
#Pertemuan Tak Sengaja
Seperti anak kecil, aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan semua perkataan Mutia. Mutia memang benar, menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Rasanya aku harus lebih bisa menghargai mama lagi setelah mendengar penjelasan Mutia. Aku kagum dengan pemikiran Mutia, ia benar-benar mengerti mamanya. Rasanya sulit di percaya, gadis cantik yang sangat populer di sekolah, bisa memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
Usai berbicara dengan Rafi, Mutia mendekati pinggir kolam ikan. Jemarinya sibuk memainkan air kolam yang terlihat tenang. Melihay tingkah Mutia yang seperti itu, mendadak Rafi tersenyum, tak menyangka jika Mutia bisa bertingkah seperti anak kecil.
Setelah puas bermain air, Mutia mengajak Rafi untuk kembali menemui wanita paruh baya yang telah melahirkan mereka berdua. Saat hendak melewati kursi yang berjejer di depan, tanpa sengaja kaki Mutia tersandung. Dengan sigap Rafi menarik pergelangan tangan Mutia. Bagian belakang tubuh Mutia menabrak dada bidang Rafi. Hembusan nafas Rafi terdengat jelas oleh Mutia, dan tanpa menunggu aba-aba Mutia segera menarik tubuhnya kedepan.
Aroma tubuh Rafi yang masih tercium oleh Mutia membuat dadanya semakin berdenyut. Baru kali ini Mutia merasakan hal seperti ini.
Belum selesai Mutia menetralkan dada yang berdegup kencang, Rafi datang mendekat dan menanyakan keadaannya.
Mutia berbalik ke arah Rafi, meskipun tangannya sedikit bergetar Mutia tetap bersikap santai. Ia tak mau terlihat gugup di depan Rafi.
"Kamu baik-baik aja kan, Mutia?" Suara Rafi terdengar khawatir.
"Ehm- aku baik kok. Maaf ya, aku gak sengaja nabrak kamu lagi." Dengan gugup Mutia menjawab.
"Santai aja, aku tahu kok." Sahut Rafi.
Rafi dan Mutia segera menuju kursi mereka. Selang beberapa menit, tante Rahma berpamitan terlebih dahulu. Rafi dan mama pun akhirnya kembali ke rumah.
****
Minggu ini akan menjadi minggu yang padat untuk Adit dan teman-teman seangkatan. Itu karena minggu ini adalah jadwal kelas XII untuk mengadakan Ujian Akhir Semester (UAS). Selama seminggu para siswa akan menjalani ujian akhir semester, ujian semester ini juga akan menentukan kelulusan para siswa. Selama ujian berlangsung, siswa kelas X dan XII akan diliburkan.
Pagi ini Adit pergi sekolah tanpa menjemput Echa terlebih dahulu. Di karenan Echa adalah siswa kelas XI yang sedang diliburkan oleh pihak sekolah. Selama seminggu pula Adit tidak akan bertemu Echa dan hanya konsentrasi pada pelajaran sekolah. Adit tidak ingin mendapatkan nilai buruk pada ujian akhir semester ini. Adit juga sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dy akan lulus dengan nilai yang baik.
Selama ujian berlangsung, Echa juga tidak pernah menghubungi Adit. Echa tidak mau mengganggu konsentrasi Adit pada pelajaran. Untuk mengusir rasa bosannya, Echa menghabiskan waktu untuk menonton serial drama Korea dan Turki secara maraton. Terkadang Echa juga sesekali berkunjung ke rumah Tika ataupun Lia.
Adit belajar dengan giat, begitu juga dengan Mutia. Selain menjadi seorang idola, Adit dan Mutia juga terkenal sebagai siswa pintar di kelas. Itulah yang menyebabkan mereka menjadi idola di sekolah.
Tidak terasa seminggu telah berlalu, Adit merasa puas dengan ujiannya kali ini. Adit mampu menyelesaikan ujian dengan baik tanpa ada sedikit pun kendala. Begitu pun dengan Mutia, Mutia juga merasa puas dengan ujiannya.
