
"LAURA?” Adit berlutut di antara jerami dan memegang bahu Laura. “Apa yang kaulakukan di sini?”
“Hmmm?” Laura terbangun dari tidur, berguling ke pinggir, lalu telentang lagi. “Adit?” gumam Laura. “Sudah pagikah?” tanya gadis itu lembut sambil menggeliat malas, melengkungkan punggung dan memajukan dadanya ke arah Adit.
“Hampir pagi,” jawab Adit sambil memalingkan mata dari dada Laura. “Apa yang kaulakukan di sini?”
Laura duduk sambil menepiskan jerami yang ada di rambutnya. Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap masuk ke kandang kuda, udaranya terasa masih agak dingin seperti udara malam, tetapi tumpukan jerami tempat Laura berbaring terasa hangat. Kuda-kuda di dalam kandang meringkik, berteriak minta makan pagi.
Mata Laura yang masih mengantuk tertuju pada Adit. Ia tersenyum dan mengelus pipi Adit, yang kemerahan dan segar setelah bercukur. “Semalam Gemintang dan Raden bertengkar. Aku dengar mereka saling berteriak. Heny sudah tidur, karena itu aku tidak ke kamarnya. Teriakan mereka membuatku merasa ingin pergi keluar dari rumah. Mengapa Gemintang dan Raden selalu bertengkar? Aku tidak mengerti, Adit.”
Laura menyandarkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di dada Adit, tangannya memeluk pinggang Adit. “Akhirnya, aku datang ke sini. Pintu kamarmu dikunci dan lampunya mati. Aku tahu kau sudah tidur pulas. Aku tidak ingin mengganggumu, jadi aku putuskan untuk berbaring saja di sini, di kandang kuda yang kosong, dan tertidur pulas. Perasaanku lebih tenang bila berada di dekatmu.”
Laura makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Adit. Perasaan Adit galau, ia mamaki Raden karena membuat Laura tidur di kandang kuda. Apakah Raden mengira ia tega menyakiti Laura? Tidak bisakah kakak laki-laki Laura yang keras kepala itu melihat bahwa ia mencintai perempuan ini?
Semalam ia baru saja berjanji tidak akan berduaan dengan Laura, dan tidak akan pernah menyentuh gadis itu. Karena kalau sampai tertangkap basah, berarti ia harus meninggalkan tempat ini untuk selamanya, ia tak sanggup berpisah dengan Laura.
Tapi saat ini, ia tak bisa menepati janjinya karena ia begitu dekat dengan tubuh Laura yang lembut menghalau semua ancaman Raden dari benaknya. Tanpa memikirkan konsekuensi yang akan di terimanya, tangan Adit mendekap Laura erat-erat.
“Aku yakin, mereka seperti itu karena mereka tengah berduka atas kehilangan daddymu. Mereka akan segera meluruskan perbedaan di antara mereka, biarkan mereka beradaptasi."
“Aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka bisa bersahabat.”
__ADS_1
Adit membenamkan pipinya di rambut Laura, tangannya yang besar dan kasar mengelus punggung gadis itu. "Kalau semuanya sudah beres, mereka akan bersahabat. Mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku yakin.”
Laura mengangkat kepalanya dari dada Adit, menengadah, menatap Adit. Sorot matanya memancarkan keyakinan dan penuh cinta. “Kau begitu baik, Adit. Mengapa tidak semua orang sebaik dirimu?”
“Aku tidak baik,” jawab Adit, ia tercenung sambil menelusuri pipi Laura dengan jari telunjuknya. “Aku bukan orang baik, sampai aku berjumpa denganmu. Kebaikan apa pun yang kumiliki, berasal dari dirimu.”
“Aku cinta padamu, Adit," ucap Laura.
Adit memejamkan mata, ia mendekap tubuh Laura makin erat, ditekannya kepala Laura dalam-dalam ke lehernya “Jangan bilang begitu, Laura.”
