
Ketika bel rumah berbunyi, Gemintang membuat Raden cemas, karena Gemintang melompat dan lari ke teras. “Aku yang buka. Nikmati saja minuman kalian.”
“Bagaimana ia menyuruhku menikmati minuman sementara ia melompat-lompat seperti kelinci?’ tanya Raden. “Ia seharusnya berhati-hati selama beberapa bulan pertama ini, bukan?”
“Aku rasanya tidak percaya Gemintang akan punya anak,” ucap Laura kepada kakak laki-lakinya.
“Yang aku tidak percaya adalah aku orang yang terakhir mengetahui hal itu,” sahut Raden sambil menatap Adit dengan tatapan menyelidik. “Mengapa kau tidak meneleponku dan memberi tahu jika Gemintang hamil? Aku seperti pria brengsek yang lari dari tanggung jawab.”
Adit mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. “Itu bukan kewajibanku.”
Raden mengernyit. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi terdiam karena kemunculan Gemintang di ambang pintu. “Sayang, ada yang ingin bertemu denganmu.”
Gadis remaja itu menatap ke sekeliling ruangan yang asing baginya dengan sorot mata gugup, ia menggigit-gigit bibir.
Yang membuat Gemintang lega, gadis itu tidak memoles bibirnya dengan lipstik mencolok. Ia juga tidak memakai anting-anting berbentuk jepitan kertas di telinga, dan tata riasnya tidak semencolok waktu mereka bertemu. Pakaiannya sederhana, rambutnya pun rapih.
“Nyonya Gemintang bilang aku boleh datang ke sini,” ucap Alyssa defensif, sambil menoleh ke arah Gemintang. “Aku sudah bilang padanya mungkin ayah tidak ingat aku lagi, tetapi dia bilang ayah tetap ingat, jadi…”
Gemintang melihat perubahan raut wajah Raden, dari heran, terkejut, lalu gembira. Ia menggumamkan nama gadis remaja itu, mengulanginya, makin lama makin keras. Raden merentangkan tangan ketika berada di dekatnya. Tetapi ia tidak ingin membuat gadis remaja tersebut takut. Sesaat ia berhenti dengan tangan tetap direntangkan.
Gemintang mengamati bibir gadis remaja itu bergetar, matanya berkaca-kaca. Alyssa berusaha keras menahan air matanya agar tidak menitik, tetapi gagal. Sisa ketegarannya tak bertahan lagi, ia lari menghambur ke dalam pelukan Raden, menggosok-gosokkan wajah di dada Raden dan memeluk pinggang pria itu. "Ayaaahh...."
"Alyssa, putriku," Raden mendekap hangat gadis itu, keduanya larut menumpahkan kerinduan yang selama bertahun-tahun tak jumpa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kau benar, dia anak yang manis,” ucap Gemintang saat mereka berada di kamar, hendak mengganti baju dan Alyssa sudah pulang. "Anak itu hanya salah didik, perlu arahkan dan di sekolahkan dengan benar. Seharusnya kau lihat dia ketika aku berkenalan dengannya. Dia kelihatan seperti wajah yang ada di film-film horor.”
“Sudah berapa lama kalian bersahabat?” tanya Raden.
__ADS_1
“Beberapa minggu. Kami berjumpa dua kali di kota untuk minum milk shake. Aku mengundangnya ke sini malam ini untuk makan malam dengan kemungkinan kau akan pulang.” Gemintang membalikkan badan. “Aku gembira kau pulang," ucapnya lembut.
"Kau adalah alasan mengapa aku pulang."
“Kau tadi lihat raut wajahnya ketika kita akan mengajaknya berlibur?" tanya Gemintang.
"Kurang ajar si jal*ng Willona itu. Aku yakin dia tidak pernah membawa anak itu ke mana-mana. Kau memberi pengaruh baik padanya.”
“Tidak sebanding dengan kebaikanmu. Aku ingin kita bersamanya sesering mungkin, dan mengarahkannya menjadi gadis yang manis seperti dulu. Tapi apa kau yakin ingin ke pantai dengannya?”
Gemintang menatap cermin dan dengan malas-malasan menepis rambutnya ke belakang. “Seluruh warga kota akan ada di sana....”
Gemintang tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Raden datang ke belakangnya, membalik tubuhnya, dan menciuminya. Akhirnya ia mengangkat kepala. “Setelah pengumuman pernikahan kita, aku akan mengajakmu berkeliling bersama Alyssa. Kita akan menyapa setiap orang yang kita temui, dan aku akan mengatakan kepada setiap orang, siapa pun yang ingin tahu dan tidak ingin tahu, betapa aku sangat menyayangi kalian.”
Gemintang meletakkan dahinya di dada Raden. “Aku sangat mencintaimu. Kau sangat baik.”
“Kau juga sangat baik,” bisik Raden, sambil menjauhkan tubuhnya dengan lembut. Matanya menatap seluruh tubuh Gemintang penuh hasrat. Baju tidur yang menampakkan lekuk tubuh Gemintang sangat menggairahkannya, menonjolkan payu*ara, pangkal pahanya. “Kau cantik sekali, Gemintang.”