Weekend ini Adit berencana mengajak Adit ke sebuah mall. Rasanya tidak apa jika sesekali mereka pergi berdua menghabiskan weekend dengan bermain game yang ada di timezone. Setelah ganti pakaian dan memakai hoodie, Adit berpamitan dan bergegas mengendarai kuda besi miliknya. Adit mengendarai motor dengan kecepatan sedang, bagaimana pun keselamatan itu penting.
Setibanya di kediaman Echa, dia mengetuk pintu utama. Tak terlalu lama menunggu, Echa sang kekasih hati telah berdiri di ambang pintu.
"Kak, Adit. Kok gak ngabarin Echa kalau mau dateng?" Ucapnya sedikit kaget. Dia sepertinya sedikit kaget melihat kedatanganku.
__ADS_1
"Kan mau buat surprise, jadi aku gak kasih kabar ke kamu. Kalau kasih kabar, gagal dong surprise nya." Jawab Adit dengan santai.
"Kakak... Bisa aja ih ngelesnya." Jawab Echa cepat.
"Beneran, Cha. Sudah seminggu aku gak ketemu kamu, jadi aku kasih surprise buat kamu."
"Ehm-- Cha. Hari ini aku mau ajakin kamu pergi main ke mall. Kamu mau gak?"
"Aku sih mau, kak. Tapi sebelumnya kita harus pamit dulu ke ortu aku. Gimana? Tanya Echa.
" Oh.. Boleh donk. Tapi bytheway, kamu gak ajakin aku masuk dulu gitu? Trus gimana aku mau pamit ke om dan tante?" Ucap Adit menggoda Echa.
"Astaghfirullah.. Maaf kak. Aku jadi lupa ajak kakak masuk. Yuk kak masuk!" Echa dan Adit berjalan beriringan memasuki kediaman Echa.
"Ma, pa.. Ada kak Adit nih datang." Echa memanggil sedikit berteriak.
Dengan langkah pelan Adit dan Echa menuju ruang keluarga Echa. Terlihat sepasang suami istri yang sedang menikmati secangkir teh dan ditemani sepiring biskuit kelapa. Adit tersenyum ramah mendekati orang tua Echa.
"Echa, gak baik anak gadis teriakan seperti tadi." Tegur mama.
"Heheh.. Iya ma, maafin Echa ya!" Jawab Echa cepat seraya menangkup kan kedua tangan di dada.
"Jangan di ulangi ya nak." Pinta mama.
Semua orang tersenyum mendengar seruan yang Echa ucapkan. Tidak ingin membuang kesempatan, Adit meminta izin kepada orang tua Echa. Adit memberi tahu bahwa ia akan mengajak Echa pergi ke salah satu yang tidak jauh dari rumah. Papa Echa selalu kepala rumah tangga memberikan izin kepada Adit, beliau berpesan agar tidak pulang larut malam. Adit langsung mengiyakan dan berterima kasih.
Butuh waktu 15 menit untuk Echa berdandan. Memakai rok tutu, di padukan dengan t-shirt lengan panjang dan pasmhina yang bagian depan menjuntai Echa terlihat manis. Sebuah sepatu cats dan sling bag mungil menyempurnakan penampilan Echa. Tidak lupa ia memakai parfum khas miliknya. Parfum yang tidak akan bisa di temukan di mall atau dimana pun. Parfum yang Echa produksi sendiri dari hasil bunga liar di hutan.
Echa dan Adit kini tengah menuju sebuah mall di tengah kota. Perjalanan menuju mall yang hanya menuju 10 menit kini menjadi sedikit lama. Hal ini disebabkan karena ramainya pengguna jalan di hari weekend.
