
#Berbaikan
Tidak butuh lama untuk Adit sampai ke taman. Selang 5 menit Mutia pun kini telah sampai di taman.
Keduanya masih betah membisu satu sama lain.
Mutia memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Sudah lama dit? Maaf membuatmu lama menunggu, ucap Mutia sambil melirik ke arah Adit.
" Tidak apa Mutia, aku juga baru sampai." Jawab Adit dengan jujur.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? hingga membuat kita harus bertemu sekarang?"
"Aku ingin membicarakan tindakanmu pada Echa beberapa waktu yang lalu. Aku begitu kecewa dengan tindakanmu Mutia."
Ucap Adit dengan lirih.
Rasanya menjadi sesak, tindakan yang kulakukan dengan tujuan baik ternyata tak mendapatkan respon yang baik oleh Adit. Bahkan hubungan ku dengan Adit kini menjadi renggang. Tidak ada lagi kehangatan yang di nampak kan Adit seperti dulu.
"A-ku hanya menginginkan yang terbaik untukmu dit, aku hanya tidak ingin kamu menjadi bahan candaan bagi siswa yang lain. Gadis cupu itu akan memberikanmu banyak masalah nanti."
Selalu saja alasan itu yang diberikan Mutia. Aku rasa alasan itu tidak masuk akal.
__ADS_1
"Maaf Mutia, aku tidak merasa mendapatkan masalah saat dekat dengan Echa."
"Tidak untk saat ini dit, tapi suatu saat hal itu akan terjadi."
"Sudahlah Mutia, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Atau jangan-jangan kamu memiliki alasan lain untuk ini semua?"
"Alasan lain? Apa maksud mu dit?"
"Aku ingin kamu menjawab dengan jujur Mutia, apa benar kamu menganggapku lebih dari seorang teman?"
"A-ku...... "
"Jawablah dengan jujur Mutia, aku ingin mendengarnya secara langsung darimu."
Mutia kini tampak sedang berfikir, begitu juga dengan Adit.
Adit menghela nafas begitu berat. Ternyata perkataan kedua sahabat kemarin memang benar, bahwa Mutia memiliki perasaan yang lebih untuknya.
"Maaf Mutia, selama ini aku sudah menganggapmu sebagai saudara perempuanku. Tidak ada perasaan yang lebih, aku tidak ingin persahabatan yang lama kita jalin menjadi rusak karena hal seperti ini."
"Aku tidak ingin kita bermusuhan. Aku ingin kembali bersahabat seperti dulu. Maafkan aku Mutia, aku tidak bisa membalas perasaanmu." Ujar Adit.
Deg
__ADS_1
"Baiklah dit, aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku.
Aku mungkin bukan orang yang tepat untukmu". Mutia berucap dengan lirih.
" Terima kasih Mutia, terima kasih sudah mengerti aku. Dan maaf untuk kata-kata kasar yang ku ucapkan saat itu."
"Tidak apa dit, aku cukup mengerti." Ucap Mutia dengan tulus.
Mutia terlihat tenang saat ini. Perkataan Adit seolah menyadarkan bahwa Mutia sudah bersikap tidak baik. Mutai sadar tindakan kemarin bukanlah tindakan yang benar.
Mutia pun sadar, bahwa perasaannya adalah perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Dia tidak ingin merasakan sakit yang lebih jauh lagi.
Sedangkan di sisi lain, Adit berharap bahwa kejujurannya tidak membuat Mutia memutuskan persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil.
"Adit, setelah kejadian kemarin. Bisakah kita tetap berteman seperti dulu?" tanyanya yang membuatku tersenyum sumringah.
"Tentu Mutia, kamu sudah kuanggap sebagai saudara perempuanku." Jawabku antusias.
"Terima kasih dit, terima kasih karena masih mau berteman denganku. Aku fikir kamu tidak mau menerimaku lagi sebagai temanmu." Mutia berucap dengan lirih.
Sesaat Mutia mengadah seraya mengerjapkan mata. Menahan buliran bening yang sebentar lagi akan menetes. Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Adit.
"Jangan seperti ini Tia," Adit yang sedari tadi memperhatikan Mutia melangkah mendekat. Duduk di sampingnya sembari menatap lekat wajah yang terlihat murung itu.
__ADS_1
"Aku merasa malu denganmu dit," Mutia menjawab sembari menatap Adit yang terpaku ditempatnya.
"Tidak perlu merasa malu Mutia, aku akan selalu tetap menjadi sahabatmu. Aku justru merasa senang karena kamu telah menyadari kesalahanmu." Sahut Adit.