Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 43


__ADS_3

Setelah kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu, kini pabrik mulai di bereskan. Gemintang bersyukur Raden berada di dekatnya yang selalu sedia membantunya, ia tidak tahu harus mulai membersihkan dari mana setelah kebakaran itu.


Tak lama sesudah pembersihan selesai, Raden menyinggung soal memperbaruhi tempat yang terbakar. Raden mengungkapkan semua rencananya pada Gemintang , dan Gemintang menyetujuinya. Rencana itu termasuk mengganti semua mesin tua dan membeli yang baru, mengganti semua kabel-kabel, dan membuat pabrik getah karet paling modern di negeri ini.


“Kita dapat keuntungan yang sangat besar di tahun ini, dan Bank bersedia memberikan kredit pinjaman jangka panjang untuk biaya renovasi dengan bunga ringan. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini.”


“Aku setuju.”


Mereka bekerja lembur selama beberapa bulan ini, tetapi keduanya tetap bersemangat. Mereka kerap harus menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Banyak mata yang memerhatikan mereka, dan mereka tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang untuk menggosipkan mereka. Gosip tentang mengapa Raden tidak segera kembali ke Jakarta telah beredar, gosip itu saja sudah membuat Gemintang cemas.


“Raden...” ucap Gemintang ketika mereka beristirahat sejenak di ruang kerja Gemintang.


“Hmmm?” Raden menyentuhkan kaleng minuman dingin ke dahinya, panas terik yang menyengatnya ketika di luar tadi, membuat tubuhnya mudah berkeringat.


“Kapan kau kembali ke Jakarta?” Gemintang berusaha bicara sewajarnya tetapi tahu ia tidak berhasil ketika Raden menurunkan kaleng minuman dan menatapnya tajam.


Raden menyeruput minumannya. “Kau ingin menjauh dariku?” Raden menggoda.


Sorot mata Gemintang memancarkan binar-binar cinta. “Tentu saja tidak,” sahut Gemintang tenang. “Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini di pabrik ini. Kalau aku jelas, aku mendapat gaji di pabrik ini. Sementara kau? kau tak ada alasan untuk menghabiskan waktu dan tenagamu di sini, kau punya perusahaan penerbangan di Jakarta.”


Raden meletakkan kaleng minumannya di meja. Sambil berdiri, pria itu menggeliat dan berjalan ke jendela, tempat ia biasa memerhatikan para pekerja menurunkan bahan bangunan dari truk. “Pabrik ini punya arti besar bagiku, terlepas dari suka atau tidak sukanya Guntur padaku. Aku tidak mendapat keuntungan finansial darinya, gara-gara surat wasiatnya, tetapi pabrik ini tetap sangat menarik minatku. Pabrik ini milik keluarga ibuku sebelum Guntur mengambil alih dan menjadikannya miliknya. Karena ini bagian dari warisan keluargaku dan membawa namaku, aku harus peduli pabril ini. Apa alasan‐alasan itu tidak cukup kuat? anggap saja aku melindungi warisan adik perempuanku.”


“Aku cinta padamu," ucap Gemintang.


Seketika Raden berbalik menghadap ke arah Gemintang. Ungkapan cinta yang tak terduga itu dan tampaknya tak ada kaitan dengan bahan penjabarannya yang baru saja ia ungkapkan. “Mengapa tiba-tiba bicara seperti itu?"


“Karena, andai situasi ini menimpa pria lain, sudah pasti pria itu sudah meninggalkan tempat ini sejak lama, karena perasaan pedih dan marah karena tak ada namanya dalam daftar penerima warisan."

__ADS_1


“Itulah yang diinginkan Guntur. Aku pergi dari tempat ini untuk selama-lamanya, tapi aku tidak mau."


“Kau ingin menantang Guntur yang sudah mati?"


Raden tersenyum dan mendekati Gemintang, ia menarik tangan Gemintang dan mendorongnya ke sudut, di antara dinding dan lemari arsip. Ruangan sempit itu cukup untuk membuat mereka terhindar dari pandangan orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan. “Kau tak ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di sini,” ucap Raden, dan mulai menciumi Gemintang .


Raden mendaratkan ciuman di leher Gemintang, hendak menggigit dan menggelitiknya. Tangannya menggenggam payud*ra Gemintang dan mengelus-elusnya.


“Kau tak boleh sebebas ini di sini,” gumam Gemintang . “Di pabrik ini aku atasan tertinggi.”


“Kau bukan atasanku, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?”


Gemintang mengerang pelan ketika jari-jari Raden memainkan *********** dari balik kemeja yang ia kenakan. Sambil menunduk, Raden membuka kancing blus Gemintang yang paling atas dengan giginya, kemudian bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut. “Tetapi aku tetap punya hak mengontrol pabrik ini,” kata Gemintang dengan napas tersengal.


