Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA BAB XXXIX


__ADS_3

#perempuan tangguh


Setelah menerima bungkusan dari sang ibu, Adit berpamitan untuk pulang. Sebelumnya ia juga berpesan, bahwa setiap hari ia ingin sang ibu menyiapkan makan Adit sehari-hari. Tanpa rasa ragu ibu pemilik warung menyanggupi permintaan Adit. Ibu terlihat sangat senang, bahkan ia tak segan-segan menghadiahkan kecupan di pipi sang mertua. Pemandangan yang sangat menyentuh hati siapapun yang melihatnya.


"Oh ya, mas. Saya belum kenal dengan mas nya. Mas nya namanya siapa ya?" Tanya ibu pemilik warung.


"Eh iya, bu. Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Adit bu, kalau ibu siapa namanya?" Jawab Adit.


"Saya ibu Nani, mas. Orang disini memanggil saya ibu Nani." Ucapnya kemudian.


"Kalau begitu saya izin pamit ya, bu. Kebetulan saya juga belum sholat dzuhur, takut gak keburu." Pamit Adit.


"Oh ya, mari mas. Hati-hati di jalan ya mas." Ibu Nani berpesan.


"Iya, bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Pov ibu Nani


Sudah dia minggu ini warung begitu sepi, modalku juga semakin menipis. Ya Allah, jika terus-terusan begini bisa bangkrut warung ini. Ibu juga harus kontrol ke dokter.Ya Allah lancarkan lah rezekiku, semoga aku bisa tetap berjualan.


Saat aku masih termenung memikirkan warung ku, tiba-tiba ada seorang pemuda yang datang. Ia terlihat seperti anak yang baik, penampilannya juga rapi. Pemuda itu kemudian memesan makanan dan makan dengan lahap. Aku sungguh senang melihat ia menyantap semua masakanku.


Selesai makan, ia berpesan agar aku menyiapkan makanan setiap hari untuknya. Bisa di katakan, ia memesan catering padaku. Tentu saja akun langsung menerima permintaannya, mungkin ini adalah jawaban dari do'a ku. Allah memang sangat baik, ia begitu mengerti kesusahan hambaNya.


Pemuda yang bernama Adit itu menjadi salah satu pemicu dirinya untuk tetap semangat. Tidak ada kata menyerah jika kita mau terus berusaha. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kemajuan warung ku.


***


Keesokan harinya....


"Echa," panggil mama Amel.


"Iya," sahutku.


Echa bergegas keluar kamar dan menemui mama di dapur.


"Hari minggu kamu sibuk gak nak?" ucap mama.


"Gak kok, ma. Ada apa ma?" tanya Echa penasaran.


"Kamu mau kan bantu mama buat belanja kepasar? Ungkap mama.

__ADS_1


" Oke, ma. Echa mau dong pastinya. Apasih yang enggak buat mamaku yang cantik ini?" Ucap Echa menggoda sang mama.


"Loh, kok kamu baru tahu sih kalau mama ini memang cantik." Jumawa mama.


Hahaha...


Keduanya pun tertawa bersama dengan obrolan mereka.


Echa masih setia berbaring di atas kasur, sesekali ia mencoba mengusir rasa jenuh dengan membaca atau berselancar di akun sosmed miliknya. Sebenarnya Tika dan Lia mengajak Echa untuk pergi nonton, tapi Echa enggan untuk pergi. Hari ini ia hanya ingin berdiam diri di rumah. Sekitar 20 menit Echa berselancar di akun sosmed yang bernama tok tok itu, dari tadi jari jempolnya sibuk men scroll vidoe-video lucu disana. Namun tiba-tiba ada panggilan video masuk dari Adit. Echa langsung menekan tombol jawab untk memulai panggilan.


"Assalamu'alaikum, tuan putri. Sedang sibuk tidak?" tanya Adit.


"Waalaikumsalam, kakak pangeran. Gak kok, echa lagi nyantai dikamar." Jawab Echa.


