
Tak bisa di pungkiri aku merasa gugup saat hendak menghubungi Echa. Namun, ku tepikan rasa gugup dan segera menghubungi Echa.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Echa. Tertera nama Adit sedang menari-nari di layar ponsel.
Echa bergegas mengangkat panggilan telepon dari Adit.
"Assalamualaikum, kak Adit." Echa memberi salam.
"Waalaikumsalam, cha." Balas Adit.
"Lagi sibuk cha? Aku ganggu kamu gak?" tanya Adit.
"Gak kok kak, aku lagi santai kok. Ada apa kak?" sahut Echa.
"Cha, malem ini aku mau ajak kamu pergi dinner. Kamu mau kan?"
"Gak bakalan lama kok, nanti aku jemput kamu. Sekalian aku juga bakalan pamit sama orang tua kamu. Ucapku pasti untuk meyakinkan Echa agar mau pergi dinner denganku.
" Dinner? Dalam rangka apa kak?"
"Apa hari ini kakak sedang berulang tahun?" sambung Echa kemudian.
"Gak kok cha, aku cuma pengen ajak kamu dinner aja." Ucapku kemudian.
"Baiklah kak, aku akan pergi dinner dengan kakak. Tapi, jangan pergi ke tempat yang terlalu ramai ya kak. Aku tidak suka jika terlalu ramai." Ujarnya lagi.
Tanpa berfikir lama, Adit menyanggupi permintaan Echa. Adit merasa senang dengan jawaban Echa.
******
Jam di dinding berbentuk miniatur mesjid di ruang keluarga Echa menunjukkan pukul 19.00 wib. Tetapi, belum ada tanda-tanda kehadiran Adit di rumahnya.
"Kak Adit kok belum sampai ya, apa dia lupa dengan janjinya? Atau dia sedang sakit?" Ungakapku yang mulai khawatir dengan keadaan kak Adit.
Sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara deru mesin mobil datang. Aku yang merasa tidak mengenali sang pemilik roda empat tersebut, hanya sekedar memerhatikan dari balik jendela yang ada di ruang tamu.
Saat sang pemilik mobil keluar, aku terpana melihat lelaki yang turun dari sana. Laki-laki itu mengenakan celana jeans dengan kemeja berwarna biru langit. Dan bagian tangannya digulung sampai batas siku. Kemeja birulangit yang bermotif liris kecil itu tampak sesuai dengan sang pemiliknya.
Laki-laki itu terlihat bersih dan bersinar.
Saat ia tengah berjalan mendekati rumahku, aku terkejut dengan apa yang ku lihat. Lelaki yang baru saja aku puji di dalam hati ternyata orang yang aku khawatir kan sedari tadi.
"Kak Adit". Ucapku lirih tanpa suara.
__ADS_1
Mama terlihat berjalan mendekati pintu utama. Kemudian mama masuk di susul dengan kak Adit di belakangnya.
" Echa, ini Adit dateng mau ketemu kamu. Katanya kamu mau pergi bareng adit!" mama menghampiriku di kamar.
"Iya ma, bentar lagi Echa keluar." Jawabku dari balik kamar.
Sebelum mama datang, aku yang berada di ruang tamu segera berlari menuju kamar. Aku tidak mau terlihat kak Adit dengan pakaian yang tidak sesuai dengan pakaian yang digunakannya saat ini.
Tadinya aku berfikir untuk memilih pakaian yang sederhana. Sebuah celana jeans kulot. Cardigan rajut beserta inner dan pasmhina berwarna senada dengan cardigan ku pikir sudah pas aku kenakan untuk pergi dengan kak Adit. Tapi nyatanya, aku harus berfikir ulang memakai dresscode tadi untuk pergi malam ini. Akan terasa aneh nanti jika aku memaksakan untuk tetap memakainya. Pasti akan tidak sesuai dengan kak Adit.
Aku membuka lemari dan mencoba mencari sesuatu yang pas untuk aku kenakan malam ini. Sampai akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah gamis berbahan satin berwarna wardah. Bagian dada dan pergelangan tangan dihiasi dengan beberapa payet dan swarovski.
Ku padukan gamis dengan pasmhina yang berwarna senada.
Ku poles make up tipis-tipis agar tidak terlihat pucat. Ku hias bibirku dengan polesan liptint yang berwarna nude.
Aku tersenyum melihat diriku di pantulan cermin, aku terlihat berbeda dengan pakaian sebelumnya. Terlihat lebih feminim dan elegant. Selesai dengan urusan dresscode, gegas aku keluar kamar dan menemui kak Adit.
