
Hari masih pagi ketika ia terbangun. Gemintang ingin tidur lebih lama, ia tidak ingin bangun, ia takut menghadapi penyakit yang diderita Guntur dan bertemu Raden yang kini kembali pulang.
Sinar matahari belum menerangi pucuk pepohonan, namun cahayanya yang berwarna jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Sebuah bintang dan bulan separo tampak jelas di langit yang bersih. Kabut bergulung naik, meninggalkan permukaan rumput yang berembun. Lagi-lagi udara akan lembap hari ini.
Tepat di bawah lantai ia berdiri, Gemintang melihat Raden memasuki serambi. Raden tampak terpaku di anak tangga paling bawah dan melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Gemintang tahu pasti tempat yang sangat di sukai oleh Raden. Tempat yang sangat berarti buat Raden, sepenting tarikan napasnya. Gemintang merasa iba, membayangkan Raden, yang memaksakan diri bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat disayanginya.
Dengan langkah pelan Raden menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel bergaya sport. Gemintang terus mengamati Raden yang merogoh saku depan, mencari-cari kunci mobil.
Raden membuka pintu mobil lebar-lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Gemintang yang memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Raden menopangkan tangan pada atap mobil, balas menatap Gemintang.
Gemintang tetap berdiri terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Raden, hanya matanya yang bicara. Mereka saling menatap. Saling memandang. Beberapa saat lamanya, sampai akhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raden memasuk mobil dan melaju pergi.
Dengan perasaan sedih Gemintang kembali ke kamar dan berganti pakaian. Dipandanginya dirinya di depan cermin, bertanya-tanya, “Bagaimana bisa terjadi seperti ini?”
Satu‐satunya pria yang pernah dicintainya hanyalah Raden. Ia merasa dirinya tolol sekali waktu itu, begitu memercayai cerita Raden, padahal kata-kata Raden tidak punya arti apa-apa. Dirinya hanyalah sekadar mainan baru buat Raden.
Namun nasib yang tak bisa ditebak, Gemintangmenikah dengan daddynya Raden. Daddynya Raden! Ketika Guntur melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Untuk mendapatkan kehormatan, dan uang. Orang‐orang yang selama ini merendahkannya, menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Raden sudah pergi, takkan pernah muncul kembali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benaknya ada kemungkinan Raden akan kembali? Bagaimana perasaannya bila Raden benar-benar kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia menikah dengan Guntur karena ingin membahagiakan Guntur, membantu mengurus bisnisnya, menjadi teman Laura, bukan karena ingin membuat Raden cemburu dan sedih sebab laki‐laki itu meninggalkan dirinya seenaknya? Tidakkah ini hanya pembalasan untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggungnya ketika Raden meninggalkannya? Tidakkah diam-diam ia berharap Raden mendengar kabar pernikahannya.
Heny sudah ada di dapur ketika Gemintang turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. “Selamat pagi,” sapa Gemintang.
__ADS_1
“Pagi sekali kau bangun,” komentar Heny dari balik punggungnya.
“Aku harus membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa beristirahat.” Gemintang menyeruput kopi. “Kau juga bangun lebih pagi dari pada biasanya.”
“Aku ingin menyiapkan sarapan istimewa untuk Raden.”
“Ia sudah pergi, Heny.”
Heny berbalik dan menatap Gemintang, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang didengarnya. “Sudah pergi?”
“Ya, kira-kira sejam yang lalu.”
Heny menggelengkan kepala, sambil berdecak. “Tidak teratur makannya anak itu. Aku sibuk membuat sarapan, dia malah keluar lebih cepat, bahkan sebelum aku sempat menghidangkannya.”
“Baiklah,” sahutnya, sambil menggerutu. “Tetapi suasana tetap lain kalau tanpa Raden."
Heny betul, batin Gemintang sambil berjalan ke pintu belakang menuju kamar kerja Guntur. Dengan perasaan sakit ia mengenang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Raden tidak muncul di tempat janjian mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Gemintang mendengar kabar tentang Raden yang akan menikah dengan Willona gadis dari keluarga terpandang ibu kota, membuat dunia Gemintang pun berubah.
Gemintang memeriksa pembukuan cepat-cepat tanpa berpikir. Waktu ia menelepon ke pabrik, mandor yang bekeja pagi melaporkan segalanya berjalan lancar.
“Tetapi ada satu mesin yang tidak beres. Namun Anda tak perlu mencemaskannya pada saat seperti sekarang ini.”
__ADS_1
“Aku yakin kau mampu mengatasinya. Seama suamiku masih hidup, tanggung jawab tetap ada padanya, aku akan memberikan laporan kepadanya.”
“Baik, nyonya,” jawab mandor itu sebelum menutup telepon.
Gemintang tahu beberapa karyawan laki-laki di pabrik tidak suka menerima perintah dari perempuan, terutama perintah darinya. Namun, andai pun perkiraannya itu benar, mereka tidak akan pernah berani mengungkapkan pendapat mereka itu. Mereka sangat takut pada Guntur. Tetapi apa yang akan terjadi bila Guntur tiada?
“Ada masalah?”
Gemintang seketika mendongak dan melihat Raden di ambang pintu. Gemintang sadar alis matanya berkerut karena dilanda perasaan cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri. “Masalah kecil. Kau kan paham keadaan pabrik."
“Sebetulnya, aku tidak tahu.” Raden menjawab sambil melangkah masuk. Jaket sport disampirkan di pundak, ditahan jari telunjuknya. Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan lehernya yang kecokelatan dan bulu dadanya yang hitam lebat. “Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum banyak terlibat dengan urusan pabrik daddy.” Kini Raden berdiri di dekat mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Gemintang. “Bagaimana kalau kau beritahu aku, boss lady?”
Tersulut perasaan marah, Gemintang langsung bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena, menantikan bunyi bel untuk memulai pertandingan.
“Kakak, Heny memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untukmu dan ia ingin kau memakannya.” Dengan riang Laura memasuki ruangan dan memeluk Raden, kakak laki-lakinya. “Selamat pagi, Tante Gemintang. Aku juga diminta membawakan sarapan untukmu. Heny berpesan kau tidak boleh menolaknya.”
Mereka tidak jadi berdebat lagi, tetapi Raden tidak membiarkan Gemintang lolos begitu saja. Ia menjulurkan tangan ke hadapan Gemintang. “Gemintang.” Gemintang tidak punya pilihan lain, kecuali membiarkan tangannya digenggam tangan Raden dan membiarkan dirinya dituntun ke meja makan.
Namun Raden tidak melepaskan genggaman tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Kalau Raden menggenggam tangan Laura, itu tidak jadi masalah. Tetapi bila telapak tangan Raden bersentuhan dengan telapak tangannya, jari-jarinya mencengkeram kuat jemarinya seakan ia miliknya, bulu roma Gemintang jadi bergidik.
Kendati makanan yang dihidangkan Heny sangat istimewa, Gemintang tidak dapat menikmatinya. Raden kelihatan tidak terlalu senang melihat Adit duduk di samping Laura. Adit berkali-kali melemparkan pandang resah ke sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan ingin segera diizinkan meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Sikap permusuhan antara Raden dan Gemintang terlihat jelas meskipun mereka berusaha bersikap biasa saja.