"Aduh.. Tumben banget ni tuan putri aku jadi romantis. Tapi kalau pas ketemu, bisa romantis juga gak ya?" goda Adit.


"Hehehe.. Kalau deket, gak janji deh". Ucap Echa sambil nyengir.


" Gak seru ah, berani cuma lagi jauhan aja. Ngomng-ngomong om dan tante apa kaba? Mereka semua sehat kan?" Ucap Adit yang terlihat khawatir.


"Alhamdulillah semua baik, kak." Jawab Echa.


"Cha, kamu mau gak kalau kita buat panggilan video konfrensi dengan mama aku?" Adit meminta izin pada Echa.


Adit segera melakukan panggilan video dengan sang mama. Tidak menunggu waktu lama, mama langsung menjawab panggilan Adit. Saat mama menerima panggilan, kini tampak wajah Adit, Echa dan sang mama di layar ponsel.


"Assalamu'alaikum, nak. Eh.. Ada Echa juga, assalamu'alaikum cha."


"Walaikumsalam, ma."


"Waalaikumsalam, tante." Keduanya kompak menjawab salam dari mama Adit.


"Echa kok gak pernah main kesini? Inayah cariin kamu loh. Selama Adit pergi, dia jadi kesepian di rumah." Ucap mama Adit.


"Iya, tante. Echa belum ada waktu kesana. InshaAllah minggu sore Echa main kesana ya, tan. Karena pagi Echa mau temenin mama belanja bumbu dapur di pasar tradisional." Jawab Echa.


"Belanja ke pasar tradisional? Wah tante mau ikutan juga dong, udah lama banget tante gak belanja di pasar. Pasti disana banyak jajanan dan makanan yang enak-enak. Dan pasti disana harganya murah-murah. Nanti kamu bilang ke mama ya kalau tante mau ikutan. Buat nanti pak Ujang aja yang anterin kita. Bisa kan?" Ucap mama Adit begitu antusias kepada Echa.


"Boleh banget, tan. Nanti Echa bilang ke mama, sekalian aja Inayah yah tan." Balas Echa.


"Oke-oke, siap!" Ujar mama Adit.


"Duh yang mau jalan bareng, sampai lupa kalau ada aku disini." Protes Adit memperlihatkan wajah masam.

__ADS_1


"Astaghfirullah.... Maafin mama ya nak. Mamak mendadak lupa kalau ada anak tampan mama disini." Ucap mama dengan lirih.


"Iya, mamaku sayang. Lagian mana mungkin Adit bisa marah sama mamaku yang cantik ini, Bisia-bisa di coret dari Kartu Keluarga." Jawab Adit.


"Yallah kamu ini, suka banget ngusilin mamanya. Kamu sehat kan nak? Hari makan apa?" tanya mama Adit khawatir.


"Alhamdulillah, sehat ma. Hari ini Adit makan dengan lauk ayam bakar, sambal kecap dan lalapan ma. Ada salah satu warung kecil di dekat kampus Adit, warung itu menyediakan masakan rumahan. Harganya juga pas untuk mahasiswa dan pekerja kantor, tapi rasanya juga sangat enak."


"Warung itu dikelolah oleh seorang janda, ibu Nani namanya. Ia hanya hidup berdua dengan mertua perempuannya yang sudah tua dan sakita-sakitan. Walaupun hanya seorang mertua, bu Nani sangat menyayangi beliau." Adit menjelaskan dengan detail tentang ibu Nani. Sedangkan Echa dan dan sang mama hanya fokus mendengarkan cerita Adit.


"Sejak kecil, ibu Nani menjadi anak yatim piatu ma, cha. Itu sebabnya ibu Nani sangat menyayangi mertua perempuannya." Ujar Adit.


"MashaAllah, dit. Mulia sekali hati ibu itu, lalu bagaimana dengan suaminya? Apa sudah lama dia menjadi seorang janda?" tanya mama Adit penasaran.


