Cupu Incaran Idola

Cupu Incaran Idola
CUPU INCARAN IDOLA PART 45


__ADS_3

Sejak kepergian Adit beberapa hari yang lalu, Inayah merasa sangat kesepian di rumah. Terutama saat sore hari, biasanya Adit sering mengajak Inayah untuk sekedar berkeliling komplek atau membeli es krim di salah satu minimarket terdekat.


Hari ini Inayah merasa sangat kesepian, karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan di luar rumah.


Drrtt... Drrtt....


Inayah yang tengah termenung di ruang TV berbalik meraih ponsel yang terletak di atas meja yang kini bergetar karena panggilan dari seseorang.


Nama kak Echa muncul di layar ponselnya. Dengan sumringah Inayah mengangkat panggilan telepon.


"Assalamu'alaikum, kak Echa." Salam Inayah.


[Waalaikumsalam, Inayah. Inayah sedang apa? Kak Echa ganggu gak?]


"Gak ganggu kok, kak. Inayah lagi bosen ni di rumah kak, papa sama mama lagi keluar." Ucapnya sendu.


[Kasihan banget sih adiknya kakak. Kakak boleh gak main kesana? Kebetulan hari ini kak Echa lagi kosong nih.]


"Boleh... Boleh banget. Inayah seneng kalau kak Echa main kesini." Jawab Inayah dengan gembira.


[Ya sudah, kakak siap-siap dulu ya. Inayah mau nitip sesuatu gak?]


"Hmmm... Apa yah? Inayah mau di bawain donat dong kak, Inayah lagi pengen makan donat." Jawab Inayah antusias.


[Oke, nanti kakak belikan. Inayah tunggu kakak datang yah. Kakak tutup ya sayang, assalamu'alaikum.]


"Waalaikumsalam, kak."


Inayah sangat senang menyambut kedatangan Echa. Inayah memang telah dekat dengan Echa, bahkan ia sudah menganggap Echa sebagai kakak sendiri.


Setengah jam kemudian, Echa datang dengan membawa sekotak donat pesanan Inayah. Echa segera mengetuk pintu utama kediaman Adit hingga beberapa kali. Inayah bergegas lari untuk membuka pintu depan. Inayah tampak girang dengan kedatangan Echa.


Ceklek...

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, adik cantik." Sapa Echa.


"Waalaikumsalam, kak." Jawab Inayah seraya memeluk Echa.


Mungkin banyak orang yang akan bertanya-tanya dengan kedekatan mereka berdua. Padahal keduanya baru beberapa bulan saja saling kenal. Namun, kedekatan mereka layaknya seperti seorang kakak dan adik.


"Ini kakak bawain pesanan Inayah." Echa menyodorkan sekotak donat yang ia bawa. "Pokoknya harus habis, ya. Kakak marah nih kalau Inayah gak habisin donat yang kakak bawa." Ucapnya lagi.


"Siap, kak. Nanti Inayah habisin semuanya, tapi bolehkan kalau Inayah mau bagi donatnya ke mama dan papa?" tanyanya dengan polos.


"Boleh, sayang." Jawab Echa.


Seperti biasa, Echa dan Inayah akan menghabiskan waktu di dalam kamar Inayah jika mereka sedang bersama. Mulai dari saling bertukar cerita, mengerjakan tugas rumah, menonton serial drakor, hingga makan pun mereka tak pernah meninggalkan kamar.


"Kak, telepon kak Adit yuk! Inayah tiba-tiba kangen nih sama kak Adit." Ucap Inayah.


"Boleh, bentar ya kak hubungi dulu. Semoga aja kak Adit gak lagi sibuk."


"Sepertinya kak Adit lagi sibuk Inayah. Sudah beberapa kali kakak telepon ke nomornya, tapi tidak ada jawaban." Ujar Echa.


Wajah Inayah terlihat masam setelah mendengar penjelasan Echa. Untuk mengalihkan pembicaraan, Echa mengajak Inayah untuk membuat puding buah.


"Inayah, gimana kalau kita buat puding buah? Kamu mau gak?" Ajak Echa.


"Puding buah? Boleh kak, aku juga pengen nyobain buat puding buah. Nanti kalau kak Adit pulang, aku bisa buatin puding buah spesial buat kak Adit." Jawab Inayah girang.


