Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 34


__ADS_3

Sepanjang makan malam, Gemintang lebih banyak diam. Padahal Raden mengumumkan acara makan itu sebagai acara perayaan keberhasilan mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan tuan Zacky. Heny dan Laura ikut gembira, Gemintang sulit menikmati kegembiraan itu setelah menerima penghinaan halus di super market tadi pagi.


Ia melihat Raden menatapnya dengan sorot mata bertanya-tanya karena sikapnya yang lebih banyak diam, yang terasa amat mengganggu. Selama makan malam, Gemintang dengan susah payah berusaha menyembunyikan kekesalannya, namun ia gagal.


Setelah makan malam, Gemintang berjalan-jalan di halaman. Cuaca malam itu sejuk dan bersih, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan yang melayang-layang di atas kepalanya.


Gemintang duduk di ayunan di bawah pohon besar di pojok rumah. Itulah bagian rumahnya yang paling disukainya. Ada suara riak air sungai yang mengalir di dekatnya, tanaman kecil tumbuh lebat di sekitarnya. Dengan ujung sepatunya yang hampir tidak menekan rumput Gemintang membiarkan dirinya terayun-ayun.


Beberapa menit kemudian ia mendengar langkah kaki, langkah itu kian mendekat dan tanpa bisa ia hindari Raden telah berdiri tepat di depan ayunan.


“Ada apa, Gemintang?”


“Kau pasti jelmaan tupai. Kau selalu berhasil menguntitku.”


“Aku ke sini bukan hendak bicara soal tupai. Jawab pertanyaanku. Ada apa?”


“Bagaimana kau tahu aku di sini?”


“Ya tahu saja.” Raden memegang tali ayunan, menghentikan gerakannya, dan mencondongkan tubuh ke arah Gemintang. “Katakan, ini untuk terakhir kali aku bertanya, ada apa?”


Gemintang memalingkan muka dengan resah. “Tak ada apa‐apa.”


“Ada. Ayo katakan!”


“Tidak ada.”


“Aku tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum kau menjawab pertanyaanku. Gigitan nyamuk di sini sangat menyakitkan, apalagi semakin larut. Jadi kau lebih suka diserang gerombolan pengisap darah itu, atau kau ceritakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu? Apa yang terjadi di pabrik? Aku? Atau apa?”


“Kota ini!” teriak Gemintang, meledak sambil bangkit.


Raden terpaksa melepaskan pegangannya pada tali ayunan, ledakan kemarahan Gemintang yang mendadak itu mendorong Raden menepi dan memberi jalan pada Gemintang. Ayunan yang ditinggalkan Gemintang terayunn-ayun. Gemintang berjalan ke arah pohon besar, tangannya diletakkan pada pohon, dan dahinya bersandar di sana.


“Ada apa dengan kota ini?”


“Kota ini penuh orang-orang picik!”


Raden tertawa kecil. “Kau baru tahu?”


“Tidak. Aku tahu hal itu sejak masih kecil,” Gemintang berbalik dan menyandarkan bahunya pada batang pohon yang kokoh. “Hanya saja, kukira dengan memiliki titel sarjana, pekerjaan bagus, nama keluarga baru, akan meningkatkan status diriku di mata mereka, sehingga mereka tidak merendahkan aku lagi.”


“Kau harusnya lebih tahu. Kalau kau dilahirkan di sini dengan label tertentu, label itu akan melekat pada dirimu selamanya.”

__ADS_1


“Aku tahu itu. Aku hanya agak melupakannya, dan hari ini aku diingatkan kembali.”


“Ada apa? Ayo ceritakan kepadaku!”


Sambil menarik napas, Gemintang menyebut dua nama wanita yang bicara dengannya di supermarket. Raden mendengus kasar. “Baru mendengarnya saja aku sudah mau muntah. Tapi teruskan.”


“Mereka… mereka mengatakan betapa beruntungnya aku, yang masih punya kau setelah kematian Guntur, bisa tinggal satu atap denganmu. Mereka memberi tekanan pada bagian kalimat itu. Mereka bilang… yah, kau bisa menebak apa yang mereka katakan…”


“Mereka bilang kita tinggal lebih dari sekedar keluarga biasa. Begitu?”


Gemintang mengangkat kepala, menatap Raden. “Ya.”


Raden mengumpat. “Mereka mencurigai bahwa hubungan kita bukan seperti hubungan anak tiri dengan ibu tirinya?”


Gemintang tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk.


“Lupakan saja ocehan para perempuan tua itu, Gemintang. Bergosip itu hiburan untuk mereka. Kalau bukan menggosipkan kita, siapa lagi yang akan jadi bahan gosipan mereka? Begitu berita kematian Guntur menyurut, mereka akan mencari-cari bahan gosip lainnya.”


“Ya aku rasa juga seperti itu. Hanya saja aku tak tahan menerima sindiran mereka yang sangat menghina. Aku tak suka diriku dijadikan objek gosip mereka.” Mata mereka kembali saling pandang sesaat, penuh kemesraan, sebelum dialihkan.


“Salah satu di antara kita tidak bisa keluar dari rumah ini sebelum urusan hukum selesai,” ucap Raden, memberi alasan. “Jika salah satu dari kita keluar, justru hal itu akan semakin memicu orang untuk menggosipkan kita?”


“Sebagai istri ayahku, maksudmu.”


“Ya.”


“Mengapa mereka mengira aku tidak senang padamu?”


“Karena latar belakang hidupku dulu.” Gemintang mengubah posisinya. Pakaiannya tersangkut kulit kayu pohon. “Karena perbedaan usia antara Guntur dan aku.”


Ketika mata mereka kembali bertemu pandang kali ini, tak ada halangan menghadang lagi. “Nanti juga berlalu,” bisik Raden sambil merapatkan tubuh ke Gemintang. “Aku tidak akan pernah suka kau menjadi istri daddyku.”


