
#berbagi
Ibu adalah sosok yang tak akan pernah terganti. Beruntunglah seorang yang masih bisa merasakan kasih sayang ibu. Banyak anak diluar sana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibu sedari kecil, maka dari itu sudah sepantasnya jika kelak kita memberikan yang terbaik untuk seorang yang bergelar ibu.
Di tengah-tengah makan malam, Echa memberi tahu sang mama bahwa mama Adit juga ingin ikut pergi berbelanja ke pasar tradisional. Tentu saja mama setuju dan meminta Echa agar segera mengabari mama Adit. Bayangan pergi bersama dan berwisata kuliner kini sudah ada di benak mama Echa. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu sangat gemar dengan jajanan pasar.
***
Sesuai dengan rencana kemarin, pagi ini mama Adit dan Inayah tengah bersiap pergi menjemput Echa dan mamanya. Sejak malam ia sudah tidak sabar untuk menyambut pagi ini, bahkan suaminya merasa heran dengan perangai mama yang terlihat sangat beda dengan hari biasanya.
Sebelum pergi, ia menyempatkan diri membuat sarapan untuk keluarganya. Nasi goreng dengan telur mata sapi, serta setoples kerupuk dan tak lupa segelas susu hangat untuk suami dan anaknya. Sedangkan ia hanya membuat sehelai roti tawar yang di oleskan selai coklat sebagai sarapannya. Papa Adit merasa heran, tidak biasanya sang istri hanya memakan sehelai roti. Biasanya ia juga akan makan menu yang sama dengan yang lain.
"Kok kamu cuma makan roti doank, ma. Kamu mau pergi loh, susu juga kamu gak minum. Nanti kamu bisa pingsan loh disana, disana pasti tempatnya rame banget. Dan pasti kamu bakalan lama belanjanya." Ucap papa khawatir.
"Tenang aja, pa. Ini cuma buat ganjel doank kok. Disana pasti banyak makanan pasar yang enak dan murah. kalau sekarang aku makan banyak, nanti disana aku gak bisa cicipin banyak makanan donk." Jawab mama Adit sambil tersenyum.
"Ya Allah... Ternyata kamu udah nyiapin semuanya ya, ma. Bahkan kamu nyiapin bagian perut kamu yang kosong untuk jajanan disana." Ujar papa terkekeh mendengar alasan sang istri.
Papa dan Inayah tidak tahan untuk tertawa mendengar alasan mama. Rasanya alasan mama sangat lucu dan konyol. Seusai sarapan Inayah dan mama berpamitan untuk pergi.
Hanya 20 menit waktu yang digunakan untuk menempuh rumah Echa. Echa dan sang mama yang telah menunggu, langsung masuk ke mobil yang di kendarai oleh pak Ujang.
Pasar yang dituju tidaklah jauh dari kediaman Echa, itu sebabnya mereka segera sampai di pasar. Mata mama Adit berbinar melihat aneka jajanan pasar yang berada di sepanjang pinggir pasar. Ada aneka gorengan, aneka kue basah, bolu serta masih banyak lagi yang mereka jual disana. Tidak hanya jajanan pasar, makanan berat tradisional juga ada disini. Seperti lontong sayur, pecal, bahkan bakso jadul juga ada.
Mama Adit tidak sabar ingin menyipi makanan tersebut. Namun sebagai pembuka, mama Adit mengajak kami untuk sarapan dengan lontong sayur. Rasa gurih dari kuah santan, serta rasa lembut pada lontong sangat memanjakan lidah kami. Apalagi ditemani dengan segelas teh manis hangat, sungguh perpaduan yang sempurna untuk sarapan pagi ini.
Selesai sarapan, mama Echa mengajak mereka untuk berbelanja kebutuhan dapur terlebih dahulu. Bawang-bawangan, cabe, tomat, bumbu dapur, ayam, daging, ikan, seafood, aneka sayur serta aneka bumbu dapur kering pun tidak luput dari daftar belanja kedua wanita paruh baya tersebut. Mereka juga membeli sembako di pasar, hitung-hitung membantu melahirkan pedagang pasar. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, garam, tepung, mie instan telur, dan yang lainnya kini sudah selesai di bayar.
Kedua wanita paruh baya itu merasa puas belanja dipasar. Selain barang-barangnya yang fresh, harga di pasar juga sangat miring. Mama Echa memanggil jasa kuli panggil untuk membantu membawa belanjaan mereka ke mobil. Mereka memanggil empat orang lelaki yang menjajasakan jasanya, ada dua orang lelaki belia dan ada dua orang lelaki paruh baya. Keempatnya segera membawa belanjaan tersebut ke area parkir.
Selesai melakukan tugasnya, keempat lelaki itu diajak makan oleh mama Adit disalah satu warung pecal dekat area parkir. Tentu saja mereka sangat bersyukur dengan ajakan tersebut, setidaknya mereka bisa menghemat uang makan hari ini. Tapi keempatnya enggan untuk makan dan duduk bersama rombongan mama Adit, mereka meminta agar makanannya di bungkus. Mama Adit pun mengiyakan permintaan mereka.
Mama Adit dan mama Echa memberikan upah seratus ribu rupiah per orang, jadi masing-masing mendapat upah dua ratus ribu rupiah. Mata mereka berkaca-kaca melihat lembaran uang merah yang ada di tangan, rasanya tidak percaya bahwa hari ini mereka mendapatkan rezeki yang tak terduga. Keempatnya kompak mengucapkan terima kasih berulang-ulang, bahkan mereka juga memberi do'a yang terbaik untuk mama Echa dan Adit.
