
Menjelang mereka selesai makan, tempat itu semakin gaduh. Lebih banyak peminum dan penari yang datang ketimbang orang yang hendak makan. Suara mereka sangat ingar bingar.
Begitu menerima tagihan dari pelayan, mereka langsung pergi ke kasir yang berada di ujung bar. Tagihan makanan mereka sedang di total ulang karena Raden memesan satu soda lagi sebelum meninggalkan tempat.
“Pasti senang ya, langsung ada yang 'masuk' lagi setelah Daddy pergi?” ucap salah satu orang yang berada tak jauh dari mereka berdua.
Tangan Raden yang tengah memegang uang seketika tak bergerak. Gemintang melihat urat nadi di pelipis Raden menonjol dan rahangnya mengeras karena marah.
Pria itu tertawa. “Benar sekali, Sam. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada mendapatkan yang lebih segar dari daddynya."
Dengan tenang Raden meletakkan uang di bar.
“Raden, ayo pergi,” ajak Gemintang sambil menggandeng lengan Raden. Raden menepis tangan Gemintang.
Gemintang melirik ke sekelilingnya, seseorang mengecilkan suara musik, seketika para penari berhenti, dan yang lainnya bergerak menjauhi dua orang pemabuk itu agar mereka menyadari apa yang baru mereka sulut.
Ketika Raden berbalik menghadapi mereka, sorot maranya memancarkan binar yang membuat Gemintang takut. “Apa yang tadi kau ucapkan?” Bibir Raden hampir tak bergerak ketika mengucapkan pertanyaan tersebut, suaranya tenang dan mematikan. Salah seorang dari mereka melirik temannya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Tuan Buana,” ujar manajer bar, “Mereka orang baru di kota ini. Mereka tidak tahu apa‐apa tentang keluarga Anda. Mereka hanya bergurau. Tak perlu Anda pedulikan. Saya yang akan mengusir mereka pergi.”
Manajer itu seharusnya tidak perlu ikut campur, karena Raden tidak akan memedulikannya. “Apa yang kau katakan tadi?” ulang Raden dengan suara lebih keras. Ia maju mendekati kedua pria itu, yang berdiri di dekat bar.
“Hmmm, kami tadi hanya bilang, betapa beruntungnya Anda, karena punya ayah yang mewariskan wanita yang miskin namun mempesona, sebelum dia meninggal.”
__ADS_1
Gemintang mengangkat tangannya yang gemetar untuk menutupi mulutnya dan mencoba menghindari sorot mata orang-orang yang diarahkan padanya. Ia tahu bahwa yang mereka ingat adalah meskipun ia sekarang hidup lebih baik, dia tetaplah berasal keluarga miskin.
Pria itu hampir tak bisa bicara karena tertawa geli mendengar kepiawaian temannya berkata-kata. “Apakah ayahmu mengajarinya beberapa taktik untuk menyenangkan, janda, nak? Apakah ayahmu memberikan....”
Pria itu tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya karena tinju Raden telah terlebih dahulu mendarat di dagunya, membuatnya melayang jatuh ke panggung, pria itu sudah pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Sementara temannya yang satu lagi, langsung tersadar dari mabuknya, ia segera berlutut ke arah Raden dengan ketakutan. “Ka... Ka... Kami... tidak bermaksud apa-apa dengan perkataannya, tuan Buana. Kami hanya bercanda...”
Tak menerima alasan, Raden mendaratkan tinju Raden di tulang pipinya. Ia menjerit kesakitan dan jatuh terjerembab. Raden berdiri di hadapannya, napasnya memburu, tinjunya dikepalkan kemudian diturunkannya ke samping.
“Minta maaf padanya,” perintahnya dengan suara perlahan tapi mengancam. “Sekarang!!”
Pria itu berjalan sempoyongan menahan sakit, kedua tangannya memegang pipinya, seakan hendak menjaganya supaya tidak retak. Satu-satunya suara yang bisa diucapkannya hanya gumaman tak jelas.
Gemintang segera mendekati Raden dan memegangi lengannya. “Sudahlah, Raden,” mohon Gemintang mengiba. “Ayo kita pergi. Ia sudah tidak bisa bicara. Aku tidak apa-apa. Ayo cepat tinggalkan tempat ini. Aku tidak tahan melihat semua mata memandangku. Ayo, cepat pergi!”
Raden menggeleng seperti hendak menjernihkan pikiran. Kemudian ia berbalik ke arah kasir, dengan marah menepiskan tumpukan bon, sambil memasukkan uang kembalian ke saku celana jins, menggandeng tangan Gemintang , dan menuntunnya ke pintu.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah, tetapi mesin pickup itu bukan mesin mobil sport. Raden sangat kesal ketika akhirnya mesinnya terbatuk-batuk dan tidak bisa lari secepat yang diinginkannya.
Ketika tiba di rumah, ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Gemintang, tetapi ia tidak menunggu Gemintang turun, ia langsung masuk ke rumah. Gemintang mengikutinya dan menemukannya mondar-mandir di ruang kerja.
Gemintang menutup pintu ketika memasuki ruangan dan melemparkan tas ke kursi terdekat.
__ADS_1
Raden melotot ke arah Gemintang . “Kau lihat apa yang dipikirkan orang-orang? Mereka mengira kau sudah tidur dengan ayahku.”
“Dulu aku kan memang istrinya. Mereka seharusnya mengira apa?”
Raden menyibakkan rambut. “Aku rasa aku jadi bahan tertawaan penduduk kota ini. Pasti setiap orang senang menggosipkan hal itu. Aku mengambil alih apa yang ditinggalkan si bandot tua.”
“Apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku, apa yang mereka pikir tentang diriku?” Gemintang memegang dadanya. “Mereka mengira aku merayu ayahmu agar mau mengawiniku. Kini mereka berpikir aku merayu anak tiriku. Apa pun yang mereka katakan tentang dirimu tidak seburuk yang mereka katakan tentang aku. Aku benar-benar anak miskin, ingat? Bagi mereka aku tetap orang miskin dan selalu miskin."
"Aku yakin isi surat wasiat itu kini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang tahu aku tidak diwarisi apa pun. Seluruh kota mungkin tahu aku mengemis-ngemis padamu karena kau yang mendapat rumah ini.”
“Hei, hei mereka menghinaku bukan dirimu. Lagi pula setiap orang tahu bagaimana kesuksesan usaha penerbanganmu.”
“Mereka semua tahu betapa aku sangat mencintai tempat ini juga. Mereka mungkin mengira aku ini tak ubahnya kuda pejantan buatmu sehingga bisa tetap tinggal di sini.”
Gemintang seakan habis ditampar tangan Raden. “Aku tidak suka kau bicara seperti itu.”
“Mengapa kau tidak mau membicarakannya? Mari hadapi kenyataan. Tidakkah memang itu yang kulakukan?” tanya Raden. “Apa tujuanku ada di sini? Laura sudah punya Adit yang bisa menjaganya. Heny sibuk sepanjang hari seperti induk ayam. Yang kulakukan hanyalah menjaga nyonya rumah agar tetap bahagia dan puas di tempat tidur.”
Mata Gemintang berkaca-kaca karena perasaan marah dan sakit hati, atas kata-kata yang di lontarkan Raden.
“Aku merasa begitu sampai akhirnya aku sadar setiap orang mengira aku menggantikan Guntur di tempat tidur.” Raden melangkah ke pintu.
Gemintang merasa hatinya hancur berkeping-keping ketika Raden menutup pintu, meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1