Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
SI CUPU INCARAN SANG IDOLA PART XIX


__ADS_3

Aku senang melihat Echa kembali tersenyum, senyuman khas miliknya terlihat sangat ikhlas.


"Terima kasih Kak, telah datang menjenguk ku," ucap Echa dengan lembut.


"Sama-sama cha. Aku juga ingin meminta maaf sama kamu Cha. Karena kejadian kemarin, sekarang kamu jatuh sakit!" Adit berucap lirih.


"Bagaimana keadaan kak Mutia kak?" Echa bertanya seraya menatap Adit dengan lekat.


"Setelah kejadian itu, aku tidak pernah berbicara dengannya cha. Aku sangat kecewa dengan sikapnya."


"Aku belum bisa memaafkan tindakan yang dia lakukan sama kamu, rasanya aku benar-benar tidak percaya jika Mutia bisa berbuat nekat seperti itu." Ujar Adit kepada Echa.


"Jangan seperti itu kak, kak Mutia adalah sahabat kecil kakak. Kakak harus bisa memaafkan dan berteman seperti dulu lagi."


"Aku yakin kak, kak Mutia pasti tidak sengaja berkata kasar seperti kemarin."


Adit terlihat bingung dengan permintaan Echa. Echa terus berusaha membujuk Adit agar memaafkan Mutia. Biarlah kusimpan dalam-dalam sakit hati yang kurasakan akibat perkataan kak Mutia. Asalkan kak Adit dan kak Mutia bisa berteman seperti dulu lagi.


"Baiklah cha, aku akan berusaha memaafkannya."

__ADS_1


"Kamu memang baik cha, semudah itu kamu memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain." Adit bergumam.


Andai Mutia melihat sisi kebaikan Echa, mungkin Mutia akan merasa malu karena telah berbuat kasar. Kelembutan hati Echa ini yang membuatku menaruh hati padanya. Echa adalah seorang gadis berhati tulus.


Tutur kata yang lembut memberi nilai plus dalam dirinya.


"Echa... " aku berbicara pelan, terima kasih telah hadir. Terima kasih telah berkenan berbicara dan menerima kehadiranku."


"Kak Adit..." Echa melihatku dengan mata berkaca-kaca.


Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan mata. Mencoba menelisik jauh ke dalam mata masing-masing.


Tepat ketika Adit akan berbicara, mama Echa datang di tengah-tengah mereka. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda itu mengajak Adit dan Echa untuk bersantap siang.


"Mari kak..." Echa mempersilahkan Adit untuk duduk di salah satu kursi yang kosong.


***


Mutia terlihat sedang berjalan mondar-mandir dan gelisah di dalam kamar. Sudah beberapa hari peristiwa kemarin berlalu, peristiwa yang membuat Adit marah dan berkata kasar.

__ADS_1


Mutia ingin menghubungi Adit, tapi niat itu harus di urungkan karena takut Adit tidak akan mau memaafkannya.


Sekarang bahkan Mutia enggan untuk menyapa Adit saat di sekolah.


Jujur saja Mutia merasa tidak percaya bahwa Adit bisa bersikap kasar seperti kemarin.


Sudah sedari kecil Mutia berteman dengan Adit, tapi pernah sekali pun Mutia melihat Adit berkata kasar.


Sebenarnya kelebihan apa yang dimiliki si gadis cupu,hingga membuat Adit begitu marah?


Tak lama ia pun menghela nafas dalam, kemudian bangkit setelah sebelumnya membasahi kerongkongan yang terasa kering.


Selang 30 menit, ponsel Mutia berdring nyaring. Terlihat nama Adit menari-nari di layar ponsel pintar itu.


Tak menunggu lama Mutia segera menggeser tombol terima.


"Assalamu'alaikum,Mutia." Sapa Adit dari seberang.


"Waalaikumsalam, dit." Jawab Mutia.

__ADS_1


"Mutia, bisakah kita bertemu sekarang? ada hal yang ingin ku bicarakan."


"Ehm- baiklah dit, kita bisa bertemu di taman biasa 20 menit lagi."


__ADS_2