“Aku ingin mengatakannya padamu, karena aku memang sangat mencintaimu. Bukankah, jika kita mencintai seseorang, kita harus mengungkapkannya. Apa itu salah?”
Laura menjauhkan tubuhnya dan menatap Adit dengan penuh harap. Di saat itu juga Adit mengutarakan perasaannya. “Aku juga mencintaimu, Laura.”
Sambil tersenyum, Laura mendekap Adit. Seperti anak kecil, ia melingkarkan tangannya di leher Adit dan memeluknya. “Oh, Adit. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu.” Diciuminya seluruh wajah Adit selembut kepakan sayap kupu-kupu. “Aku cinta padamu.” Laura mencium Adit sampai di bibir, namun sejenak ia ragu, ia teringat kata-kata Gemintang yang mengingatkannya untuk berhati-hati.
Adit menghirup napas Laura, merasakan getaran kegembiraan yang terpancar dari tubuh perempuan yang demikian dekat dengan tubuhnya. Persetan! dengan ancaman Raden, ia akan menghadapi apa pun konsekuensinya, ia akan mempejuangkan wanita yang sangat ia cintai.
Bibir Adit mencium bibir Laura dengan lembut. Getaran-getaran kecil yang keluar dari dada Laura mengalir ke tenggorokan Adit, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Tidak pernah ia merasakan perasaan seperti yang dirasakannya ketika bersama Laura.
Adit telah mengenal banyak perempuan, tetapi bukan perempuan seperti Laura, bukan perempuan yang penuh cinta dan bisa dipercaya, polos, tulus, dan tidak mementingkan diri sendiri.
__ADS_1
Secara naluri Laura membuka mulutnya, membiarkan bibir Adit mel*mat bibirnya, membuat Adit mendesah. Lidahnya menjelajahi bibir Laura, menikmatinya. Laura menekankan bibirnya makin kuat ke bibir Adit, tubuhnya yang dirapatkan ke tubuh Adit membuat Adit dapat merasakan payud*ra Laura dan puncaknya yang menegang menyentuh dadanya. Adit makin erat mendekap tubuh Laura sementara lidahnya bermain-main di dalam mulut Laura.
Kedua orang itu berguling-guling, hanyut dalam kenikmatan yang baru mereka temukan. Pengalaman baru buat Adit juga buat Laura. Keduanya berbaring di atas jerami. Adit meletakkan kakinya yang utuh di atas paha Laura, dan kaki gadis itu yang ramping menjepit kaki Adit.
“Laura,” Adit menyebut namanya. Dengan berani ia mencoba menekan dorongan s*ksualnya yang menggelora, pay*dara Laura ada di bawah tangannya, pay*dara itu terasa kencang hingga akhirnya Adit tak tahan lagi untuk tidak menyentuh payud*ra itu dengan jari-jarinya.
“Adit, Adit,” desah Laura. “Oh, Adit, bercintalah denganku, Adit.”
Adit rersentak. Ditatapnya wajah Laura yang berbinar-binar. “Tidak bisa,” jawab Adit lembut. “Kau sadar apa yang kau katakan Laura?”
“Ya.” Jari-jari Laura menelusuri wajah Adit yang keras dengan penuh cinta. “Aku tahu apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki saat bersama. Aku ingin kita melakukannya.”
“Kita tidak boleh melakukan itu," ucap Adit dengan tegas.
Laura membasahi bibir dan matanya memancarkan keraguan. “Kau tidak mencintai aku?”
“Aku cinta padamu. Karena itulah aku tidak bisa melakukannya denganmu. Aku tidak bisa melakukan itu denganmu, kecuali kau sudah menjadi istriku.”
“Oh.” Laura tampak kecewa. Matanya memandang bibir Adit. Jari-jarinya menyentuh wajahnya. “Apakah kita harus berhenti berciuman?”
Sambil tersenyum, Adit menundukkan wajah dan menciumi bibir Laura. “Tidak.” jawab Adit. “Tidak.”
__ADS_1