Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 39


__ADS_3

Disclaimer⚠ BAB ini mengandung adegan dewasa, di mohon untuk bijak dalam membacanya😊


Ketika pintu kamar Gemintang di tutup oleh, sinar matahari merangkak naik di ufuk timur, sinar tersebut menjadi satu-satunya cahaya dalam kamar Gemintang yang, menyelinap menembus tirai tipis kamar.


Gemintang memeluk Raden, pelukan ini bukan lagi pelukan gadis remaja dua belas tahun yang lalu, melainakan pelukan perempuan dewasa yang membutuhkan kehangatan tubuh Raden, dan ingin memberikan seluruh dirinya kepada pria itu.


Raden merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang energi seperti yang dirasakan Gemintang. Gemintang mendekap Raden erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Raden, bulu dada Raden yang lebat menggelitik hidung Gemintang. Di dada yang bidang itu, Gemintang tersenyum.


Raden balas memeluk Gemintang. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Gemintang yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bok*ng Gemintang yang berisi. Dipegangnya bok*ng itu dengan lembut, dielusnya, kemudian direm*snya dengan penuh hasrat.


Kejantanan Raden bereaksi. Keduanya merasakan hal itu, desah napas mereka memburu, dan menggema.


“Gemintang, Gemintang,” desah Raden sambil menciumi rambut Gemintang yang basah, lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan mencium bibir Gemintang yang membuka. Bibir mereka saling memagut, lidah mereka saling menjilat.


Gemintang membiarkan Raden mendominasinya, membiarkan lidah Raden menyelinap masuk ke mulutnya. Lidah pria itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Gemintang.


Seluruh panca indra Gemintang tergetar, getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian mencapai puncaknya ketika Raden menjulurkan lidah makin jauh ke dalam mulutnya, berputar-putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti melayang-layang.


Sambil mengangkat kepala, Raden meletakkan tangannya di pundak Gemintang, ia menjauhkan diri dari Gemintang beberapa inci. Perlahan-lahan Raden membuka ritsleting celananya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Gemintang, ia melemparkan celananya ke samping. Raden berdiri telanjang bulat di hadapan Gemintang.


Mata Gemintang beralih ke tubuh Raden. Tubuh yang tegap, dan bentuk dadanya yang bidang. Bulu ikal yang tumbuh lebat di dadanya mengusik Gemintang untuk memainkannya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya membentuk garis hitam seperti pita pemisah di bagian perutnya, membentuk lingkaran di seputar pusar, dan lenyap di kerimbunan yang tumbuh di sekeliling kejantanan Raden.

__ADS_1


Kejantanan yang kini mengeras.


Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya, Gemintang merasa seperti mau pingsan, namun desakan yang menggebu menyerang dirinya, itulah gelora hasrat yang dipicu dari perasaan cintanya kepada Raden.


“Kau tidak apa‐apa?” tanya Raden.


Gemintang membuka mata, melihat Raden tersenyum padanya. Gemintang tertawa malu-malu, bak gadis remaja “Ya, aku tidak apa-apa, Raden. Kau begitu tampan, dan aku begitu menginginkanmu.”


Raden mengecup bibir Gemintang dengan kelembutan yang tulus. “Terima kasih untuk pujianmu."


Raden mencari-cari tali pengikat handuk piyama Gemintang, kemudian menarik tali itu dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, Raden menurunkan handuk itu.


“Ya, ampun, betapa cantiknya dirimu.” gumam Raden takjub, ketika ia melihat p*yudara Gemintang. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada pay*dara sesempurna itu, ia terus memandangi tubuh Gemintang yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti hendak menelannya bulat-bulat.


Dengan penuh kekaguman Raden menggenggam salah satu dan menjil*tnya. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payud*ra Gemintang. Sesat Raden memandanginya, lalu tersenyum, dan kembali mencondongkan badan, menciuminya berulang-ulang.


“Raden,” ujar Gemintang, lirih memanggil namanya. Pria itu tidak memedulikannya.


Raden terus beraksi makin panas. Gemintang menjerit, tersentak kaget, dan melengkungkan punggungnya sehingga Raden makin leluasa bergerak. Raden merasakan pipinya panas ketika makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Gemintang. Raden menciumi payud*ra Gemintang yang satu lagi, membuat Gemintang mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.


“Sayang.” Raden membenamkan wajahnya di antara payud*ra Gemintang, sudah lama ia ingin sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Gemintang, ia menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Didekapnya erat-erat beberapa saat, kemudian ditegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Gemintang, mendekatkannya ke bibir, menciumnya, dan berkata, “Sentuh aku, please.”

__ADS_1


Raden menuntun tangan Gemintang ke bagian tubuhnya yang sudah bangun. Dengan lembut, Gemintang mengusap kejantanan Raden.


“Oh, Gemintang.” Sambil membisikkan nama Gemintang dan kata-kata cinta, Raden menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuntunnya melakukan hal yang memberikan kenikmatan padanya sampai ia tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Napasnya yang memburu menerpa telinga Gemintang ketika ia mengerang, “Gemintang, Sayang… cukup, hentikan.”


Sambil memegang kedua pipi Gemintang, Raden menciumi wanita itu dengan penuh gairah, lidahnya bermain‐main di dalam mulut Gemintang. Tanpa menghentikan ciumannya, Raden merebahkan Gemintang di atas tempat tidur, lalu menindihnya.


Gemintang siap menyambutnya, dan Raden menyusupkan pinggulnya di antara paha Gemintang yang membuka. Perut Raden bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan payuda*a Gemintang.


Raden mendaratkan hujan ciuman pada tenggorokan dan leher Gemintang dengan penuh gairah. “Apa boleh aku melakukannya?”


“Ya,” sahut Gemintang, sambil melengkungkan tubuh ke arah Raden.


Tangan Raden meluncur di atas payud*ra wanita itu. Puncaknya menunggu belaian lembut jari-jari Raden, kemudian Raden menggantinya dengan mulut, menciumi payuda*a Gemintang sampai wanita itu nyaris lupa diri.


Raden menurunkan tubuhnya. Tangannya membelai perut Gemintang, terus ke bawah, terkagum-kagum merasakan kehalusan kulitnya. Kemudian jari-jarinya tiba di bagian sensitif Gemintang dan menikmatinya. Diletakkannya telapak tangannya di bagian sensitif Gemintang dan dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Gemintang.


Raden menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Gemintang. Mereka saling menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing-masing setiap kali kejantanan Raden menyentuh bagian paling intim Gemintang itu. Gemintang mengelus dada Raden dan mencengkeram bulu-bulu di dada itu.


“Raden, ayo lakukan sekarang.”


Dengan sekujur tubuh tegang, Raden mengarahkan dirinya memasuki pelabuhan hangat di tubuh Gemintang, ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya…

__ADS_1


Tubuh Raden kaku dan matanya, mendadak terang, menatap tajam Gemintang. Napas memburu membuat dadanya bergerak naik-turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.


“Gemintang," ucap Raden dengan suara yang hampir tak terdengar saking takjubnya. “Kau masih per*wan?"


__ADS_2