“Raden, tunggu. Aku… aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu.”
“Aku juga punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” gumam Raden sambil membenamkan kepala. “Apakah pemberianmu bisa menunggu?”
“Aku… aku kira… bisa.”
“Aku tidak,” ucap Raden sambil mengambil tangan Gemintang dan meletakkannya di kejantanannya.
Raden mengaitkan jarinya pada c*lana d*lam Gemintang dan menariknya ke bawah sehingga Gemintang bisa melepaskannya. Gemintang berdiri di hadapan Raden dalam keadaan telanjang bulat. Raden menggendongnya ke ranjang. Gemintang berbaring, Raden membuka ****** ******** dan menindihkan tubuhnya yang juga tanpa selembar pakaian pun di atas tubuh Gemintang.
Ia berlutut di antara paha Gemintang. “Aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, Gemintang. Dulu aku mengumpat datangnya hari baru. Karena aku terbangun dengan pikiran melayang padamu, mencari dirimu, memikirkan apa yang kaulakukan, kauinginkan, ingin sekali melihat wajahmu. Kini aku menantikan datangnya hari baru, karena aku bangun tidur untuk mencintaimu dan tahu kau pun mencintaiku.”
__ADS_1
Raden menyentuh perut Gemintang dengan bibirnya. Ia yakin bayinya tidur dengan aman di dalam perut perempuan yang sangat dicintainya itu. Gemintang meletakkan tangannya di kepala laki-laki yang dicintainya dengan takjub karena ternyata hidup menganugerahkan kebahagiaan sedemikian rupa. Hasrat dan cinta saling bertaut, menerpa tubuh Gemintang seperti angin sepoi-sepoi.
Dengan tangan yang masih mengelus p*yudara Gemintang, Raden menunduk, mencium tubuh Gemintang. Ia tidak ingin menahan diri lebih lama lagi, ia ingin memberikan segalanya.
“Tidak akan melukai bayinya?’ Raden menaikkan tubuhnya ke atas tubuh Gemintang dan menyatukan diri mereka.
“Tidak sayang.”
Raden menguasai Gemintang dengan perasaan yang meluap-luap, penuh cinta dan kasih sayang. Pinggulnya bergerak berirama. Gemintang mendekap Raden erat‐erat. Mereka saling memberi dan menerima sebagai ungkapan cinta mereka yang membara. Setelah mencapai puncak, mereka menikmatinya berbarengan, bersama berpacu meraih puncak surga dunia sambil berpelukan.
Beberapa saat kemudian, selagi mengeringkan tubuh sesudah mandi, Gemintang berkata, “Kau tidak memberiku kesempatan untuk memberikan hadiahku padamu.”
“Maksudmu, mau tambah lagi?” Sambil menggoda Raden menepuk b*kong Gemintang. “Aku tidak mampu memberikan yang lebih istimewa dari apa yang barusan kuberikan padamu.”
“Ini serius.” Gemintang beranjak ke lemari antik dan membuka lacinya. Dari dalam laci ia mengeluarkan selembar kertas. Diberikannya kertas itu kepada Raden, lalu ia berdiri di jendela, membelakangi Raden.
Bulan purnama memancarkan sinar keperakan di permukaan rumput yang terhampar luas. Sungai yang berkelok‐kelok di antara pepohonan di kejauhan tampak seperti pita yang berkilauan. Gemintang sangat mencintai tempat ini. Tetapi ia jauh lebih mencintai laki‐laki yang menempati tempat ini.
Gemintang mendengar suara gemeresik kertas. Ia tahu Raden sedang membaca tulisan yang berisi keputusan rumah ini dialihkan menjadi miliknya. Suara langkah kaki Raden yang mendekati Gemintang diredam ketebalan permadani di sekelilingnya.
“Aku tidak bisa menerima ini, Gemintang. Rumah ini milikmu.”
Gemintang berbalik menghadap Raden. “Tidak pernah akan menjadi milikku, Raden. Rumah ini senantiasa akan menjadi milikmu. Itulah sebabnya aku sangat mencintai tempat ini. Tanpa kau di dalamnya, rumah ini tidak punya arti apa-apa. Kaulah detak jantungnya. Sebagaimana arti dirimu bagiku.”
Gemintang mendekati Raden dan meletakkan tangannya di dada pria itu. “Karena cintaku padamu, aku memberikan apa yang kurasa sangat kucintai di dunia ini. Cintailah aku apa adanya.”
Raden menatap Gemintang beberapa saat, kemudian menatap kertas di tangannya. Digulungnya kertas itu dengan hati‐hati, dan disimpannya di lemari. “Aku terima dengan satu syarat. Bahwa kau bersedia tinggal di rumah ini bersamaku seumur hidupmu. Kau berjanji kita akan selalu saling mencintai di sini dan punya anak di sini. Kita tidak akan pernah membiarkan kepedihan hidup yang pernah menimpa diri kita terjadi lagi.”
Gemintang tersenyum bahagia. “Aku berjanji.”
__ADS_1
Raden menciumnya sebagai tanda sumpah setia. Kemudian ia memeluk Gemintang dan menggendongnya kembali ke tempat tidur mereka.
...-Selesai-...