“Jangan, Raden.” Gemintang ingin menjauhkan diri, tetapi jalannya terhalang pohon.


“Mengapa kau meresahkan gosip itu, Gemintang?” tanya Raden, lembut, dan makin merapatkan tubuhnya. “Bukankah tidak ada hal yang terjadi di sini."


“Tentu saja.”


Raden terus merapatkan tubuh. “Tak ada pelanggaran norma yang terjadi di antara kita, bukan?”


“Ya.”

__ADS_1


“Dusta.”


Kata terakhir itu tercetus dari mulut Raden dengan penuh kemarahan. Ibu jari Raden menelusuri tenggorokan Gemintang, lalu jari-jari lainnya yang kokoh melingkari lehernya. Dengan satu ibu jarinya, Raden mengangkat kepala Gemintang.


Sambil merintih pelan, Gemintang memalingkan mukanya ke samping. Namun Raden tak membiarkannya membuang muka. “Ayo katakan padaku, bahwa tiap kali kau menatapku, aku hanyalah anak tirimu. Bilang padaku kau tidak ingat apa yang pernah terjadi di antara kita. Coba katakan kau tidak ingat lagi apa yang terjadi waktu turun hujan hari itu. Katakan padaku kau tidak ingin aku menciummu lagi. Bilang kau tidak pernah ingin merasakan sentuhanku lagi. Mampukah kau mengatakan semua itu padaku, Gemintang?” Satu-satunya jawaban yang diberikan Gemintang hanya isakan.


Bibir Raden menutup bibir Gemintang. Gemintang memukul-mukul Raden dengan perasaan galau, tapi akhirnya tangannya berhenti di pundak Raden dan tak lagi menolak Raden.


Raden makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Gemintang, bibir Raden menciumi bibir Gemintang, menuntut bibir perempuan itu mematuhi apa yang diperintahkannya. Lidah Raden menjilati garis bibir Gemintang.


“Balas ciumanku, Gemintang. Kau ingin menciumku juga kan?”


Gemintang memenuhi permintaan itu. Sambil mendesah pasrah, Gemintang melingkarkan tangannya pada leher Raden. Bibirnya terbujuk oleh lidah Raden. Lidah itu pun akhirnya memasuki mulut Gemintang tanpa perlawanan, disambut dengan hangat dan mesra. Raden mengelus bibir Gemintang, membuat letupan hasrat yang tak bisa diredam Gemintang, ia tak kuasa lagi untuk melawannya..


Tanpa ampun lagi Raden membangkitkan hasrat Gemintang terhadap dirinya. Ciumannya yang bertubi-tubi, memancarkan gelombang kerinduan dalam dirinya yang tak mampu diredam Gemintang lebih lama lagi.


Raden membuka kancing baju Gemintang, kemudian menyelipkan tangannya ke Payud*ra Gemintang terbungkus b*a berenda. Seluruh panca indra Raden menggelora saat tangannya menyentuh payudara Gemintang yang berisi dan hangat. Dibelainya payud*ra itu secara perlahan.


Raden mengelus renda yang menutupi payuda*a Gemintang, mencari dan menyentuh puncaknya dengan ujung jari. Sentuhan itu memberikan kenikmatan pada Gemintang.


Raden menenggelamkan kepalanya di antara payud*ra itu dan menyentuh salah satu puncaknya dengan bibir. Gemintang merasakan gelenyar ciuman itu sampai ke perutnya, bahkan mencapai bagian sensitivnya.


Gemintang melepaskan pelukannya pada Raden. “Jangan, Raden. Aku mohon jangan,” cegah Gemintang. Ia menutupi payudar*nya dengan kedua tangan, berusaha meredam gelombang gairah yang menggebu. “Aku tidak bisa. Kita tidak boleh melakukannya."


Raden merasakan dadanya sesak dan panas, rambutnya kusut karena rem*san jari-jari Gemintang. Matanya menatap penuh gairah, dikerjap-kerjapkan untuk menyadarkan dirinya. “Mengapa? Karena daddy?”


Gemintang menggeleng. “Bukan, bukan,” tukas Gemintang sedih sambil membetulkan bajunya. “Karena penduduk desa ini, aku tidak ingin menjadi orang yang seperti mereka duga. Aku tidak mau melakukan apa yang mereka bayangkan, perbuatan rendah tak bermoral. Pertama merayu Guntur, kini anaknya.”


“Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan.”


“Aku peduli!” Gemintang menangis, air matanya bercucuran membasahi pipinya. “Seperti yang kau katakan tadi, kita akan tetap seperti saat kita dilahirkan. Kau berdarah Buana. Apa pun yang kau lakukan, tetap akan dianggap lumrah. Mereka tidak akan berani mengkritik dan menghinamu. Tetapi aku, aku yang datang dari golongan rendah, akan selalu salah. Aku harus peduli pada apa yang mereka pikirkan.”


Menit demi menit berlalu, mereka saling memandang. Raden terlebih dulu memalingkan muka sambil melontarkan makian. “Tidak bisa aku tinggal serumah denganmu tanpa terdorong perasaan ingin bercinta denganmu.”


“Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu." Gemintang menyeka air mata di pipinya. “Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Raden? Apa yang mereka katakan benar. Aku sangat menginginkanmu. Namun, aku ini istri Guntur.”


“Apa yang akan kaulakukan setelah pembacaan surat wasiat?”


“Satu‐satunya hal yang dapat kulakukan adalah meninggalkan rumah ini.”


Raden mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan ke arah rumah. Sementara Gemintang duduk di bangku ayunan sambil menutup muka, ia menangis tersedu‐sedu.

__ADS_1


__ADS_2