Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 47


__ADS_3

“Sayang, apa kau bangga denganku?”


“Aku selalu bangga padamu, sayangku."


Laura dan suami yang baru dinikahinya dua bulan yang lalu itu berbaring di tempat tidur yang berukuran besar di ruangan yang dulunya kamar Guntur. Kamar itu kini hampir tidak bisa dikenali lagi karena Gemintang merombak total sebagai hadiah pernikahan Laura dan Adit.


Wallpaper, tirai jendela, handuk, peralatan kamar mandi, permadani yang terhampar di lantai, Sofa panjang dan kursi santai berikut mejanya semua di ganti oleh Gemintang, mengikuti selera Adit dan Laura. Gemintang ingin Laura dan Adit betah di kamar baru mereka.


Laura merapat ke tubuh suaminya. Dengan santai jari-jarinya mengelus perut Adit. “Maksudku kau benar-benar bangga karena aku sendiri yang membeli barang‐barang kebutuhan kita? Aku tidak salah menghitung uang kembaliannya, kan?”


Tangan Adit makin rapat mendekap Laura. Setelah dua bulan tidur dengan istrinya, ia semakin yakin ia begitu mencintai Laura dan tidak akan pernah melepaskan pelukannya. “Kau melakukan segalanya dengan sangat benar, sayang. Dari dulu aku selalu percaya kau mampu melakukannya.”


Adit menemani Laura ke supermarket, untuk belanja kebutuhan pribadi mereka dan membeli untuk dapur, pesanan Heny. Tetapi ketika ia meminta istrinya yang mengurus pembayarannya, mata Laura memancarkan ketakutan.


Adit meyakinkan Laura, jika dia mampu melakukannya. Dengan hati-hati Laura menghitung jumlah uang yang harus dibayar, kemudian menunggu kembaliannya. Ketika mereka meninggalkan supermarket, mata Laura berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja berhasil mengerjakan ulangannya.


“Aku ingat dulu kak Raden sering mengajakku ke minimarket atau cafe. Dia ingin mengajari aku melakukan segalanya sendiri, mulai dari memesan hingga membayar, tetapi aku selalu takut salah, aku bahkan tidak ingin mencoba, dan kakak kecewa padku karena tak mau mencoba."


Adit mengubah posisi kepalanya di bantal sehingga ia bisa melihat Laura. “Kau tidak perlu takut mengecewakan aku,” goda Adit dan istrinya menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Adit.


“Aku ingin menyenangkanmu lebih dari siapa pun, karena itulah aku ingin mencobanya, dan melakukannya sebaik mungkin. Aku tahu aku tidak sepintar orang-orang, tapi aku tidak ingin kau menyesal menikah denganku.”


Adit berbaring menyamping dan memeluk Laura. “Sayangku,” bisiknya di antara rambut wanita itu. “Bagaimana mungkin aku menyesal menikah denganmu? Aku begitu mencintaimu, apa pun yang kau lakukan, atau tidak kau lakukan. Kau tidak perlu mengejar cintaku, Lauraku sayang. Kau sudah mendapatkan seluruh hatiku, selamanya.”


“Adit,” bisik Laura sambil mengelus dada suaminya. “Aku sangat mencintaimu.” Sambil duduk, Laura melepas baju tidurnya lewat kepala dan melemparkannya ke kaki tempat tidur.

__ADS_1


Sikap Laura yang polos itu membuat Adit makin menyayanginya, ia seperti anak-anak yang hatinya sangat bersih. Laura mengajarkan sesuatu pada Adit soal penerimaan. Dulu Adit tak suka melihat kakinya yang buntung. Ia benci dengan kakinya.


Yang mengejutkannya, Laura justru menyayangi tubuhnya. Ia selalu mencari-cari alasan untuk menyentuhnya. Tangan istrinya yang halus itu terasa seperti menyalurkan kekuatan yang menyembuhkan pada kaki kirinya. Setiap belaiannya merupakan ungkapan cinta yang tulus pada Adit. Selama hidupnya, Adit belum pernah melihat orang sebaik Laura.


