Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan
BAB 32


__ADS_3

“SELAMAT PAGI, NONYA BUANA.”


"Nyonya Buana, hari ini cuaca cerah ya?”


Gemintang tersenyum, membalas salam yang ditujukan kepadanya ketika memasuki pabrik. Musim panen getah karet sudah di depan mata. Para pekerja mulai lembur, jam kerja yang panjang dan melelahkan, namun tetap terpancar kesan bangga di wajah para pekerja di pabrik itu.


Raden.


Semua peralatan, setelah diperbaiki baru‐baru ini, bisa kembali dioperasikan dengan hasil memuaskan. Para petani karet yang pada musim-musim panen yang lalu menjual hasil panennya ke pabrik lain, kini kembali membawanya ke pabrik keluarga Buana.


Raden.


Keberadaannya di pabrik yang hanya beberapa minggu itu membawa perubahan drastis. Ia membuat leraturan yang super ketat namun bijasana, pekerja yang bersedia bekerja keras mendapat kenaikan upah yang tinggi, sementara yang biasanya datang terlambat atau melalaikan tugas langsung dipecat.


Gemintang melihat orang-orang yang dipecat oleh Raden adalah orang-orang yang bukan hanya suka melalaikan tugas, tapi mereka juga adalah orang-orang yang dipekerjakan Guntur untuk 'tugas khusus'. Dulu Gemintang pernah meminta Guntur untuk memecat mereka. “Mereka suka bikin masalah,” ucap Gemintang, kala itu.


Waktu itu Guntur hanya  tersenyum  manis. “Mereka melakukan… tugas‐tugas… sangat baik bagiku, Gemintang. Kalau mereka membuat sedikit onar, tolonglah, tidak usah kau hiraukan.”


“Tetapi mereka mengganggu pekerja yang lainnya.”


“Ya, nanti aku akan bicara dengan mereka," ucap Guntur diplomatis.


Sekarang barulah Gemintang tahu mereka itulah yang diperintahkan Guntur untuk memata-matai Raden saat Raden ke hutan menemui dirinya.


Raden, dengan persetujuan Gemintang, tidak mau menunda waktu semenit pun untuk menendang orang-orang yang tak berguna dan menaikkan gaji karyawan yang bisa dipercaya dan setia. Mereka menghormati Raden, dan mereka bekerja keras bukan karena takut pada Raden, seperti waktu mereka bekerja pada Guntur, mereka bersedia bekerja keras karena menyukai Raden. Raden punya kemampuan memotivasi mereka. Raden memberi kritik-kritik yang membangun pada mereka, dan ia juga tak segan memberikan pujian bila mereka pantas dipuji. Raden ikut bekerja keras bersama mereka. Tak heran, jika dalam benak Gemintang, Raden kini menjadi pebisnis yang sukses.


Sepuluh hari telah berlalu sejak peristiwa perkelahian di kandang kuda antara Adit dan Raden. Raden lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik, Gemintang senang Raden berada di pabrik, keberadaannya menambah kepercayaan diri Gemintang. Meski tidak diungkapkan secara gamblang, Gemintang dan Raden berusaha berdamai dengan keadaan.


Suatu pagi di pabrik, sewaktu Gemintang sibuk mengurus surat-surat pajak, Raden masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. “Gemintang, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, apa kau tidak sibuk?"


Gemintang tersenyum manis dan merentangkan tangan ke arah kertas‐kertas yang berserakan di mejanya. “Oh, tidak. Aku tidak sibuk.”


Raden tersenyum ganjil. “Ini penting, semoga tidak mengganggumu.”


Sambil berdiri, Gemintang bertanya, penasaran, “Siapa?”


“Kejutan.”


Dengan jari-jari menempel di punggung Gemintang, Raden mengajak wanita itu melewati ruang produksi yang bising, mereka berjalan ke lua.


Seorang pria bertubuh besar dengan setelan warna putih, terlihat mengisap cerutu yang menyebarkan bau menyengat dan tidak menyenangkan, mengingatkan Gemintang pada Guntur.


Tetapi tak terlihat kepribadian menyebalkan seperti Guntur pada pria itu, yang kini tersenyum ramah ketika melihat Gemintang yang bersama Raden berjalan menghampirinya.


“Tuan Zack kenalkan, ini nyonya Gemintang Buana."

__ADS_1


“Tuan Zacky,” Gemintang menjulurkan tangan. Tangan Gemintang yang kecil tenggelam dalam genggaman tangan Zack yang menyalami Gemintang dengan tulus.


