Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 18


__ADS_3

Suara hiruk pikuk dan debu yang mengepul di pabrik adalah sambutan selamat datang yang sudah akrab, Gemintang melangkah masuk bersama Raden menuju kantor ayahnya.


Raden melihat tak banyak yang berubah, para pekerja yang datang mengerumuni mereka adalah orang-orang yang sudah dikenalnya.


“Andi!” serunya. “Masih di sini?”


“Sampai mati.” Ia menggenggam tangan Raden. “Senang berjumpa lagi denganmu, Nak.”


Yang lain pun menyalami Raden dengan gembira. Raden menanyakan kabar keluarga mereka, mengingat nama-nama yang mungkin sudah dilupakan orang lain. Namun orang-orang ini sudah seperti keluarga Raden. Mereka bagian dari dirinya bak darah yang memberi kehidupan selama hidupnya.


“Apa masalahnya?” tanya Raden pada Andi, sambil berjalan ke mesin yang rusak di deretan mesin.


“Tua, umumnya,” jawab mandor itu resah. “Sudah terlalu tua, Raden. Tak tahu apakah masih bisa dipakai. Terutama kalau produksi sedang meningkat. Harus dihidupkan siang dan malam.”


Raden menjumput serpihan daun dan pasir terselip di sela-sela mesin. “Mari kita ke kantor, Raden,” ajak Gemintang lembut. Ia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu, berharap Raden mengikutinya dan tidak berargumentasi dengannya di depan karyawan.


Gemintang duduk di kursi kulit di belakang meja ketika Raden masuk ke ruangan dan membanting pintu, sampai membuat kacanya bergetar.


“Dulu ini merupakan pabrik getah karet terbaik di Indonesia,” ucap Raden marah tanpa basa-basi.


“Sekarang pun masih.”


“Tidak mungkin bila kualitas yang diproduksi seperti itu."

__ADS_1


“Sudah kubilang, yang jadi persoalan adalah peralatannya. Mesin-mesin itu…”


“Sudah kuno,” potong Raden. “Brengsek, apakah Daddy tidak ingin memperbaiki atau menggantinya dengan yang baru?”


“Daddy bilang tidak perlu,” jawab Gemintang, pelan.


“Tidak perlu!” ulang Raden dengan suara nyaring. “Lihatlah tempat ini. Lebih mirip kandang dinosaurus ketimbang pabrik karet modern. Kita tidak jujur pada diri kita, juga pada para petani. Aneh jika mereka tidak membawa hasil karet mereka ke pabrik yang lain...” Mendadak Raden berhenti bicara, matanya disipitkan. “Atau memang sudah banyak yang pindah?”


“Ya, kita kehilangan beberapa tahun lalu.”


Raden mengaitkan ujung sepatu botnya ke kaki kursi, lalu menarik kursi itu ke dekatnya. Raden, setelah duduk di kursi, mencondongkan tubuh ke meja dan berkata dengan nada yang tidak bisa diterima Gemintang. “Ceritakan semua yang terjadi padaku.”


“Beberapa petani yang biasa menjual panennya pada daddy memang ada yang membawa ke pabrik lain, karena pabrik lain menawarkan harga yang lebih tinggi, sementara daddy tidak mau menabah upah mereka."


Gemintang mengangguk. Raden menyuarakan apa yang masih terpendam dalam benak mereka. “Mereka mendapat lebih banyak uang dengan cara itu."


Raden bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia membalik tangannya, lalu memasukkannya ke saku jins. Kelihatannya ia sedang memandang alam sekitar, tetapi Gemintang tahu bukan pemandangan itu yang tengah dilihatnya. “Kau tahu akar persoalan ini, bukan? Tahu, kan?” ulang Raden, langsung membalikkan badan ketika Gemintang tidak cepat menjawab pertanyaannya.


“Ya.”


“Tetapi kau tidak melakukan apa‐apa.”


“Apa yang bisa kulakukan, Raden? Pertama-tama, tugasku hanya mengurus pembukuan. Aku belajar tentang proses produksi, pemasarannya, hanya dengan mendengarkan, mengamati. Aku bukan pengambil keputusan.”

__ADS_1


“Kau kan istrinya! Tidakkah itu membuatmu punya hak untuk melakukan sesuatu?” Raden mengangkat kedua tangannya. “Kutarik kembali ucapanku. Mereka yang menjadi istri Guntur tidak akan berani memberi masukan pada pria tua itu, mereka hanya pasrah melakukan perintah… istri‐istri hanya tugasnya menyenangkan suami.”


Gemintang mengangkat dagu, mengepalkan tangan, dan berkacak pinggang. “Aku pernah mengatakan padamu aku tidak akan pernah bicara soal hubunganku dengan daddymu padamu.”


“Dan aku pernah mengatakan padamu aku tidak peduli apa yang kaulakukan dengan Guntur di ranjang.”


"Sebaiknya kurasa kau tidak perlu ikut campur!!"


Raden mengumpat dan menyibakkan rambut dengan jari-jarinya dengan kesal. Mereka saling pandang sampai akhirnya diam-diam mengalah. “Aku akan menolong semampuku,” gumam Raden.


“Kau bisa memperbaiki mesinnya?” tanya Gemintang.


“Aku butuh beberapa peralatan, tetapi kurasa bisa kuperbaiki. Aku pernah membongkar mesin pesawat terbang dan memperbaikinya. Pasti mesin ini tidak lebih rumit dari pada mesin pesawat terbang. Tetapi aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Gemintang. Perbaikan yang kulakukan bukan jawaban atas masalahmu.”


“Aku paham.” Gemintang melunak, tubuhnya tidak setegang tadi ketika ia tersenyum malu-malu, meminta maaf atas perilakunya. “Apa pun bantuanmu, sangat kuhargai.”


Kali ini umpatan Raden makin kasar, tetapi hanya dalam hati. Umpatan itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena perasaan bersalah karena telah bertengkar dengan Gemintang.


Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu kecuali memeluk Gemintang, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya. Betapa tololnya dirinya, membayangkan tubuh Gemintang berpelukan dengan ayahnya, terkadang ia merasa seperti akan gila bila membayangkan hal itu.


"Akan aku kerjakan sekarang," ucap Raden sambil berjalan keluar pintu.


Gemintang bekerja di kantor menyelesaikan surat-surat, sementara Raden dibantu karyawan mencari perkakas yang dibutuhkan. Sejam kemudian Gemintang berdiri di belakang Raden, ketika Raden tengah membongkar bagian dalam mesin besar. “Raden, aku akan pergi ke rumah sakit sebentar. Kalau aku belum kembali tapi pekerjaanmu sudah selesai, kau bisa minta tolong salah seorang karyawan mengantarmu pulang.”

__ADS_1


Raden tersenyum getir. “Tak usah repot. Aku masih agak lama di sini.” Gemintang nyengir. Raden melihat tangan Gemintang setengah terangkat hendak menyentuh lengannya. Namun ia tak jadi melakukannya, malah cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal dan pergi.


__ADS_2