
Heny tersinggung karena adanya ketegangan di antara Raden dan Gemintang karena menghancurkan segala upayanya untuk menjadikan hari ini sebagai hari istimewa unyuk menyambut kepulangan kembali Raden ke rumah.
“Mengapa semua marah-marah?” tanya Laura tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya.
Di rumah ini hanya Laura yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran kakak yang dikasihinya, tetapi ia juga bisa menangkap ketegangan yang terjadi di meja makan.
“Kami semua mengkhawatirkan kondisi daddy,” ucap Gemintang lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Laura.
“Tetapi kak Raden sudah di sini, dan ada pula mang Adit.” Laura menatap Adit dengan mesra. “Kita harus bergembira.”
Laura membuat yang lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Raden tidak lagi menatap Adit dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Adit menatap adiknya. Ia dan Gemintang juga berhenti saling menatap penuh permusuhan dan keduanya bahkan mengobrol tentang orang-orang yang dikenal Raden beberapa tahun yang lalu. Gemintang memberitahu Raden siapa saja yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang makin kaya, dan siapa yang menjadi miskin.
Begitu selesai makan, Adit berdiri, mengucapkan terima kasih pada Heny, kemudian langsung berjalan ke arah dapur. “Tunggu sebentar, mang Adit,” panggil Laura. “Aku ikut, aku ingin menengok anak kuda itu.”
“Kita akan pergi ke rumah sakit, Laura,” ucap Raden singkat.
“Tetapi aku ingin melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada mang Adit akan menengoknya di kandang pagi ini.”
Adit langsung menangkap maksud Raden. “Laura, daddymu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda itu tidak akan pergi ke mana-mana,” canda Adit. “Kau bisa menjenguknya kapan saja kau mau.”
“Baiklah, mang Adit,” Laura menyetujui dengan suara lirih. “Aku akan menemuimu begitu kembali.”
Adit mengangguk, sekali lagi berterima kasih pada Heny dan cepat-cepat berlalu. Ia tidak menatap Raden ketika meninggalkan ruangan.
Gemintang buru-buru bangkit. “Aku akan bersiap-siap, Raden. Laura, mau dandan dulu sebelum pergi?”
“Ya, kurasa.”
Mereka turun ke lantai bawah kembali beberapa menit kemudian. Raden sudah menunggu mereka di teras. Heny berdiri di sampingnya, memegang vas berisi bunga-bunga mawar yang baru dipotong. “Heny akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga mawar untuk Daddy. Laura, kau ikut mobil Heny saja, pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah.”
__ADS_1
“Biar aku saja yang memeganginya.” Gemintang buru-buru menawarkan diri. Tatapan mata Raden yang tajam padanya mengisyaratkan sikap tidak setuju.
“Aku ingin bicara denganmu selama perjalanan.” ucap Raden anpa bisa dibantah, ia langsung mengantar Gemintang menuju mobil Mercedes-Benznya, sementara Heny melaju dengan mobil Fortuner, yang sebenarnya milik Guntur, tetapi dipercayakan kepadanya.
“Apakah kau bertemu dokternya tadi pagi?” tanya Gemintang, memecah keheningan ketika mereka di perjalanan.
“Ya. Ia menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Randy.”
“Apakah… apakah dokter memberitahukan kapan....“
“Bisa terjadi kapan saja.”
Mereka melaju di jalan tol, menuju pusat kota, sebelum Raden menyinggung hal lain, “Siapa Adit?”
“Aditya Rahardiyan," jawabnya singkat.
“Mantan pembalap, tapi kemudian ia mengalami kecelakaan.”
“Karena itukah jalannya pincang? Cidera sewaktu balap?”
“Ia kehilangan kaki kirinya dari lutut ke bawah," ucap Gemintang mengatakan sambil memalingkan wajah ke arah Raden. Raden terus mengarahkan pandangan ke jalan, namun Gemintang melihat tangan Raden mencengkeram kemudi dan otot-otot tangannya menonjol. Air mukanya tegang, menyiratkan kekerasan hati, tak tergoyahkan, dan keangkuhan yang berlebihan.
Gemintang tahu Raden tidak menyukai Adit terlebih melihat Adit cacat seumur hidup. “Adit pribadi yang sangat berhati-hati, pekerja keras, dan jujur.”
“Aku tidak suka kedekatannya dengan Laura.”
“Mengapa?”
“Kau masih perlu bertanya?” tanya Raden, sambil memalingkan kepala. “Tidak sehat dan berbahaya, itu sebabnya. Laura tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki-laki lajang sepanjang waktu.”
__ADS_1
“Aku tidak melihat salahnya. Laura juga lajang.”
“Dan masih lugu soal se*s. Sangat lugu. Bahkan aku tidak yakin Laura paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan mengapa berbeda."
“Dia pasti tahu!”
“Baiklah, kalau begitu makin kuat alasan buat Laura untuk tidak perlu sering bersama Adit. Karena aku yakin Adit hanya akan memanfaatkan keluguan Laura.”
“Hei jangan asal menuduh, Adit itu sangat baik terhadap Laura. Dia pria sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah terluka, bukan hanya secara fisik namun juga batin, jadi Adit tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Laura selama ini.”
“Bagaimana bila ia memanfaatkan rasa suka Laura? Secara s*ksual…”
“Dia tidak akan melakukan hal seperti itu.”
Raden mendengus. “Pasti begitu. Ia kan laki-laki dan Laura perempuan cantik, sementara banyak kesempatan bagi mereka untuk melakukan hal itu.”
“Sepertinya kau tahu banyak.”
Kata‐kata tajam itu meluncur keluar dari bibir Gemintang tanpa bisa ditahannya. Raden mengerem mobil di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Gemintang. raut wajahnya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Gemintang. Gemintang sudah memulainya duluan, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
“Kau jelas sangat paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang tidak akan pernah kau tepati.”
“Maksudmu soal janjik yang dulu itu?”
“Ya! Aku heran, bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili wanita lain. Kau menganggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati hal yang lebih menyenangkan bersama wanita lain?”
Raden membiarkan Gemintang bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya kembali keras-keras. Saat itulah Gemintang baru menyadari Heny dan Laura sudah berdiri menunggu di pintu masuk rumah sakit dan memandangi mereka.
Gemintang merasakan jari-jemarinya dingin ketika ia mengepalkannya, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang ketika Raden membukakan pintu mobil dan membantunya keluar. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang saat mereka bersama-sama memasuki lobi rumah sakit lalu menaiki lift.
__ADS_1