“Senang bisa berkenalan dengan Anda, nyonya Buana. Aku rasa anda sangat senang punya… uh… ehm… anak tiri seperti Raden. Karena ia mengatakan pada saya, berkat pengelolaan anda pabrik getah karet keluarga Buana berkembang pesat.”


Pipi Gemintang langsung memerah ketika ia melirik Raden, kemudian kembali menghadap tamunya. “Sebetulnya Radenlah yang sangat banyak membantu saya."


“Tuan Zacky adalah calon pembeli produk kita, beliau berasal dari Bandung," ucap Raden.


Gemintang langsung menghadap ke arah Raden, sembari mengangkat alisnya Gemintang dan mulutnya yang ternganga kecil karena terkejut. Mata Raden berbinar nakal, rasanya ia ingin tertawa melihat ekspresi Gemintang.


“Saya… saya mengerti,” ucap Gemintang dengan gagap, lalu kembali menghadap ke arah calon pembeli.


“Kami akan dengan senang hati memberikan contoh produk kami kepada Anda, tuan,” ucap Gemintang setenang mungkin.


Gemintang merasa adrenalinnya mengalir cepat ke seluruh tubuhnya, bila kerja sama ini terjalin itu berarti lompatan bisnis besar buat mereka.


“Aku sudah mendapatkan sample produknya. Aku tahu produk karet di sini memiliki kualitas terbaik, maka dari itu aku datang kemari," ucap Zacky dengan penuh kekaguman.


Baik Gemintang maupun Raden berusaha menekan lonjakan kegembiraan hati mereka. “Jadi tuan datang kemari untuk langsung menandatangani kontrak kerja samanya?"


Zacky mengangguk. “Berapa banyak yang bisa kau jual kepadaku?”


Gemintang berdiri di samping Raden dengan perasaaan resah, ia berganti-ganti posisi berdirinya ketika Raden tawar-menawar dengan si calon pembeli. Akhirnya mereka sepakat atas sejumlah produk yang akan dikirim dan serta harga jualnya. Harga paling mahal yang pernah diperoleh pabrik ini.


“Dengan pesawat?” tanya Zacky, menatap Raden tidak percaya. Tetapi bukan hanya Zacky saja yang terkejut, Gemintang pun terkejut.


“Kami berikan servis istimewa kepada pembeli pilihan kami,” jawab Raden sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ketika Zacky berbalik hendak melangkah masuk ke ruang kantor, Raden mengedipkan mata pada Gemintang yang masih terkejut dan tidak dapat berkata-kata.


Setelah Zacky meninggalkan pabrik, Gemintang memandang Raden dengan kesal. "Pesawat?” tanyanya, dengan nada tinggi. “Mengapa kau tidak bicara padaku?"


Raden tertawa, lalu membuka laci, membuka lemari, mencari-cari sesuatu. “Tenanglah, semuanya akan berjalan lancar,” jawab Raden seenaknya. "Masih ada aku di sini.” Ia mengeluarkan sebotol minuman beralkohol dari laci lemari paling bawah. “Ada gelas minuman? Ah, persetan dengan gelas.” Raden membuka tutup botol, mendongakkan kepala dan langsung menenggak minuman dari botol.


Wajah Raden meringis ketika carian itu mengalir turun ke tenggorokannya. “Aku punya pesawat barang yang sudah kuperbaiki sendiri. Kita kan ingin membuat citra yang bagus pada perusahaan tuan Zacky, bukan? Apa kau pikir mereka akan mengabaikan perusahaan yang bisa mengantarkan karet mereka dengan pesawat terbang?”


“Tetapi biaya bahan bakarnya saja sudah berapa… Raden, biayanya sangat mahal.”


“Tidak, bila aku yang mengangkut dan menerbangkan pesawat itu,” jawab Raden, sambil melempar senyum lebar pada Gemintang. “Yang harus dibayar cuma biaya bahan bakar saja. Tetapi bila kontrak kerja sama dengan tuan Zacky terus berkelanjutan, itu investasi besar, menurutku.” Raden mengangkat botol sebagai tanda hormat pada Gemintang sebelum kembali menenggak minuman beralkoholnya, kemudian menyodorkannya ke hadapan Gemintang. “Mau?”


Gemintang menatap botol minuman itu, dan tergoda ingin meminumnya juga. “Tapi aku tidak biasa,” ucapnya, malu-malu sembari melempar pandang ke arah pintu.


“Sudahlah minum saja.”