"Maaf kak, kakak lama ya nunggu aku?" Tanyaku pada Adit.
"Eh... Gak kok Cha, aku juga baru sampai." Jawab Adit.
Adit melihat takjub pada Echa. Echa yang terlihat polos setiap harinya, kini terlihat sangat cantik dengan polesan make up di wajahnya.
Adit dan Echa kini telah berada di restoran, pelayan restoran datang untuk mencatat pesanan yang akan menjadi santapan makan malam.
Adit tidak berhenti memandang ke arah Echa, malem ini Echa terlihat memukau dari biasanya. Gamis yang digunakan terlihat pas di tubuh mungil Echa. Echa yang merasa di perhatikan terlihat canggung saat ini.
"Apa ada yang aneh dengan penampilanku kak?" Echa berucap lirih dan memeriksa gamis yang ia kenakan.
"Tidak cha, hanya saja kamu terlihat sangat cantik malam ini. Sungguh cantik dan jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya."
"Terima kasih ya, sudah berkenan dinner denganku dan berpenampilan cantik seperti ini!" Ucap Adit dengan menerbitkan lengkungan kecil pada bibirnya.
Pipi Echa bersemu merah mendengar penuturan Adit. Echa merasa gugup dengan pujian yang ia berikan.
Tak ingin membuang waktu yang lama, Adit segera memesan beberapa menu pada pelayan.
Adit dan Echa tampak menikmati menu yang mereka pesan. Suasana restoran yang tenang juga menambah kesan romantis.
"Cha, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Aku harap setelah mendengar semuanya, sikap mu tidak akan berubah."
"Cha, sebenarnya aku ingin berkata jujur. A-ku menyukaimu cha. A-ku ingin kita tidak hanya sekedar berteman."
__ADS_1
Deg
Echa menghentikan gerakan tangannya yang ingin menyuapkan makanan ke mulut. Mata Echa melebar mendengar penuturan Adit.
Sebenarnya, Echa pun mulai menaruh hati pada Adit. Hanya saja, dia merasa tidak percaya bahwa Adit juga memiliki rasa yang sama. Untuk beberapa menit Echa terdiam dan tengah berfikir. Rasanya tidak percaya bahwa Adit sangat idola menyatakan perasaan suka padanya.
"Kak Adit, kakak lagi bercanda ya. Kakak ngeprank Echa ya?" tanya Echa hati-hati.
"Tidak cha, aku serius. Aku memang menyukaimu. Apa wajahku kurang membuktikan kalau aku benar-benar menyukaimu?" Jawab Adit.
"Tapi kak, A-ku.... "
Suara dering ponsel Echa menghentikan obrolan antara mereka berdua. Echa segera mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera.
Sedangkan Adit diam-diam mencuri pandangan ke arah ponsel yang tengah Echa pegang. Adit sedikit kesal membaca nama Rafi disana.
"Akh.. Menyebalkan. Mau apa sih itu bocah nelpon sekarang? Ganggu moment indah aku aja." Adit bermonolog dalam hati.
Echa menggangkat telepon dari Rafi, sedangkan Adit kini terlihat kesal dengan wajah yang tertekuk.
"Assalamu'alaikum, Rafi. Ada apa menelpon ku?" tanya Echa.
[ waalaikumsalam salam, cha. ]
[ Aku berencana untuk pergi ke rumahmu cha. Setelah itu aku ingin mengajakmu pergi makan malam di luar]
"Maaf Rafi, aku gak bisa. Aku sekarang lagi di luar bareng kak adit."
[ Bareng Adit? Hanya berdua? ]
"Iya, kami sedang makan malam bersama di salah satu restoran."
[ Oh gitu! Ya sudah, lain kali saja kita pergi. Have fun ya, salam untuk Adit. Assalamu'alaikum. ]
"Waalaikumsalam, Rafi."
Echa menyimpan kembali ponselnya. Echa merasa tidak enak saat melihat raut wajah kak Adit saat ini. Wajah yang biasa menampilkan senyuman kini terlihat kusut dan tertekuk.
"Maaf ya kak, aku udah buat kakak nunggu." Ujar Echa.
Sadar kini Echa sedang merasa tak enak hati dengannya, Adit segera menerbitkan senyuman.
" Tidak perlu meminta maaf, cha. Aku hanya merasa cemburu." Jawab Adit cepat.
__ADS_1