"Baru beberapa tahun saja, ma. Suaminya meninggal akibat kecelakaan. Dan warung ia kelolah saat ini adalah hasil dari sumbangan kematian suaminya. Dulu dia hanya seorang ibu rumah tangga.Namun demi kelangsungan hidup mereka berdua, ia memutuskan membuka warung." Terang Adit.


"Beliau benar-benar wanita tangguh,pasti tidak mudah menjalani kehidupan sehari-hari dengan status beliau yang sekarang." Ucap Echa menanggapi.


"Kamu benar, cha. Menjadi seorang janda tidaklah mudah, apalagi akan banyak bisikan-bisikan sumbang di tengah masyarakat. Rasanya mama ingin bertemu dengan beliau." Mama menimpali ucapan Echa.


"Bagaimana dengan anak, kak? Apa beliau tidak memiliki anak?" tanya Echa lagi.


"Tidak, cha. Ibu Nani tidak seberuntung orang tua lainnya, memiliki keturunan dari pernikahan mereka berdua."


Echa dan mama hanya menganggukkan kepala, karena sejatinya untuk urusan itu sudah menjadi ketentuan ALLAH. Sedangkan manusia hanya bisa berencana dan berusaha.


Perbincangan antara ketiganya berlangsung cukup lama, mereka sepertinya saling melepas rindu dengan melakukan panggilan video. Beruntung zaman sudah semakin canggih, sehingga tidak harus datang ke tempat hanya untuk sekedar bertatapan muka.


Hampir satu jam mereka melakukan panggilan, hingga akhirnya Adit berpamitan untuk pergi membersihkan diri. Karena hari ini, ia berencan berkunjung ke tempat kost salah satu temannya. Salah satu temannya juga akan berkuliah di kota yang sama dengan Adit, hanya saja mereka berbeda kampus.


Setelah mematikan panggilan, Adit bergegas membersihkan diri. Ia juga ingin mengajak temannya berkeliling kota malam ini, karena besok ia akan mulai aktif di kampus.


Echa keluar dari kamar setelah panggilan berakhir, ia berniat membantu mama menyiapkan makan malam.


"Ma, mau masak apa malam ini?" tanya Echa pada mama saat tiba di dapur.


"Mama juga bingung, cha. Tadi papa kamu juga telpon, katanya malam ini papa akan malam di luar bareng temennya. Kebetulan hari ini ada teman papa yang berulang tahun, jadi sengaja mentraktir teman kantornya." Ucap mama.


"Jadi cuma kita berdua dan ibu Asih yang akan makan malam di rumah ma? Gimana kalau kita masak nasi goreng kampung aja ma, terus kita goreng sosis dan nugget sebagai pelengkapnya." Usul Echa.


"Boleh juga, cha. Selain hemat waktu dan simple, bahan-bahannya juga ada di kulkas." Jawab mama menerima usul Echa.


Keduanya sepakat memasak nasi goreng kampung untuk makan malam. Dengan cekatan mama dan Echa mulai mengeksekusi semua bahan yang tersedia. Selesai membuat nasi goreng, mama Echa meminta Echa untuk membersihkan diri. Mama dan Echa berencana makan bersama setelah melakukan sholat maghrib.

__ADS_1


Adzan maghrib mulai berkumandang. Sebagai umat islam mama dan Echa bergegas menghentikan mengambil wudhu dan segera melakukan kewajiban tiga rakaat. Echa dan mama menikmati makan malam yang mereka masak bersama tadi sore. Rasa gurih nasi goreng mama sangat memanjakan lidah Echa. Baginya, semua yang berasal dari tangan mama terasa sangat nikmat. Entah keajaiban apa yang Allah berikan kepada semua ibu, sehingga semua masakan yang mereka masak pasti akan terasa nikmat untuk anak-anaknya.


__ADS_2