“Bagaimana bila ada yang datang dan melihat kita minum-minum di sini?”


“Mereka akan mengerti. Kita baru saja menandatangani kontrak kerjasama yang besar. Di samping itu, aku sudah memberitahu mereka, siapa pun tidak boleh masuk ke ruang kerja ini tanpa mengetuk pintu lebih dulu.”

__ADS_1


“Kau selalu masuk tanpa mengetuk.”


Raden kelihatan jengkel. “Kau mau minum atau tidak?”


Dengan berani Gemintang memegang leher botol dan meniru gerakan Raden, kepalanya ditengadahkan dan ia membiarkan minuman itu meluncur turun ke tenggorokannya.


Gemintang terbatuk-batuk, air matanya menitik dan ia merasakan perutnya terbakar. Raden mengambil botol minuman dari tangan Gemintang ketika melihat Gemintang terbungkuk-bungkuk karena batuk. Ia menepukkan punggung Gemintang dengan lembut.


“Lebih baik?” tanya Raden cemas.


Perlahan Gemintang menegakkan tubuh, menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Lumayan,” jawab Gemintang dengan suara parau, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.


“Oh Tuhan, Gemintang. Tadi aku khawatir sekali,” ucap Raden.


“Aku baik-bauk saja, hanya tak terbiasa minum. Oh ya mengapa kau tidak memberitahu aku lebih dulu tuan Zacky akan ke sini?”


“Aku tidak ingin membuatmu berharap.”


“Aku senang kau tidak memberitahuku. Aku suka kejutan.”


“Oh ya?”


“Ya.” Gemintang melempar senyum pada Raden. “Ya, ya, ya.”


Raden memeluk pinggang Gemintang, mengangkat tubuh perempuan itu beberapa sentimeter dari lantai lalu memutar-mutarnya. Keduanya tertawa-tawa. Raden menengadah ketika memandang Gemintang. Gemintang tersenyum dengan posisi tubuh yang masih terangkat dan meletakkan tangannya di bahu Raden.


“Kita berhasil! Kita berhasil membuat kontrak kerja sama paling mahal dalam sejarah perusahaan Buana. Kau sadar apa arti kesepakatan ini, Gemintang? Pembeli-pembeli baru akan berdatangan ke sini. Petani karet akan berdatangan ke tempat kita,” ucap Raden,


"Tahun depan, kita bisa mengembangkan perusahaan ini.” Raden mendekap Gemintang, memutarnya seperti orang yang berdansa.


Ketika Raden menurunkan tubuh Gemintang, timbul keinginan Raden untuk mencium wanita itu. Bibir Raden mencium bibir Gemintang. Bukan ciuman kekasih, tetapi ciuman antar-kawan untuk merayakan kesuksesan pekerjaan mereka.


Namun nuansa ciuman anatar kawan pun berubah, sewaktu Raden merasakan bibir Gemintang yang lembut, basah, dan pasrah menyentuh bibirnya, seketika gelora hasratnya langsung berkobar.


Raden mengangkat kepala hendak melihat reaksi Gemintang, matanya memandang wajah Gemintang lekat-lekat, mengamati garis-garisnya. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang pirang, sorot matanya yang bening bak titik hujan yang berkilau, bibirnya, semua menarik hatinya.


Ya ampun, Raden masih menginginkan Gemintang. Betapa ingin ia ******* Gemintang, menjadikannya pelabuhan terakhirnya, selama-lamanya. Namun Gemintang sudah bersumpah akan setia sampai mati pada daddynya. Dan Raden yakin, meski Guntur telah meninggal dunia, Gemintang masih menjadi milik Guntur dan karena alasan itulah Raden tak berani mewujudkan apa yang sangat didambakannya. Gejolak hasrat dalam tubuhnya seperti mencekik dirinya, ia harus melepaskan cengkeraman itu dan melepaskan Gemintang.


Ia tidak ingin melakukannya. Raden menarik tangannya dari belakang pinggang Gemintang ke samping. Dibiarkannya kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Perlahan-lahan mereka saling menarik diri sebelum akhirnya Raden melangkah mundur.


Raden membalikkan badan untuk melihatnya sebelum membuka pintu. “Kurasa aku akan mengundang seluruh karyawan minum bir untuk merayakan peristiwa ini. Ini bisa mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan produk berkualitas untuk perusahaan Tuan Zacky.”


“Baiklah, kutunggu kau di rumah.”


Raden mengangguk. “Aku tidak akan terlambat untuk makan malam bersama.”

__ADS_1


__ADS_2