
Perawat yang bertugas di lantai kamar Guntur memberitahu mereka boleh masuk sekaligus asal tidak terlalu lama dan berisik. “Pasien tidak bisa tidur. Kesakitan,” kata perawat itu kepada mereka dengan wajah sedih.
“Mungkin sebaiknya aku masuk lebih dulu dan memberitahu daddy jika kalian datang menjenguknya,” ucap Gemintang. Tak ada yang keberatan, termasuk Raden yang bersikap dingin dan menjauhkan diri.
Gemintang mendorong pintu kamar rawat inap suaminya dan melangkah memasuki kamar. Rumah sakit memberikan kamar yang paling besar dan paling mahal. Karangan bunga berderet‐deret di sepanjang kusen jendela dan di meja TV.
Guntur memang tidak disukai orang-orang yang pernah berurusan dengannya, namun ia begitu di hormati dan di takuti, terbukti dari tumpukan kartu ucapan cepat sembuh dan deretan karangan bunga yang dikirim untuknya.
Sekarang Guntur tidak tampak menakutkan, ia mulai membuka mata dan melihat kedatangan Gemintang. Kulitnya abu-abu kekuningan, pucat seperti mayat, bibirnya biru, lingkaran hitam tampak di seputar matanya, tapi matanya tetap tajam dan berbinar-binar sebagaimana biasanya.
“Selamat pagi.” Gemintang membungkukkan badan ke arah Guntur, menggenggam tangan Guntur dan mencium keningnya. “Kata perawat kau tidak tenang sepanjang malam. Sama sekali tidak bisa istirahat?”
“Tak usah mengatur-atur aku, Gemintang.” Guntur menarik tangannya. “Aku akan segera pergi ke alam keabadian untuk beristirahat.” Guntur tertawa dengan susah payah. “Kau sudah menyelesaikan semua pembayaran gaji?”
“Ya, sudah” jawab Gemintang, sambil melangkah mundur dan menerima penolakan Guntur atas perhatian yang diberikannya. Guntur sakit parah, jadi bisa dipahami kalau ada sikapnya yang tidak menyenangkan.
“Bagus. Aku tidak ingin mereka mengira aku sudah mati.” Guntur meletakkan salah satu tangannya di perut dan meringis kesakitan.
Ketika rasa sakit Guntur mereda, Gemintang berkata dengan lembut, “Kau bersedia menerima tamu lain?”
“Siapa?”
“Laura dan Heny.”
“Heny! Perempuan munafik. Ia sangat membenciku sejak pertama kali mengenalku. Ia mengira aku menikahi Agatha karena uangnya. Ia menyalahkan aku sebagai orang yang menyebabkan Raden kabur dari rumah. Ia menimpakan kesalahan padaku atas setiap kejadian yang tidak beres dalam keluarga ini.”
“Mengapa kau tidak memecatnya beberapa tahun yang lalu?”
Guntur tertawa keras-keras dan baru berhenti ketika rasa sakit kembali menyerangnya. “Karena aku suka bertengkar dengannya. Ia mempertajam otakku. Sekarang ia menjengukku untuk mengejekku yang terkapar di ranjang ini. Ha!”
Gemintang pernah menyaksikan sikap Guntur yang seperti ini, tetapi ia tidak pernah memedulikannya dan membiarkannya sampai semua berlalu. Gemintang menyesali Guntur yang memilih bersikap seperti itu selama hari-hari terakhir mereka bersama. “Sudahlah, jangan marah-marah. Heny memetik bunga mawar dari taman untukmu.”
Guntur mendengus menyetujui bertemu Heny, pengurus rumah tangganya. “Laura tidak perlu datang ke sini. Tempat ini pasti sangat menakutkan untuk anak bodoh itu. Apakah ia tahu aku tidak akan pulang ke rumah lagi?”
Gemintang membuang pandang, menghindari tatapan mata Guntur yang tajam. “Ya. Aku sudah memberitahu dia kemarin.”
“Apa katanya?”
“Ia bilang kau akan pergi ke surga dan bersama-sama ibunya.”
__ADS_1
Guntur tertawa sampai sakit kembali menyerangnya. “Hmmm, hanya orang tolol yang berpikir demikian.”
“Boleh kuajak mereka masuk?”
“Ya, ya,” jawab Guntur, sambil melambaikan tangan dengan gerakan lemah. “Lebih baik kita segera menyelesaikannya.”
“Ada seorang lagi.”
Suara Gemintang yang tenang membuat mata Guntur kembali menatapnya nanar. Guntur memandang Gemintang dengan tatapan mata tajam, menyelidik, membuat Gemintang merasa tidak enak. “Raden? Raden yang datang?”
Gemintang mengangguk. “Begitu Randy meneleponnya, dia pulang.”
“Bagus, bagus, aku ingin berjumpa putraku, untuk menyampaikan beberapa hal padanya sebelum ajalku tiba.”
Hati Gemintang dipenuhi perasaan gembira. Inilah saat bagi kedua laki-laki keras kepala itu untuk menyelesaikan pertengkaran di antara mereka, dengan cepat Gemintang berjalan ke pintu.
Laura yang pertama kali masuk ke kamar. Ia lari menghambur ke ranjang dan melingkarkan tangan di leher ayahnya, memeluknya erat-erat. “Aku rindu Daddy pulang ke rumah,” ucapnya. “Kita punya seekor anak kuda. Cantik sekali.”
