Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB 41


__ADS_3

#TanganSpecial


Echa dan Inayah masih betah berlama-lama mengobrol. Bahkan saat sampai di kediaman Echa, Inayah enggan untuk berpisah dengan Echa.


"Kak Echa gak mau ikutan pulang ke rumah aku?" Ucapnya sendu menatap Echa.


"Maaf ya, sayang. Hari ini kakak gak bisa, tapi lain kali kakak janji akan ikut pulang bareng kamu." Echa berucap seraya mentoel hidung Inayah.


"Janji, ya." Inayah mengulurkan jari kelingking kearah Echa.


Dengan sigap Echa menautkan kelingkingnya ke kelingking Inayah, seperti seseorang yang membuat kesepakatan.


Mama Adit dan mama Echa tersenyum melihat kedua putri mereka. Kedekatan mereka tidak lebih seperti layaknya seorang kakak dan adik. Tentu saja sesuatu yang sangat diharapkan kedua wanita tersebut.


"Aku pamit ya, Mel. InshaAllah kita ketemu lagi secepatnya." Pamit mama Adit pada Echa.


"Iya, Hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai." Ucap mama Echa.


Mama Adit berpelukan dengan sahabatnya, tak lupa ia juga berpelukan dengan Echa. Inayah pun mencium takzim punggung tangan mama Echa dan Echa. Kemudian mereka bergegas pulang ke rumah.


***


Sesuai dengan janji kemarin, Adit pergi menemui temannya. Sebelumnya Adit telah memastikan keberadaan temannya, Dito. Dan ternyata Dito sedang berada di dekat kampus Adit. Ia pun segera menuju kampus untuk menjemput Dito.


Dari kejauhan Adit melihat seorang pemuda yang tengah berdiri di bawah pohon rindang. Pemuda itu memakai kemeja berwarna navy, celana jeans berwarna senada. Dan sebuah tas ransel yang ia junjung di belakang. Adit yang mengenali perawakan pemuda itu segera menepikan mobilnya, lalu membuka kaca samping mobil bagian depan.


"Dito...." panggil Adit dari dalam mobil.

__ADS_1


"Kamu, Dit?" ucap Dito memastikan seseorang yang berada di balik kemudi.


"Iya,ini aku. Adit." Jawab Adit.


Adit pun keluar dan berjalan menuju kearah Dito. Dito dengan refleks memeluk Adit.


"Akhirnya ketemu kamu juga. Kamu udah makan Dito?" Tanya Adit.


"Kebetulan belum, dit." Jawab Dito.


Saat ini mereka tengah berdiri tidak jauh dari warung bu Nani, dengan semangat Adit mengajak Dito untuk pergi makan malam disana.


"Aku punya tempat makan yang recommended buat kamu, Dito. Warungnya memang terlihat sederhana, tapi masakannya tidak kalah dengan masakan ibu kita di rumah. Dan satu lagi, harganya juga sangat terjangkau untuk mahasiswa seperti kita." Ujar Adit.


"Wah.. Hebat kamu, dit. Baru beberapa hari disini, tapi udah ketemu aja harta karun yang tersimpan." Ucap Dito lagi.


"Siapa dulu donk, Adit. Jumawa Adit.


" Assalamu'alaikum, bu Nani." Sapa Adit.


"Waalaikumsalam." Bu Nani menoleh kearah sumber suara.


"Masih ada kan bu makanannya?"


"Eh mas Adit, ada mas. Masih ada kok. Tapi tidak selengkap tadi pagi, alhamdulillah warung ibu hari ini banyak pengunjung mas." Jawabnya cepat.


"Alhamdulillah ya, bu. Ada lauk apa bu yang tersisa?" tanya Adit.

__ADS_1


"Ada sambalado telur, patin asam pedas, lele dan ayam goreng, sama tahu tempe mas. Kalau sayurnya hanya ada sayur lodeh dan tumis kangkung mas." Jelas ibu Nani.


"Aku mau pake ayam goreng, tempe goreng, dan tumis kangkung aja bu. Jangan lupa tambahin sambelnya." Ucap Adit seraya menunjuk satu demi satu menu yang ia sebutkan.


"Kami mau makan dengan lauk apa, Dito?" timpal Adit menatap temannya.


"Kalau aku pake sambalado telur, sayur lodeh, tempe goreng dan juga sambel ya, bu." Ucap Dito sopan pada ibu Nani.


"Baik, mas. Mas nya duduk dulu, biar saya buatkan pesanannya. Kalau minumnya mau apa mas?" tanya ibu lagi.


"Es teh manis bu." Jawab keduanya kompak.


Ibu menyajikan kedua piring yang berisi lauk dan sayur sesuai pesanan Adit dan Dito. Dengan segera, keduanya mulai menyantap makanan yang telah terhidang. Saat gigitan pertama, Dito mulai mengangguk-anggukan kepalanya, sesekali terdengar suara kunyahan dari mulutnya.


"Ehmm... Enak.." Dito terlihat seperti vlogger makanan yang sedang mereview. "Rasanya enak, dit. Benar-benar seperti makanan di rumah."


"Benar kan yang aku bilang, soal makanan aku tak kan pernah berbohong. Masakan ibu Nani memang memiliki ciri makanan khas ibu-ibu di rumah." Ujar Adit.


"Juara emang kamu, dit." Puji Dito.


Makanan yang terlihat penuh di piring, kini telah berpindah tempat ke perut Adit dan Dito. Bahkan mereka sampai merasa begah. Untuk itu, Adit tidak langsung meninggalkan warung. Mereka lebih memilih istirahat di warung sederhana bu Nani.


"Bu, kita izin duduk disini dulu ya. Mau pulang tapi perut kami berasa begah. Rasanya sangat rugi jika harus meninggalkan makanan seenak itu." Ujar Dito.


"Ah... Mas nya bisa aja. Semua biasa aja kok mas, gak ada bumbu yang spesial." Jawab bu Nani.


"Sepertinya tangan ibu yang sangat special, special karena bisa mengolah semua makanan ini menjadi enak dan lezat." Ucap Dito.

__ADS_1


"Benar, bu. Ini pasti karena tangan special ibu." Adit menimpali.


Ibu Nani hanya tersipu malu mendengar pujian dari mereka. Ibu Nani benar-benar sangat berterima kasih atas kunjungan Adit dan Dito.


__ADS_2