
Setelah diam beberapa saat, Gemintang akhirnya berkata, “Apakah perusahaan penerbanganmu berjalan dengan baik sekarang ini?”
“Belum sepenuhnya. Aku sudah mendapat izin jadi pilot penerbangan carter, aku terus mengumpulkan jam terbang, meningkatkan kualifikasiku agar mendapat izin menerbangkan pesawat yang lebih besar. Aku bertemu rekan kerjaku dan kami merencanakan punya pesawat carter sendiri. Kalau ada perusahaan penerbangan yang bangkrut, pesawat‐pesawatnya dijual dengan harga murah, dan kami berhasil mengumpulkan uang untuk membelinya. Bisnis kami maju sekali sehingga kami berhasil melunasi utang jauh sebelum waktu yang ditetapkan, banyak permintaan yang tak dapat kami penuhi. Kami membeli pesawat yang lebih besar, makin lama makin banyak.”
“Dan akhirnya sampai di titik ini?”
“Ya.”
Lingkaran cahaya lampu jatuh menyinari mereka. Rambut Gemintang yang hitam tergerai sampai ke bahu, menyatu dengan rok hitam yang dipakainya. Hanya sebagian wajah dan lehernya yang kelihatan putih di bawah sinar lampu yang kekuningan itu. Matanya berbinar-binar ketika menatap mata Raden.
“Gemintang?” panggil Raden lembut.
Dada Gemintang berdegup cepat. “Ya, Raden?”
“Apakah kau pernah ingat sewaktu kau tidur dengan ayahku?”
__ADS_1
Kata-kata Raden seperti belati yang dihujamkan ke dadanya, ia menangis pilu dan bangkit dari sofa. “Brengsek kau, Raden! Jangan pernah menyinggung soal itu denganku.”
Raden pun bangkit dari duduk dan berhadap-hadapan dengan Gemintang. Dagunya agak diangkat dengan sikap angkuh. “Aku ingin tahu. Apakah pernah hati kecilmu terusik, bagaimana kau bisa menikah dengan Daddy setelah kita menjadi sepasang kekasih?”
“Aku kekasihmu, tapi kau meninggalkanku."
“Benar. Aku meninggalkanmu karena aku tak ingin menyakitimu, ayahku akan melukaimu jika aku menemuimu di hutan dan tetap mempertahankan hubungan kita dan menolak menikahi Willona. Bukan hanya kau yang akan terluka, aku tidak sanggup jika ayah membuang Laura ke panti.”
Raden mengertakkan gigi dan suaranya merendah. “Aku ingin menjadi orang pertama, yang tidur denganmu dan menjadikanmu milikku untuk selamanya.” Raden maju selangkah. "Kau sungguh istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah ku temui, aku mencintaimu lebih dari apa pun."
“Kau tahu apa sebabnya aku tidak mengontakmu? Aku tidak ingin melibatkanmu dalam persoalanku dengan Willona, Guntur akan tahu jika aku menelepon atau menulis surat untukmu. Ketika masalahku beres, kau sudah kuliah dan aku mendapat kabar kau sudah menikah. Aku menghapus harapan untuk bertemu denganmu. Kabar berikutnya yang kudapat, kau sudah berbagi ranjang dengan daddyku!”
Gemintang menutup wajahnya dengan kedua tangan. la dapat menangkap gelombang kebencian yang ditujukan kepadanya. Gemintang menurunkan tangan, dengan berani balik menatap mata Raden yang penuh kemarahan. “Kita tidak bisa begini terus, Raden,” katanya lembut. “Kita terus saling menyalahkan”
Bahu Raden terkulai. Untuk kesekian kali ia menyibakkan rambut. “Aku tahu. Aku akan meninggalkan tempat ini besok pagi.”
__ADS_1
Hati Gemintang hancur berkeping-keping. Ia tidak bermaksud menyuruh Raden pergi, ia hanya ingin mereka berdua berdamai. “Kau tidak harus meninggalkan tempat ini. Aku yang akan pergi. Ini rumahmu. Ini hanya tempat tinggal sementara bagiku, setelah Guntur meninggal, aku tidak berhak tinggal di sini lagi.”
“Bila kau pergi dan aku tinggal di sini, apa kata orang nanti? Mereka akan bilang aku mengusir janda daddyku. Tidak. Aku akan kembali ke Jakarta besok.”
“Tetapi pembacaan surat wasiat dan pabrik…” Gemintang mencoba memberi alasan yang masuk akal agar Raden tetap tinggal di situ. Memang tak ada masa depan untuk hubungan mereka berdua, tetapi ia tidak kuasa melihat Raden meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Jangan pergi dulu. Nanti saja, jangan sekarang.
“Aku akan datang ke sini lagi pada hari pembacaan surat wasiat. Setelah itu baru kita atur bagaimana yang terbaik. Menurutku lebih baik kau di sini besama Laura. Soal pabrik…” Raden tersenyum sinis. “Jalankan saja seperti biasa, seperti saat kau menjalankannya semasa Guntur masih hidup.”
Raden maju beberapa langkah agar berada dekat Gemintang, ia merangkul Gemintang, mendekatkannya ke kepala Gemintang terkulai ke belakang ketika Raden menunduk ke dekat mukanya.
“Jangan pandang aku seperti itu. Kau kira aku ingin meninggalkan tempat ini? Ini rumahku? Tempat tinggalku? Laura dan Heny?” Suara Raden tiba‐tiba merendah. “Kau?” Ia menarik tubuh Gemintang lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya.
Bibirnya didaratkannya di bibir Gemintang dengan penuh gairah, Gemintang membuka mulut dan membiarkan bibir Raden melum*tnya. Lidah Raden meluncur masuk ke mulut Gemintang yang manis tapi hangat. Diciuminya Gemintang berlama-lama. Raden ingin menikmati seluruh bibir Gemintang secara utuh.
Mendadak Raden menghentikan ciumannya, suara Raden parau, seperti suara orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Gemintang. “Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya!!" kemudian ia pergi meninggalkan Gemintang.
__ADS_1