Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA BAB XXVII


__ADS_3

"Aku yang mendekatimu terlebih dahulu, aku yang mengenal sifat dan karaktermu. Aku yang menyukaimu tanpa ada paksaan dari siapapun, dan aku juga yang meminta mu untuk menjadi kekasihku."


"Jadi mereka tidak berhak memberikan komentar atau berpendapat apapun tentang hubungan kita, oke!" Jawab Adit dengan lembut kepada Echa.


"Kamu cantik cha, kamu spesial dimata dan hati aku. Jadi please, jangan merendahkan dirimu di depan orang lain." Ucap Adit meyakinkan.


Jawaban Adit seperti cambuk untuk Echa. Echa merasa, bahwa ia harus lebih percaya diri lagi. Tidak perlu terlalu mendengar pendapat orang tentang dirinya.


"Terima kasih, kak. Terima kasih sudah hadir dan memberikan semangat baru untuk aku." Balas Echa.


Ketika hendak memasuki kelas, Rafi melihat Echa dan Adit sedang berbicara di depan kelas. Rafi yang penasaran segera berjalan mendekati keduanya. Namun nampaknya dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Rafi.


Bel tanda jam pelajaran akan di mulai berbunyi tepat saat Rafi sudah mendekati kelas. Rafi melihat Adit berpamitan pada Echa menuju kelas.


"Ah sial, aku kalah cepat. Coba aja aku lebih cepat nyampe kelas, pasti aku bisa tahu apa yang sedang mereka bicarakan." Monolog Rafi dalam hati.


Tika dan Lia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan sahabat mereka, Echa. Sejak pagi, keduanya melihat Echa begitu berbeda. Echa terlihat sumringah bahkan saat mata pelajaran fisika berlangsung. Guru mata pelajaran fisika adalah salah guru yang disematkan sebagai guru killer oleh anak didiknya.


Biasanya, Echa juga merasa lesu jika sang guru killer mulai memasuki kelas. Tapi tidak untuk hari ini, Echa terlihat sumringah dan ceria saat pelajaran berlangsung hingga usai.


Tidak mau membuang waktu dan semakin penasaran, saat bel istirahat berbunyi Tika dan Lia menghampiri Echa dan menatap secara intens.


"Apa ada berita baik yang sudah kami lewatkan? Kenapa saat pelajaran fisika tadi kamu terlihat sumringah terus, cha?" Ucap Tika.


"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari kami, cha? Apa kamu sudah tidak menganggap kami sebagi sahabat?" Lanjut Lia.


Bukannya menjawab, Echa malah mencubit gemas kedua pipi sahabatnya dan tersenyum jail.


"Bagaimana bisa kau melupakan sahabatku yang imut dan cantik seperti ini. Aku akan menceritakan semua kepada kalian di kantin. Saat ini perutku benar-benar lapar, kita ke kantin yuk!" Ajak Echa.


Tika dan Lia mengangguk pasrah dan beranjak menuju kantin sekolah.

__ADS_1


Selesai dengan pesanan masing-masing. Lia kembali membuka suara untuk menagih janji Echa. Echa yang sudah faham dengan jiwa kepo sahabatnya, mulai menceritakan kejadian semalam bersama Adit.


"Semalam kak Adit mengajak aku untuk pergi dinner di salah satu restoran di kota ini. Saat di restoran, kak Adit juga mengungkapkan perasaannya padaku."


"Kak Adit menyukaiku, dan menjadikan aku sebagai kekasihnya." Ucap Echa menjelaskan.


"Apa?"...


Kedua mata Tika dan Lia melebar mendengar penuturan Echa. Seperti seorang bocah yang mendapatkan balon, keduanya berloncat-loncat kegirangan tanpa perduli orang-orang di sekitar kantin. Tentu saja tingkah mereka menjadi bahan gunjingan untuk siswa lain.


"Sumpah demi apapun aku ikut bahagia, Cha. Aku senang akhirnya kamu dan kak Adit bisa bersama." Ujar Lia.


