
Ada rasa nyeri melihat kedekatan mereka berdua, gadis itu terlihat begitu senang saat mengobrol dengan laki-laki yang ada di hadapannya.
"Siapa laki-laki itu? mengapa mereka terlihat begitu akrab?" Adit bermonolog dalam hati.
Adit melihat kedekatan Echa dan laki-laki lain di dalam kelas. Laki-laki yang tak kalah rupawan dengannya sukses membuat Adit merasa cemburu.
"Cha...."
Echa yang tak menyadari kedatangan Adit terlihat panik dan segera mendekati Adit.
"Kak Adit, sudah lama kak berdiri disitu?" Echa menatap nanar pada Adit yang tengah di ambang pintu.
"Apa ada hal penting yang ingin kakak sampaikan?" tanya Echa.
"Oh ya kak, sebelumnya perkenalkan. Ini Rafi, siswa baru yang tadi di umumkan oleh pak Rudi." Echa memperkenalkan Adit kepada Rafi.
Rafi bangkit dan mendekat ke arah kami, Rafi mengulurkan tangan dan di sambut baik oleh Adit.
"Rafi.... "
"Adit.... "
"Cha, aku balik dulu ya. Besok aku akan menagih janjimu. Ingat, jangan sampai lupa ya!" Rafi berucap dan segera meninggalkan Echa dan Adit.
"Oke, aku gak akan lupa kok." Ucap Echa sambil tersenyum.
Kecemburuan terlihat jelas di mata Adit. Rahang Adit mengeras melihat keakraban mereka. Tanpa sadar, Adit mengepalkan tangannya dan terlihat oleh Echa.
"Kak Adit, kakak kenapa? Kakak terlihat sedang marah. Apa aku punya salah dengan kakak?" Echa bertanya sedikit gugup.
Adit yang tersadar segera melepaskan kepalan tangannya. Sedetik kemudian Adit langsung merubah raut wajahnya menjadi hangat.
"Tidak cha, aku hanya merasa sedikit sakit di bagian perutku." Adit berucap setenang mungkin. Berusaha menetralkan nafas yang tengah memburu.
"Cha, kamu terlihat sangat akrab dengan Rafi, apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Adit.
"Aku pernah bertemu dengan Rafi di salah satu toko buku kak, saat itu kami berkenalan dan berteman. Sejak saat itu, kami sering bertemu. Tapi beberapa bulan ini, aku tidak pernah pergi lagi ke toko itu."
"Saat pak Rudi mengenalkan Rafi di kelas, aku dan Rafi terkejut. Aku cukup senang bisa bertemu lagi." Ujar Echa.
"Lalu janji yang ia katakan tadi.. janji apa?" Adit kembali mencari tahu tentang Rafi.
__ADS_1
"Janji...? Oh itu, aku berjanji pada Rafi untuk membawanya berkeliling sekolah kita kak." jawab Echa.
Adit terlihat menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan Echa.
"Cha.. Kita pulang bareng yuk!" Ajak Adit.
"Baiklah kak, terima kasih sebelumnya kak. "
Adit dan Echa segera pergi meninggalkan sekolah. Adit begitu senang bisa pulang bersama dengan Echa.
****
Keesokan paginya, sesuai dengan janji kemarin. Echa mengajak Rafi berkeliling sekolah. Echa dengan sabar menjelaskan setiap sudut sekolah. Tak jarang mereka tertawa saat sedang berkeliling.
"Cha... Ternyata kamu belum berubah ya! wangi parfum mu masih sama seperti dulu. Aku benar-benar menyukai wangi parfum ini cha, sebelumnya aku tidak pernah mencium wangi parfum sama seperti ini." Ungkap Rafi seraya menatap Echa.
"Aku tidak pernah mengganti parfumku, fi. Tidak heran jika kamu masih bisa mencium parfum yang sama seperti pertama kita bertemu."
"Aku tipe orang yang tidak suka berganti-ganti selera." Jawab Echa polos.
"Di zaman sekarang pasti sulit menemukan gadis seperti, cha." Rafi bergumam.