Sungguh, mama Adit dan Echa merasa bahagia bisa membantu sesama. Keduanya memang memiliki rasa peka yang sama, sejak dulu mereka memang sering berbagi sedikit rezeki kepada orang-orang disekitar. Itu sebabnya Echa dan Adit juga mewarisi sifat yang sama dari ibu mereka.
Saat hendak menuju parkir, Echa melihat seorang kakek tua yang ada disudut pasar. Kakek itu terlihat sedang menjual aneka sendal di hadapannya, hanya saja wajah kakek itu terlihat murung dan sedih. Echa yang penasaran pun segera menghampiri sang kakek.
__ADS_1
"Ma, tante... Echa dan Inayah izin kesana bentar ya." Pamit Echa seraya menunjuk kearah kakek tersebut.
"Iya, hati-hati ya nak. Mama dan tante ingin membeli jajanan pasar dulu. Nanti kalau sudah selesai, mama nyusul kesana." Jawab mama Echa.
"Baik, ma." Ucap Echa.
Saat tiba dihadapan sang kakek, Echa bertanya tentang dagangan kakek.
"Kakek, ada sendal untuk ukuran adik saya gak kek?" ucap Echa seraya menunjuk kearah Inayah.
Kakek yang sedang melamun terkejut mendengar suara Echa.
"Ada nak, ada. Ini ada banyak model dan warna, silahkan dipilih-pilih dulu." Ucap kakek dengan antusias menunjukkan barang dagangannya.
"Inayah mau kan kakak belikan sendal, Inayah bisa pake sendalnya untuk di rumah." Ucap Echa pada Inayah.
"Boleh, kak. Kebetulan sendal Inayah juga tinggal satu. Yang lainnya sudah rusak." Jawab Inayah.
"Kamu pilih yang kamu suka ya, ambil saja dua. Oh ya, pilihkan juga buat mbak di rumah ya." Ujar Echa.
Saat Inayah sibuk memilih sendal, Echa menyempatkan diri untuk bertanya kepada kakek.
"Sudah nak, tadi di bekali nenek dari rumah."
"Kakek, aku perhatikan kakek dari tadi bengong terus. Ada apa kek?"
"Kakek sedih, nak. Sudah beberapa hari ini dagangan kakek sepi, beras dan kebutuhan lainnya juga sudah pada habis. Sementara pendapatan kakek sangat kecil. " Ucap kakek dengan suara lirih.
"Kakek yang sabar ya, InshaAllah ada jalan keluar untuk kesulitan kakek." Jawab Echa.
"Kak, aku mau yang gambar hello kitty dan tazmania kak. Boleh gak?" Inayah menunjukkan dua pasang sendal kepada Echa.
"Boleh dong, kalau buat mbak yang mana?" tanya Echa.
"Buat mbak yang warna biru ini aja kak, soalnya mbak suka dengan warna biru." Ucap Inayah lagi.
Saat sedang berbincang dengan Inayah, mama Echa dan Adit datang menghampiri. Terlihat tangan mereka menenteng beberapa kantung plastik.
__ADS_1
"Sudah selesai, cha?"
"Mama.. Sudah ma. Tinggal bayar aja, mama dan tanye gak mau beli jugak?" tawar Echa.
"Boleh cha. Mama yang warna biru juga deh satu, kalau tante ia lebih suka yang warna hitam." Ucap mama Echa.
"Kamu masih inget aja, mel." Pungkas mama Adit.
"Berapa total keseluruhannya, kek?" tanya Echa.
"Semua ada enam pasang, dua sendal anak dan empat sendal dewasa. Totalnya dua ratus delapan puluh ribu nak." Jawab kakek.
Echa memberikan lima lembar uang pecahan seratus ribuan kepada kakek. Kakek yang melihatnya merasa terkejut saat menghitung jumlah uang yang ia terima.
"Uangnya kelebihan, nak." Ucap kakek.
"Gak apa kek, anggap aja rezeki untuk kakek hari ini." Ujar Echa.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak nak. Semoga Allah melancarkan rezekimu, dan semoga cita-cita tercapai nanti." Ucap kakek mendoakan Echa.
"Amin Ya Allah, terima kasih do'a nya kek." Balas Echa.
Mama Adit berjalan mendekati kakek,ia memberikan sekantung jajanan pasar yang ia beli tadi kepada kakek.
"Ini buat cemilan keluarga di rumah ya kek, semoga keluarga menyukainya." Ujar mama Adit.
Sedangkan mama Echa menyelipkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ketangan kakek.
"Dan ini buat beli gula dan kopi ya, kek. Biar ada jajanannya ada temen." Ujar mama Echa.
"Ya Allah, terima kasih banyak bu. Ibu dan anak-anak ibu sangat baik, semoga Allah menggantikannya lebih dari ini. Semoga Allah melindungi keluarga ibu semua, dan semoga Allah memberikan kesehatan kepada seluruh keluarga ibu." Kakek mendoakan dengan tulus.
"Amin Ya Allah." Ucap keduanya dengan kompak.
"Kami pamit ya, kek. Salam untuk nenek di rumah." Pamit Echa.
"Iya, nak. Semoga sampai dengan selamat." Jawab kakek.
__ADS_1
Mata kakek berkaca-kaca melihat kepergian Echa dan lainnya. Kakek merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang baik seperti mereka. Hari ini kakek bisa pulang dengan hati gembira, rasanya tidak sabar untuk membagi kebahagiaannya kepada keluarga yang ada di rumah. Kakek juga merasa, bahwa rezekinya hari ini tidak lepas dari do'a sang istri.