? Kan gak lucu kak." Ujar Echa menahan kesal.


"Gak mungkin dong sayang, aku juga gak akan tega liat kamu seperti itu. Kalau pun iya aku cubit pipi kamu, pasti juga gak bakalan sampai merah apalagi bengkak. Bila-bila aku di omelin habis-habisan sama tante Amel." Pungkas Adit.


"Aku seneng lihat adik-adik itu tertawa dan makan dengan lahap." Timpal Adit seraya menunjuk ke arah anak-anak yatim-piatu di depannya.


"Seneng ya kak bisa liat mereka begitu, alhamdulillah kita masih bisa berbagi dan melihat mereka tersenyum bahagia." Ucap Echa tulus.


"Bener, cha. Mereka juga menjadi salah satu alasanku untuk menempuh dunia medis. Aku ingin memberikan pelayanan medis secara cuma-cuma pada orang-orang yang kurang beruntung. Dan semoga itu bisa terwujud." Ucap Adit lagi.


"Aamiin Ya Allah. Semoga Allah menjaga do'a dan niat baik kakak." Echa mengaminkan do'a Adit.


"Terima kasih, cha. Aku juga butuh support dari kamu, kamu mau kan untuk selalu support aku?"


Teman-teman Adit mulai berdatangan menghampiri Adit, Rafi dan Mutia juga tampak di antara mereka. Sedangkan Lia dan Tika berjalan menyusul keduanya. Adit dan Echa menyambut dengan sumringah kedatangan mereka. Segera mempersilahkan mereka untuk mulai mencicipi aneka hidangan yang telah disediakan. Suka cita, canda tawa terasa pecah malam itu, semua orang merasa bahagia. Beberapa orang mulai berbisik melihat Rafi dan Mutia yang terlihat intens dan mesra. Hingga akhirnya, Rafi membuka suara dan menjelaskan hubungan mereka. Riuh tepuk tangan terdengar nyaring, semua memberi ucapan selamat pada Rafi dan Mutia.


Beberapa tetangga serta kerabat juga asik dengan obrolan masing-masing, hari ini semua orang berkumpul bersama dan berlomba menebarkan senyum. Namun di tengah-tengah keriuhan disana, ada seorang gadis yang terlihat murung. Gadis itu tidak lain adalah Echa, Echa merasa sedih untuk menghadapi hari esok. Esok, Adit akan pergi meninggalkan semua orang yang ia sayangi disini.


Seperti tahu apa yang sedang Echa pikirkan, tiba-tiba Adit mengenggam tangan Echa dengan erat. Seolah memberikan sedikit aliran semangat untuk gadis yang ia anggap special.


"Jangan seperti ini, cha. Aku merasa sedih jika kamu seperti ini, kamu tahu kan jika aku bisa terpengaruh dengan mudah. Aku bisa saja dengan tiba-tiba membatalkan kepergianku." Ucap Adit dengan lirih.


Echa segera mengganti ekspresi wajahnya, dengan tegar Echa memperlihatkan wajah bahagia. Echa tidak ingin menjadi penghalang Adit.

__ADS_1


"Maafkan aku, kak. Maaf telah merusak suasana hati kakak." Echa menyesali kesalahannya.


Echa mengambil sesuatu dari sling bag yang ia kenakan. Sebuah kotak berwarna navy dan dihiasi pita berwarba gold.


"Simpan ini bersama kakak, semoga suatu saat ini bisa membantu kakak." Echa menyodorkan box ke tangan Adit.


Adit menerima box pemberian Echa dan segera membukanya. Mata Adit berbinar melihat isi dalam box itu, 2 botol kaca yang berisi cairan pekat berwarna bening. Dengan perlahan Adit membuka botol lalu mengendus cairan di dalamnya. Adit tak percaya dengan apa yang ia dapat, Adit menoleh kearah Echa dan tersenyum lebar.


Botol itu berisi cairan parfum yang Echa buat sendiri, parfum yang selalu Echa kenakan selama ini. Parfum yang mampu memikat hati Adit. Adit memeluk Echa dengan erat. Adit meneteskan air mata dipelukan Echa, perhatian kecil Echa sangat berarti untuknya.


"Aku akan menjaganya dengan baik, cha. Terima kasih." Adit menggenggam tangan Echa dan menciumnya.


Merasa diperlakukan sangat spesial, Echa menangis haru. Mata Echa bahkan terlihat memerah dan sembab saat ini. Untuk saja ia bukan lah gadis yang gemar memakai make up berlebihan, jika tidak mungkin kali ini wajah Echa telah di penuhi dengan mascara yang luntur.


Matahari mulai tergelincir kearah barat, satu persatu para tamu mulai berpamitan pulang. Teman-teman Adit dan Echa juga mulai berpamitan. Sekarang tinggal keluarga Adit dan Echa yang berkumpul di meja makan. Sedangkan bibi serta yang lainnya sedang merapikan tempat acara.


"Besok kami akan mengantarkan Adit ke kota sebelah, apa kalian berniat ikut?" Tanya papa Adit kepada orang tua Echa.


"Boleh saja, bro. Lagian besok kami tidak ada rencana berpergian." Jawab papa Echa.


Diam-diam Adit dan Echa tersenyum puas mendengar obrolan keduanya. Setidaknya masih ada hari esok untuk mereka bertemu terakhir kalinya.


****

__ADS_1


Pukul 09.00 pagi keluarga Echa telah sampai di kediaman Adit. Orang tua Adit sengaja mengambil waktu pagi hari untuk menghindari kemacetan. Orang tua Adit dan Echa berada di mobil yang sama, sedangkan Adit dan Echa mengendarai mobil tersendiri dengan Inayah. Kedua mobil berjalan beriringan, Adit dan pak Ujang berkendara dengan santai.


__ADS_2