Bahkan sekarang telah memiliki 5 cabang di kota-kota besar.
Sebenarnya, pertemuan Rafi dan Echa tempo hari sudah menimbulkan benih-benih suka pada Echa.
Meskipun Echa bukanlah gadis yang fashionable, tapi mampu menaklukkan hati Rafi.
Rafi begitu mengagumi kesederhanaan dan wawasan Echa. Echa adalah orang yang tepat untuk di ajak tukar pendapat.
Kepindahan Rafi pun bukanlah suatu kebetulan, sebenarnya diam-diam Rafi mencari informasi tentang Echa. Tidaklah sulit bagi Rafi untuk mencari beberapa informasi, Rafi cukup memerintahkan orang kepercayaan yang telah lama bekerja dengan keluarganya.
Rafi juga meminta agar ia bisa berada di kelas yang sama dengan Echa.
Keterkejutan yang ia tampakkan, hanyalah sandiwara yang sedang ia perankan.
"Cha, kita ke kantin yuk. Sepertinya cacing ku sudah berdemo." Ajak Rafi.
Mutia yang terlihat terburu-buru tidak sengaja menabrak batu Rafi yang sedang berdiri di depan salah satu stand makanan.
"Aduhh...." Rafi memegangi bahunya yang terasa sedikit nyeri dan menatap Mutia sedikit kesal.
__ADS_1
"Oooppss... Maaf ya aku gak sengaja." Ujar Mutia sedikit gugup.
"Lain kali hati-hati dong kalau jalan, emang kamu gak bisa liat banyak orang yang sedang mengantri disini." Rafi mengusap bahunya
Perkataan Rafi memancing kemarahan Mutia. Mutia merasa bahwa Rafi terlalu berlebihan, Mutia sudah meminta maaf padanya. Tapi respon Rafi membuat darah Mutia terasa mendidih, di tambah lagi saat ini Mutia sedang kedatangan tamu bulanan.
Itulah sebabnya Mutia berlari, karena ingin membeli sesuatu yang bisa meredakan sakit perut akibat kedatangan sang tamu.
Mutia yang tak Terima akhirnya membalas perkataan Rafi tak kalah ketus.
"Kok nyolot sih, kan aku juga udah minta maaf. Lagian tadi kan aku udah bilang, kalau aku sedang buru-buru." Kesal Mutia.
Mendengar keributan yang tak jauh dari tempatnya, Adit dan Echa yang kebetulan juga sedang berada di kantin segera mendekati sumber keributan.
Adit dan Echa terlihat bingung dengan perdebatan dua remaja yang ada di hadapan mereka. Keduanya bahkan bingung bagaimana cara untuk melerai mereka.
Adit menoleh ke belakang dan mendapati Echa yang sedang memperhatikan Rafi dan Mutia.
"Ada apa dengan mereka cha?" Adit berjalan menuju ke arah Echa.
"Aku tidak tahu kak, tadi Rafi mengajak ku ke kantin. Tapi aku meninggalkan Rafi karena aku ingin pergi ke toilet."
"Sebaiknya kita segera melerai mereka, cha. Tidak enak di lihat siswa lain." Ucap Adit seraya menggandeng tangan Echa berjalan ke arah Rafi dan Mutia.
"Rafi..... Mutia..... " Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian terlihat seperti tom n jerry. Seharusnya kalian malu, karena saat ini menjadi tontonan gratis untuk siswa lainnya.
Rafi dan Mutia kompak memutar kepala ke sekeliling kantin. Terlihat jelas beberapa pasang mata sedang mengawasi mereka.
Rafi dan Mutia pun merasa malu dan tak enak hati.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, fi?" Adit bertanya pada Rafi.
Rafi menoleh saat namanya di sebut.
Bukanya menjawab, Rafi justru terpaku seraya menatap tangan Adit yang menggenggam erat tangan Echa.
"Ada hubungan apa laki-laki ini dengan Echa? Kenapa dia berani menggenggam tangan Echa?" Rafi bermonolog dalam hati.
"Apa dia kekasih Echa?" Ragi bergumam.
"Rafi.......
__ADS_1