Inayah dan Echa kini tengah mempersiapkan beberapa bahan untuk diolah menjadi puding yang lezat. Ada anggur, strawberry, kiwi, semangka dan bubuk instan untuk membuat puding.


Inayah bertugas mencuci semua buah, kemudian mereka memotong buah bersama-sama. Selesai di potong, Echa mulai memasak bubuk puding yang telah ia siapkan. Inayah mulai menyusun aneka buah ke dalam wadah cetakan, setelah itu bubuk puding yang telah di masak di tuang ke dalam wadah dengan hati-hati. Untuk menambah rasa segar, Echa memindahkan puding tersebut kedalam lemari es.


Inayah tampak begitu menikmati setiap proses pembuatan puding buah. Wajahnya yang masam, kini terlihat sumringah. Bagi Inayah, membuat puding tidak lah begitu sulit untuk dilakukan.


Setelah menunggu sekitar 20 menit, puding buah yang tadi di buat kini telah siap untuk disantap. Echa dan Inayah merasa puas dengan hasilnya. Puding itu terlihat sangat enak dan menarik. Echa mulai memotong puding dengan hati-hati, kemudian meletakkannya di atas piring kecil yang sudah di lengkapi dengan sendok.

__ADS_1


"Wah.. Bagus banget ya kak pudingnya. Tidak kalah dengan puding yang di jual di toko kue." Ujar Inayah antusias.


"Iya dong, siapa dulu yang buat? Kak Echa gitu loh." Jumawa Echa kepada Inayah.


Mendengar jawaban Echa, Inayah tersenyum geli. Kak Echa yang terlihat begitu kalem ternyata bisa juga bersikap konyol.


Keduanya bergegas menuju meja makan untuk menikmati puding tersebut. Namun, saat hendak mulai menyantapnya, ponsel Echa berdering. Echa melihat nama kontak yang menghubungi, nama Adit tertera dengan jelas disana. Tanpa berfikir lama, Echa segera mengangkat panggilan vidoe dari Adit.


"Assalamu'alaikum, kak Adit." Salam Echa.


["Waalaikumsalam, echa." Balas Adit. "Maaf ya, cha. Tadi aku lagi keluar beli makanan, handphone aku ketinggalan di kamar. Jadi aku gak tau deh kalau kamu telpon aki." Terang Adit.]


" Iya, gak apa kok kak. Tadi tuh Inayah pengen banget nelpon kakak, dia bilang rindu dengan kakak." Jelas Echa.


" Inayah, emang kamu lagi dimana? Di rumah aku ya?" tanya Adit.


Echa hanya menjawab dengan anggukan kecil dan senyum yang manis.


"Oh, jadi cuma Inayah aja nih yang rindu sama aku? Kamu gak rindu ya?" Adit bertanya untuk menggoda Echa.


Mendengar ucapan Adit, wajah Echa terlihat kaget. Echa merasa malu membahasnya di depan Inayah.


"Kak Adit. .. Apa-apaan sih? Disini ada Inayah loh yang dengerin kita!" Inayah berbicara dengan suara manjanya.


Adit yang mendengar suara manja Echa jadi ingin cepat-cepat pulang dan segera menemui kekasihnya itu. Suara Echa menjadi candu untuknya.


Sekitar satu jam Echa, Inayah dan Adit melepas rindu dengan panggilan video. Inayah bercerita panjang lebar kepada Adit, hampir semua kegiatan yang ia lakukan ia ceritakan kepada sang kakak. Bahkan Inayah juga menunjukkan puding buah yang ia buat tadi bersama Echa. Inayah benar-benar menumpahkan semua rasa rindunya saat ini. Sejak dulu, Inayah tidak berjauhan dengan sang kakak dalam waktu yang lama.


Karena terlalu asyik bercerita, Inayah merasa lelah dan mengantuk. Inayah pamit dengan Adit, hingga akhirnya tertidur di pangkuan Echa. Adit yang melihat pemandangan yang indah itu hanya bisa tersenyum dari kejauhan.


"Terima kasih ya, cha." Ucap Adit.


"Terima kasih? Untuk apa?" Jawab Echa.

__ADS_1


__ADS_2