Sambil tersenyum manis, Laura berbaring di samping Adit dan meletakkan tangannya di pinggang pria itu. Adit memainkan rambut Laura yang panjang dan menciumnya. Tak lama kemudian mereka saling membelai. Adit mengelus punggung Laura ketika wanita itu menindih tubuhnya. Laura meletakkan telapak tangannya di pipi Adit dan berulang-ulang menciuminya. Lidahnya yang seperti lidah anak kucing menggelitik telinga Adit, keterampilan baru yang didapat Laura dari Adit.


Laura agak menurunkan tubuhnya dan mencium leher dan dada Adit. Adit hampir terlompat dari tempat tidurnya.


“Laura,” desah Adit.


“Hmmm?” gumam istrinya, tidak mau berhenti. “Ketika kau melakukan hal ini padaku, rasanya nikmat. Apakah kau tidak merasa nikmat juga diperlakukan begini? Kalau kau tidak suka, aku akan berhenti.”


Tangan Adit mengelus rambut Laura. “Jangan, jangan berhenti sayang,” jawab Adit tergagap. “Jangan sampai berhen…” Adit membetulkan posisi tubuh istrinya di atas tubuhnya dan dengan gerakan perlahan Adit menyatukan tubuh mereka.


Hasrat dalam tubuh mereka bergolak sampai akhirnya Adit memegangi pinggul Laura dan bergerak. Laura membenamkan kepala Adit ke payud*ranya yang kecil sementara tubuh mereka sama-sama bergetar. Lama setelah itu mereka tetap berpelukan. Kemudian dengan lembut Laura mencium dahi suaminya dan berbaring di sampingnya.


“Aku bahagia kau mengajariku cara bercinta,” ucap Laura.


Adit tertawa. “Begitu juga aku, aku pun bahagia sayang.”


“Semoga semua orang di dunia ini sebahagia kita.”


“Aku rasa tidak mungkin. Tak ada orang yang sebahagia dan seberuntung aku karena memilikimu.” Adit mendaratkan ciuman mesra di bibir istrinya.


“Aku berharap Gemintang bisa bahagia. Sejak Kak Raden pergi, ia kelihatan tidak pernah gembira," ucap Laura.

__ADS_1


Adit merasa kadang-kadang istrinya jauh lebih peka dari pada orang lain. “Apa kau pikir apakah Gemintang merindukan Raden?”


“Ya, kurasa begitu, Sayang.”


“Aku juga berpikir seperti itu.”


Sejenak Laura terdiam dan Adit mengira wanita itu tertidur. Kemudian Laura berkata, “Aku khawatir Gemintang akan meninggal seperti Daddy.”


Adit memegang dagu istrinya dan menaikkannya. “Apa maksudmu?”


“Gemintang sakit," ucap Laura. “Dulu Daddy sering mengelus perut ketika tidak ada orang, dan daddy pun sering memejamkan mata seperti merasakan ada yang sakit di bagian tubuhnya.”


“Lalu apa hubungannya dengan Gemintang?”


“Dia melakukan hal yang sama. Kemarin malam, ketika pulang dari pabrik, aku memerhatikannya dari teras. Dia menaiki dua anak tangga pertama, kemudian dia berhenti dan bersandar pada pegangan tangga. Dia memegang kepala lama sekali, kelihatannya dia seperti sesak napas. Aku baru ingin mendekati dan menolongnya tetapi dia kembali tegak, dia harus bersusah payah untuk bisa sampai ke atas.”


Laura membungkuk. “Sayang, Gemintang belum akan meninggal dunia kan?”


“Tidak, tidak, pasti tidak,” sahut Adit, meyakinkan Laura dan mengelus-elus rambutnya. “Dia mungkin hanya letih saja.”


“Aku berharap begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi di rumah ini sampai aku meninggal. Terutama kau,” ucap Laura sambil mendekap Adit erat-erat. “Jangan meninggal, Adit.”


Adit balas mendekap erat Laura, ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya, begitu tahu Laura tertidur, Adit menutupi tubuh istrinya dengan selimut lalu dipeluknya kembali.


Namun Adit tidak bisa tidur, pikirannya menerawang di kegelapan kamar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Gemintang, apalagi jika mengingat apa yang baru saja disampaikan Laura padanya, perasaannya jadi makin khawatir.

__ADS_1


__ADS_2