“Tidak diriku, kau tidak berhak," ucap Raden.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku merasa tempat ini selalu,” ucap Gemintang sambil memandang ke sekeliling.


“Memang begitu. Namun ini tempat Barbeque paling enak di kota ini. Mereka punya resep keluarga yang didatangkan dari Eropa. Kau mau apa, iga atau daging iris?”


“Nanti apa aku boleh menjilati jariku?”


“Tentu.”


“Kalau begitu, aku minta iga saja.”

__ADS_1


Mereka tersenyum ketika pelayan berlalu setelah menerima pesanan mereka. Mereka harus bicara dengan berteriak karena suara musik yang terdengar dari sudut ruangan terlalu nyaring. Beberapa orang terlihat berdansa mengikuti irama lagu sambil berpelukan.


Asap tebal memenuhi ruangan, lampu-lampu neon warna merah muda dan biru, menerangi berbagai merek minuman beralkohol yang cukup terkenal, dan ada pula hiasan yang digerakkan listrik untuk mempercantik ruangan namun malah membuat Gemintang pusing bila memandanginya terlalu lama.


Gemintang dan Raden menikmati kebersamaan mereka. Mereka punya kebiasaan mencari tempat-tempat baru untuk dilewatkan bersama selama beberapa jam setiap malam, demi memberi waktu berduaan buat Adit dan Laura di rumah.


Adit pernah mengutarakan niatnya untuk mengajak Laura berbulan madu, namun ia merasa Laura pasti takut kalau bepergian terlalu jauh. Ia tidak bisa jauh dari rumah dan Heny, karena itu Adit tidak lagi menyinggung soal bulan madu tersebut.


“Kau sering datang ke sini?” tanya Gemintang, sambil meletakkan tangan di meja dan agak mencondongkan tubuh ke arah Raden.


“Sering. waktu aku SMA, waktu belum cukup umur untuk membeli bir, aku dan teman-temanku beramai-ramai datang ke tempat ini dengan mobil. Mereka tidak takut menjual bir kepada kami. Kata daddy…” Mendadak Raden menghentikan kata-katanya, ia teringat akan ayahnya.


“Lanjutkan,” desak Gemintang lembut. “Apa yang daddymu katakan padamu?”


“Dia memberitahu aku waktu-waktu yang di larangan menjual minuman keras, ini tempat berkumpul penyelundup minuman keras. Terutama wiski, di tempat ini bisa didapat dengan mudah dibanding tempat lain.”


Raden merenung sambil memainkan tempat garam seperti orang linglung. Gemintang menggenggam tangan Raden, membuat pria itu mengarahkan pandangan kepadanya. “Kalian berdua selalu bertengkar? Apa tidak ada saat manis sedikit pun yang bisa kau ingat, untuk melupakan sejenak kemarahanmu padanya?”


Raden tersenyum getir. “Ada beberapa, ya. Seperti ketika aku ingin mengisap rokok. Usiaku waktu itu dua belas tahun. Ia memperbolehkan aku mengisapnya. Aku seperti anjing sakit ketika pertama menghisapnya, tapi dia begitu gembira melihatnya. Ia selalu mengejek aku soal itu selama beberapa tahun, tetapi aku tidak keberatan. Kemudian waktu aku tertangkap karena mencoret‐coret dinding sekolah lain. Guntur membelaku mati-matian di hadapan pengurus sekolah, malah mengingatkan mereka bahwa anak laki-laki harus nakal, kalau tidak mereka tidak normal.”


Dahi Raden berkerut. “Bila aku terlibat dalam tindakan kenakalan, Guntur selalu membelaku. Dia menyukaiku bila aku membuat onar. Bila aku melakukan sesuatu yang baik, dia malah memarahi tindakanku. Dia ingin aku seperti dirinya, suka membuat keributan, huru-hara, selalu melanggar aturan. Aku tidak dididiknya menjadi anak baik, tetapi aku tidak pernah memperdaya siapa pun atau menyakiti seseorang.” Raden melihat Gemintang menatapnya dalam-dalam. “Aku ingin kau, sesungguhnya aku menyesali dia dan aku tidak saling menyayangi.”


“Aku tahu sayang, kau ingin bisa menyayanginya.”


“Andai nanti aku punya anak laki-laki atau perempuan, aku ingin menyayangi mereka setulus hatiku, dan aku akan membimbingnya menjadi anak-anak baik dan membiarkan mereka menentukan cita-cita mereka sendiri. Aku bersumpah untuk itu.”


Mereka bergenggaman tangan di atas meja dan tidak melepaskannya sampai makanan mereka datang.

__ADS_1


__ADS_2