Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 11


__ADS_3

Raden berlari menyusul Gemintang di ujung lorong rumah sakit, ia tersandar di dinding. Raden mendekatinya dari belakang,moerlahan ia mengangkat tangan hendak menyentuhnya, namun sejenak berhenti untuk mempertimbangkan tindakannya, tetapi kemudian berpikir, Persetan, lalu ia pun meletakkan tangannya di pundak Gemintang. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya penuh perhatian.


Oh, Tuhan, batin Gemintang. Mengapa ia melontarkan pertanyaan itu, dengan suara yang khas lembutnya? Nada bertanyanya dan pertanyaan yang diajukan Raden sama persis seperti yang dia pernah diajukannya dulu. Kata-kata yang sama, kalimat yang sama, kepedulian yang menyentuh perasaan, dengan getar suara parau yang sama pula.


Perlahan Gemintang menoleh sedikit dan memandang Raden dari balik pundak. Matanya berkaca-kaca. Bisa jadi air matanya karena penghinaan yang dilontarkan suaminya, melainkan air mata penuh kenangannya bersama Raden. Gemintang menatap mata Raden, terlambung ke kenangan lama, ke masa dulu, ke malam pertama itu…


Falshback on


Cahaya lampu mobil menyorot di belakangnya, Gemintang mempercepat langkah. Ia serasa hampir mati menanggung malu ketika Raden tahu bahwa ia putri dari laki-laki yang terkenal sebagai pemabuk di kota itu. Raden akan tahu mereka tinggal di rumah reyot, ibunya menjadi kuli cuci agar bisa menghidangkan makanan di meja makan dan mereka mampu membeli pakaian bekas layak pakai dari langganannya untuk Gemintang.


“Hai, Gemintang.” Mobil itu melintas dari belakang Gemintang dan berhenti di sisinya. Dengan takjub Gemintang memandang wajah Raden yang tersenyum padanya sambil memiringkan tubuh ke arah kursi penumpang di sebelahnya dan membukakan pintu mobil. “Ayo naik. Aku antar kau ke rumah.”


Gemintang melihat ke kiri dan kanan, seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan. “Tidak perlu Raden.”


Raden tertawa. “Mengapa?”


Karena ia tak ingin Raden mengetahui rumah reotnya dan pria seperti Raden seharusnya tidak mengajak gadis seperti Gemintang berkeliling naik mobil sport, itulah sebabnya. Namun Gemintang tidak mengatakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Debar jantungnya terasa sampai ke tenggorokannya, membuatnya tak mampu berkata‐kata.


“Ayolah, naik,” bujuk Raden dengan senyum yang amat mempesona hingga membuat Gemintang menurut untuk duduk di jok kulit dan menutup pintu mobil. Bangku mobil yang empuk itu menghanyutkannya ke alam kemewahan, dan ia harus berusaha keras menahan keinginan hatinya untuk mengelus kelembutan jok mobil tersebut.

__ADS_1


“Kau suka milk shake cokelat?” tanya Raden.


Baru sekali Gemintang mencicipinya selama hidupnya. Ketika ibunya baru gajian dan mereka makan siang di sebuah kedai di kota, ibunya membelikan milk shake cokelat untuk mereka nikmati berdua dalam rangka merayakan hari istimewa itu. “Ya," jawabnya malu-malu.


“Aku tadi berhenti di cafe dan membeli beberapa minuman. Kau pilih saja sendiri.” Raden memiringkan kepala ke arah gelas pelastik yang terselip di antara tempat duduk. Gelas itu tertutup, tetapi sedotannya mencuat dari lubang di bagian atasnya.


“Terima kasih,” ujar Gemintang malu-malu. Diambilnya gelas itu lalu diisapnya isinya melalui sedotan. Rasanya dingin, manis, dan enak. Gemintang tersenyum senang. Raden balas tersenyum.


Raden tak menyalakan musik keras-keras dan ia pun tak membuka atap mobilnya, ia tidak ingin ada yang melihat dirinya bersama Gemintang. Gemintang mengerti dan tidak keberatan akan hal tersebut. Raden datang menjemputnya, dan ia membelikannya milk shake cokelat. Itu saja sudah cukup buat Gemintang.


“Bagaimana kerjamu tadi?” tanyanya memulai obrolannya.


“Aku menjual satu set piring makan.”


“Perabot jelek. Kurasa aku tidak bisa makan dengan piring seperti itu.” Raden tertawa. “Tapi kau kan tidak ingin menjual piring seumur hidupmu?”


“Tentu saja tidak.”


“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

__ADS_1


Sekolah, jawab Gemintang dalam hati dengan perasaan putus asa. “Entahlah. Aku suka matematika. Aku pernah jadi juara dua tahun berturut‐turut.”


Gemintang merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya, bercerita pada Raden tentang sesuatu yang mungkin bisa membuatnya tidak akan melupakannya, karena Gemintang tahu, ia sendiri tidak akan pernah melupakan Raden seumur hidup.


Tetapi, mungkin Raden tak peduli dengan kelebihannya itu, sebab Raden bisa memilih gadis mana pun yang ia suka, gadis yang lebih tua dan lebih modis dari dirinya. Gadis yang berpakaian lebih bagus dan suka berkumpul di klub, gadis‐gadis yang ibunya duduk dalam komite dan naik mobil mewah, gadis-gadis yang merasa malu bicara dengan Gemintang Dahayu.


“Matematika, heh? Mungkin aku butuh pertolonganmu untuk mengerjakan tugas kuliahku. Waktu SMA aku nyaris tidak lulus karena mata pelajaran matematika, dan ternyata di kampus ada juga mata pelajaran matematika dasar.”


“Kau sudah lulus?”


“Ya, tahun ini.”


“Kuliah jurusan apa?”


“Teknik." Raden keluar dari jalan raya ke jalan kecil yang menuju rumahnya.


“Kau tak perlu mengantarku sampai rumah,” ucap Gemintang cepat-cepat.


“Di sini gelap gulita seperti dalam terowongan.”

__ADS_1


“Aku tidak takut, sungguh. Tolong, berhenti di sini saja.”


Tanpa membantah, Raden mengerem mobilnya. Gemintang tidak ingin Raden mengantarnya sampai ke rumah. Karena kalau ya, ia harus memberi penjelasan tentang semuanya pada ibunya. Hari ini terlalu istimewa. Ia tidak ingin berbagi keistimewaan hari ini dengan orang lain. Ia terutama tidak ingin Raden berjumpa ibunya dan rumah reyotnya.


__ADS_2