Sebelum pergi ke area yang akan mereka tuju, Adit mengajak Echa untuk makan terlebih dahulu. Cacing di perut Adit kini tengah berdemo agar segera di beri makan. Mereka memilih restauran cepat saji yang berlogo seorang kakek dengan senyumannya yang khas. Restauran yang menyediakan sajian ayam goreng dengan tepung yang krispy.
Selesai makan, Echa pamit untuk pergi ke toilet. Tanpa sengaja Echa bertemu dengan Mutia disana.
"Kak Mutia.. " sapa Echa.
Mutia yang tengah mencuci tangan di wastafel menoleh ke arah sumber suara.
"Echa.... " Ucap Mutia.
__ADS_1
"Kak Mutia sama siapa kemari?" tanya Echa.
"Aku sendirian, cha. Tadinya mau ajak temen-temenku, tapi mereka lagi sibuk. Karena aku bosen di rumah terus, aku pergi aja sendiri. Hitung-hitung refreshing setelah ujian." Jelas Mutia.
"Kalau gitu kakak ikut kami aja kak. Makin rame kan makin seru." Ajak Echa.
"Kami? Emangnya kamu bareng siapa cha kemari?"
"Aku dengan kak Adit kesini kak, kak Adit lagi nunggu disana." Echa menujukkan restauran cepat saji di seberang.
"Gak ah, nanti aku ganggu kalian lagi. Kan gak enak juga kalau aku jadi obat nyamuk." Pungkas Mutia.
"Gak lah kak, kakak gak akan ganggu kok. Kak Adit juga pasti seneng kok kalau ada kakak." Echa masih berusaha membujuk Mutia.
Melihat usaha Echa yang terus membujuk dirinya, akhirnya Mutia mau bergabung dengan Adit dan Echa. Meskipun sebenarnya ada rasa sedikit tidak enak hati pada mereka. Mutia takut kalau nanti ia akan menggangu kencan pasangan sejoli tersebut.
Echa menggandeng tangan Mutia berjalan menuju tempat duduknya bersama Adit. Dari kejauhan, Echa melihat Adit sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Posisi duduk laki-laki itu membelakangi hingga sulit untuk dikenali wajahnya. Saat jarak semakin dekat, lelaki itu menoleh kearah belakang. Echa dan Mutia kini dapat melihat dengan jelas wajahnya.
"Rafi..... " Sentak Echa dan Mutia bersamaan.
"Hai cha.... Hai mutia." Sapa Rafi.
"Kok kamu bisa disini?" Tanya Echa.
"Tadinya aku ingin membeli beberapa buku disini. Saat melewati restauran ini, aku melihat Adit tengah duduk sendirian. Jadi aku nyamperin dia dan berniat mengajaknya ke toko buku bersama."
"Tapi saat aku tanya, ternyata dia lagi nungguin kamu di toilet. Dan ya seperti kamu liat, aku sekarang disini." Rafi menjelaskan secara detail.
Echa dan Mutia menganggukkan kepala seraya mengeluarkan kata oh secara bersama.
"Kamu sendiri, kok bisa barengan Mutia?" Tanya Adit kepada Echa.
"Aku tadi gak sengaja ketemu kak Mutia di toilet. Karena kak Mutia bilang sendirian, jadi aku ajak dia buat gabung sama kita." Jelas Echa.
"Mumpung lagi rame gini, gimana kalau kita main game. Pasti seru, tim aku dan Echa melawan tim Rafi dan mutia." Adit berucap dengan penuh semangat.
"Ehm- tapi.... " Ucap Mutia terbata dan langsung di potong oleh Adit.
"Ayo donk Tia, ini pasti bakalan seru!" Potong Adit.
__ADS_1
"Iya kak, mau yah kak. Kan tadi kakak bilang mau refreshing." Timpal Echa.
Mau tidak mau Mutia menyanggupi permintaan keduanya. Sesekali ia melirik kearah Rafi, melihat ekspresi wajah yang ia tunjukkan dengan permintaan Adit dan Echa. Wajahnya terlihat seperti biasa, tidak ada tanda senang atupun penolakan. Datar.