"Bener, cha. Kami seneng banget liat kamu seceria sekarang." Lanjut Tika.


Tiba-tiba Rafi datang dan duduk di sebalah Echa.


"Wah, pada happy banget hari ini. Ada yang lagi ulang tahun ya?" Tebak Rafi.


"Pasti happy donk, fi. Kamu tahu gak, Echa dan kak Adit semalam pergi dinner. Dan kak Adit nembak Echa malem itu, sekarang mereka resmi pacaran." Jawab Tika antusias.


Bagai petir di siang bolong, Rafi terkejut dan terdiam. Rafi yang diam-diam menyukai Echa terlihat lesu dan lemas. Bayangan Rafi untuk bersama dengan Echa perlahan hilang dari pelupuk mata.


Sedih, kesal, kecewa tampaknya sangat pas menggambarkan suasana hati Rafi saat ini. Namun Rafi bersikap gentle, di depan Echa Rafi berusaha tersenyum dan memberikan selamat serta mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Semoga kamu bahagia dengan Adit cha, aku akan menjadi orang pertama yang berada di depan, jika Adit melukaimu.


Senyuman kebahagiaan tak berhenti mengembang di wajah Echa. Seperti yang orang katakan, kebahagiaan terasa berlipat-lipat jika sedang kasmaran.


***


Para siswa merapikan peralatan sekolah ke dalam tas masing-masing. Jam pelajaran yang telah usai menandakan bahwa para siswa akan meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Tika, Lia dan Echa pun berjalan keluar kelas. Hari ini mereka sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing. Pelajaran hari ini cukup menguras tenaga ketiganya.


Sesampainya di gerbang, Echa melihat Adit tengan berdiri disamping kuda besi yang ia miliki dan tersenyum kearahnya. Seperti tanda dengan kode yang diberikan Adit, Tika dan Lia berpamitan kepada Echa.


"Eh cha, kita pulang duluan ya. Tika kamu bareng aku aja, nanti aku anterin kamu." Ucap Lia.


"Ehm, iya deh. Nanti aku telpon adik aku supaya gak usah jemput aku." Balas Tika.


"Kita duluan ya, cha. Assalamu'alaikum." Keduanya berpamitan dan melambaikan tangan ke arah Echa.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya kalian." Balas Echa.


Adit mendekati Echa yang tengah berdiri dan melambaikan tangan kearah Tika dan Lia.


"Mau pulang atau tetap berdiri disini?" Ucap Adit mengagetkan Echa."


"Kak Adit, kagetin ih! Mau pulang kak, ini juga mau ke depan nunggu ojek." Jawab Echa yang belum peka dengan maksud Adit.


"Ojek? Aku udah lama loh nunggu kamu disini. Masa kamu mau pulang bareng cowok lain?"


"Kamu buat aku cemburu gitu?"


"Eh, gak gitu kak. Kan biasanya aku pergi dan pulang sekolah bareng tukang ojek. Tukang ojek loh ya."


"Itu kan biasanya, sekarang beda dong. Kamu udah jadi kekasih nya Adit. Mulai sekarang aku bakal anter dan jemput kamu. Gak boleh ada penolakan."


"Aku gak mau kamu pergi boncengan dengan cowok lain. Titik." Ucap Adit memberi sedikit penekanan pada perkataannya.


"Iya deh pak kekasih. Tapi kak Adit harus minta izin dulu sama papa dan mama Echa." Jawab Echa.


"Siap buk kekasih!" Balas Adit

__ADS_1


Dari jauh Rafi dan Mutia melihat pemandangan yang membuat iri. Echa dan Adit terlihat begitu bahagia. Mereka juga terlihat serasi sebagai seorang kekasih.


Rafi dan Mutia tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua, meskipun ada sedikit rasa nyeri yang terbesit di hati masing-masing. Tapi Rafi dan Mutia bersikap lapang dada menerima semuanya. Bagi keduanya, melihat orang yang mereka sayang tersenyum bahagia, sudah cukup memberikan kebahagiaan juga untuk keduanya.


__ADS_2