Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
Bab 49


__ADS_3

Ketika Raden duduk di sebelah Gemintang, ujung celananya menyentuh kaki Gemintang, dengan hati-hati Gemintang menggeser kakinya. Raden melihat Gemintang dengan sadar menarik ujung roknya. Oh, Tuhan, perempuan ini begitu memesona. Ia masih kelihatan seperti gadis remaja yang dikenalnya di hutan, anak seorang pemabuk, yang berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan status. Raden merasa sesak karena memendam cintanya pada Gemintang. Ingin ia berteriak pada wanita itu, “Mengapa kau pedulikan pendapat orang-orang tentang dirimu? Statusmu jauh di atas orang-orang itu, dan kau tidak pernah tidur dengan Guntur jadi sah-sah saja jika kau dekat denganku.”


Tapi kenyataan dirinya juga tidak jauh berbeda dengan Gemintang, ia harus menerima kenyataan ia harus jauh dari Gemintang demi menjaga reputasinya di mata orang banyak. Gemintang pernah menjadi istri ayahnya, ia tak ingin orang lain menganggap Gemintang murahan yang menggoda anak tiri setelah suaminya meninggal.


Raden menoleh ke arah Gemintang seketika, membuat Gemintang terkejut karena ia pun tengah menatapnya. Mereka bertemu pandang.


Diamatinya setiap bagian wajah Gemintang, di matanya, Gemintang masih secantik saat pertama kali ia mengenalnya. Bahkan kini seribu kali lebih mencintainya dibandingkan dua belas tahun yang lalu.


Dan Raden yakin, dengan cintanya yang buta, kalaupun ia tidak tahu bagaimana kondisi pernikahan Gemintang dengan ayahnya, ia tetap mendambakannya. Ia mencintai Gemintang lebih dari siapa pun, lebih dari pada opini masyarakat yang menganggap cintanya tidak masuk akal, lebih keinginannya menantang ayahnya, lebih dari pada apa pun, ia sangat mencintai Gemintang Dahayu.


“Maka kini kami mohon nyonya Gemintang Buana, istri dari almarhum Guntur Buana untuk naik ke panggung.”


Raden melihat Gemintang berusaha menenangkan hati dan bangkit dari tempat duduknya dengan anggun. Ia meletakkan tas dan sarung tangannya di kursi, kemudian berjalan ke atas panggung dengan gaya seorang ratu.

__ADS_1


Gemintang menerima penghargaan dengan tangan yang satu dan tangan yang lain menjabat tangan Walikota. Pria itu bergeser, menyerahkan mikrofon pada Gemintang. “Andai masih hidup, Pak Guntur pasti akan sangat bangga menerima penghargaan ini. Saya dan seluruh keluarga menerimanya atas namanya dan mengucapkan terima kasih.”


Tak ada basa‐basi dalam pidato Gemintang yang singkat, ia juga tidak mengulang pujian yang tadi diucapkan Walikota tentang Guntur. Ia hanya menerima penghargaan itu mewakili Guntur.


Kemudian Raden mengamati wajah pucat Gemintang. Gemintang berhenti sejenak dan memejamkan mata, seperti berjuang keras untuk bernapas dan menjaga keseimbangan tubuh. Ia maju selangkah lagi dan terjerembap. Walikota berhasil menyambar sikunya dan memanggil-manggil namanya.


Raden melompat dari kursi, dan langsung naik ke panggung. Gemintang melihat ke arahnya, mengerjap-ngerjapkan mata seperti hendak memfokuskan pandangan pada Raden. Kemudian perlahan-lahan matanya terpejam, lututnya menekuk lemas, dan ia pingsan di lantai.


Riuh redam suara orang-orang terkejut melihat hal itu dan bangkit dari duduk. Laura menjerit dan mencengkeram lengan Adit. Heny berteriak, “Oh, Tuhan!” sambil meletakkan tangan di dadanya yang lebar. Mereka yang dekat dengan Gemintang berlari menghampirinya, mengangkatnya dari panggung.


Akhirnya Raden berhasil berada di dekat Gemintang. Ia berlutut dan memegangi tangan Gemintang. Tangan itu terkulai dalam genggamannya. “Gemintang, Gemintang, Sayang. Oh Tuhan, Gemintang, bicaralah padaku!”


Raden melepaskan ikatan pita di leher Gemintang, dan membuka beberapa kancingnya. Dilepaskannya jas Gemintang, agar Gemintang bisa bernapas lega. Dilepasnya topi di kepala wanita itu, lalu dilemparkannya. Rambutnya yang hitam digerai. Dengan gerak tangan sigap dan cekatan, Raden memukul-mukul pipi Gemintang. Kelopak mata wanita itu bergerak-gerak. Raden mendesah lega.

__ADS_1


“Apa kau tidak apa-apa, sayang?"


Orang-orang yang berkerumun di sekeliling mereka serentak menaikkan alis, saat Raden memanggil Gemintang dengan sebutan sayang, terdengar seseorang bergumam, “Wah, bukan main.”


Melihat orang-orang hendak bergunjing, dengan secepat angin, Raden menekuk kaki, menggendong tubuh kekasihnya itu. “Tolong beri kami jalan, aku akan membawanya pulang. Heny tolong ambilkan barang-barang Gemintang di sana, di kursinya. Adit, tolong bawa mobil ke sini. Laura, ayo kita pulang."


"Sabarlah sayang, di rumah aku akan memanggil dokter untukmu," Raden berjalan cepat, menuju mobil, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Gemintang mengangkat tangannya dan mengelus pipinya dengan lembut.


“Aku tak perlu dokter. Aku hamil, Raden.”


Kata‐kata Gemintang yang pelan itu menghentikan langkahnya, ia menatap Gemintang tanpa berkata-kata.


“Itulah sebabnya aku pusing dan pingsan. Aku akan punya anak darimu," Gemintang menatap Raden dengan mesra.

__ADS_1


Mata Raden berbinar-binar. Sambil mempererat dekapannya pada Gemintang, ia menunduk dan mendekatkan bibir ke telinga Gemintang. “Aku cinta padamu,” bisik Raden. “Aku cinta padamu, Gemintang.” ia kembali mempercepat langkahnya menuju mobil.


Di belakang Raden banyak orang berkerumunan, ingin megetahui apa yang di bicarakan Gemintang dan Raden, mereka hanya melihat Gemintang melingkarkan tangannya di leher Raden.


__ADS_2