“Hmmm, baguslah, Laura,” jawab Guntur, lalu dengan lembut mendorong badan Laura menjauh darinya. Gemintang mengamati, berharap sekali saat itu Guntur membalas luapan sayangnya yang diperlihatkan putrinya kepadanya.
“Kau memetik bunga mawar?” Guntur menggumam dengan nada marah sambil melirik asisten rumah tangganya dengan alis berkerut.
“Persetan dengan bunga-bunga itu. Kau tidak bawa makanan untukku?”
“Tuan tidak boleh menyantap makanan yang bukan berasal dari rumah sakit.”
“Apa bedanya?” teriak Guntur. “Hah? Coba jawab.”
Guntur menatap perempuan‐perempuan itu seorang demi seorang dengan tatapan marah, baru kemudian memalingkan kepala ke arah putranya dengan sorot mata berapi-api. Beberapa saat kedua pria itu saling menatap. Tak ada yang bergerak. Akhirnya dada Guntur bergerak perlahan, memperdengarkan suara tawa rendah, dengan nada yang agak parau. “Masih marah padaku, Raden?”
“Aku sudah melupakan kemarahan itu beberapa tahun yang lalu, tuan.”
“Itukah sebabnya kau pulang kembali? Berdamai dengan orang tua ini sebelum ia meninggal. Atau ingin menghadiri pembacaan surat wasiatnya?”
“Aku tidak punya kepentingan dengan surat wasiat itu.”
Dengan bijaksana Heny maju selangkah. Ia khawatir pertemuan ini berubah menjadi tidak menyenangkan. “Aku akan mengajak Laura pulang sekarang. Laura, ayo cium Daddy, kita pulang.” Gadis itu dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Heny.
Guntur tidak memedulikan kepergian mereka. Matanya tetap tertuju pada putranya. Gemintang dibiarkan sendirian bersama dua generasi Buana yang hidup terpisah selama bertahun-tahun itu.
__ADS_1
“Kau tampak tampan, Raden,” ucap Guntur menganalisis. “Keras dan licik juga. Kelicikanmu tidak kelihatan di foto-foto penuh senyum yang muncul di surat kabar, tetapi aku melihatnya.”
“Aku punya guru yang sangat hebat, yaitu kau tuan.”
Tawa yang sama, tawa yang penuh kelicikan, kembali menggema di dalam ruangan. “Kau benar sekali, anakku, kau memang punya guru yang hebat. Satu-satunya orang yang tahu cara bertahan hidup di dunia ini. Bersikap licik terhadap setiap orang dan tak seorang pun bisa mengalahkanmu.” Guntur memberi isyarat dengan sikap tidak sabar. “Kalian berdua, duduk.”
“Aku lebih suka berdiri, terima kasih,” jawab Raden. Gemintang duduk di bangku yang tersedia. Tak pernah ia melihat air muka Guntur semasam itu. Pantas saja Raden terpaksa meninggalkan rumah. Ia tahu persaingan di antara mereka, tetapi tak terbayangkan situasinya seperti ini.
“Dari berita-berita yang kubaca, perusahaan penerbanganmu membuatmu kaya raya.”
“Rekanku dan aku sejak awal melihat peluang untuk Air Skyways. Sampai saat ini kami memang sudah melampaui target.”
“Kau punya filosofi bagus. Mengangkut penumpang, menurunkan penumpang, tarif rendah, pesawat tak pernah berhenti terbang. Kau meraup untung sementara penerbangan lain tak sanggup bertahan di bisnis penerbangan.”
Raden terkejut mendengar ternyata ayahnya mengikuti kesuksesan perusahan penerbangannya, namun ia tidak memperlihatkan raut keterkejutannya itu. “Seperti yang kukatakan, kami senang dengan kesuksesan ltu.”
Perawat masuk ruangan dengan membawa jarum suntik. “Saya ingin menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, Mr. Buana.”
“Suntikkan saja jarum itu ke bok*ngmu sendiri, jangan ganggu tubuhku,” teriak Guntur pada si perawat.
“Guntur,” ujar Gemintang, terkejut dengan kekasarannya pada perawat.
“Dokter yang memerintahkannya, Mr. Buana,” jawab perawat itu tegas.
“Aku tak peduli omong kosong dokter. Ini hidupku, aku tidak ingin mendapat suntikan penghilang rasa sakit. Aku ingin merasakan segalanya. Mengerti? Sekarang, cepat keluar dari sini.”
Si perawat mengatupkan bibir, menunjukkan sikap kesal, namun ia keluar juga dari kamar.
“Guntur, ia hanya melakukan...”
“Tak usah mengatur-atur aku, Gemintang!” Tak pernah Guntur bicara dengan nada seperti itu pada Gemintang sebelumnya. Gemintang segera mundur, seperti habis ditampar. Ia diam, mengatupkan bibir. “Jika yang kudapat darimu hanyalah perasaan iba, sebaiknya kau tak usah datang lagi.”
Sambil menarik napas panjang, Gemintang menyambar tas lalu meninggalkan kamar dengan sikap penuh wibawa. Begitu pintu kamar tertutup kembali, Raden berbalik ke arah ayahnya.
“Kau memang manusia brengsek.” Mata Raden tampak berapi-api. Setiap otot di tubuhnya yang atletis menegang karena menahan marah. “Kau tidak berhak bicara kasar padanya, aku tak peduli betapa parah sakitmu.”
Guntur tertawa geli. "Aku punya hak. Dia istriku. Ingat itu?”
Raden mengepalkan tinjunya di paha, iatidak tahan untuk tidak mendengus marah sebelum meninggalkan kamar itu.
__ADS_1