
Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba, semua orang penghuni rumah berkumpul di ruang tamu. Sebenarnya ini adalah kali ke dua Randy mengatur waktu untuk pembacaan surat wasiat Guntur, karena sempat dua kali tertunda.
Pada kesempatan pertama, Raden mendadak harus kembali ke Jakarta untuk mengurus masalah perusahaan penerbangannya. Yang kedua, Randy yang minta ditunda, karena ada kliennya yang lain yang lebih membutuhkan bantuannya.
Diam-diam Gemintang gembira dengan penundaan-penundaaan tersebut, ia butuh waktu beberapa minggu untuk mencari tempat tinggal, rumah yang lebih kecil tetapi cantik, untuk ia tempati sendirian. Namun, sampai saat ini ia merasa tidak punya semangat untuk memulai pencarian rumah tersebut, karena pekerjaan di pabrik sangat sibuk.
Produksi lebih banyak dari sebelumnya, ia dan Raden selalu ke pabrik dini hari dan pulang ke rumah larut malam. Panen getah karet musim ini hampir selesai, semua produk siap dibawa ke gudang untuk dijual ke beberapa pedagang. Pesanan Zacky pun sudah diterbangkan ke Bandung seperti yang dijanjikan Raden.
Kalau bukan tuntutan pekerjaan di pabrik, mereka tak punya alasan untuk menghabiskan waktu bersama. Sejak kejadian malam itu, di ayunan, tak pernah ada kesempatan buat mereka untuk bermesraan, meski hasrat mereka tetap menggelora, tetap terpancar di antara mereka.
Randy batuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan "Kurasa, kita sudah siap.” Ia duduk di samping meja kecil, tempat ia meletakkan amplop manila.
Laura dan Raden duduk berdekatan, tangan mereka saling menggenggam penuh kasih. Gemintang duduk di kursi sebelah kiri. Ada pula Heny yang juga diundang, duduk di sebelah kanan mereka, agak di belakang.
Randy mengambil kacamata dari saku kemejanya dan meletakkannya di hidungnya yang besar. Dengan hati-hati ia membuka amplop, mengeluarkan dokumen dan meluruskan dokumen yang kaku itu. Ia mulai membacakan isinya.
Semasa hidup Guntur tidak suka menyumbang, ia selalu marah-marah setiap kali melihat istrinya, Agatha, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan amal. Namun dalam surat wasiatnya, anehnya Guntur mewariskan sejumlah uang kepada gereja, dan kepada berbagai komunitas sosial lainnya.
Randy berhenti sejenak, menuang air ke gelas dari teko yang disediakan di meja oleh Heny untuknya, meneguknya, lalu melanjutkan. Ia membaca dengan suara datar, tetapi dengan sikap berat hati. Setelah selesai membacakan isi surat wasiat, ia melipat kertas-kertas itu lalu memasukkannya kembali ke amplop. Ia melepas kacamatanya dan memasukkannya kembali ke saku kemeja.
Ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu diam tak bergerak. Bahkan Laura, yang tidak memahami isi surat wasiat ayahnya sepenuhnya, mengerti isi surat wasiat yang sangat tidak fair itu.
__ADS_1
“Daddy tidak mewariskan apa pun untuk kak Raden,” ucap Laura kepada Randy.
“Bajingan tua brengsek,” maki Heny sambil menarik napas ketika meninggalkan ruangan dengan gusar. Ia menolak uang yang diwariskan untuknya sebagai imbalan “bertahun‐tahun mengabdikan diri merawat Laura”.
Perlahan Gemintang bangkit dari duduk dan dengan ragu-ragu melangkah ke arah orang yang seharusnya menjadi ahli waris utama di rumahnitu. “Raden, aku ma..”
Raden mendongak seketika, matanya nanar menatap Gemintang, menghentikan kata-kata Gemintang sebelum keluar dari mulutnya. Raden bangkit dari kursi dengan memancarkan kebencian di raut wajahnya, ia meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
Randy mengikuti Raden dan berhasil mengejarnya di teras rumah. “Raden, maafkan aku.” Ia menyambar lengan kemeja Raden dan berhasil menghentikan langkahnya keluar dari rumah. “Aku tidak suka membacakan isi surat wasiat itu. Aku sudah membujuk Guntur agar mempertimbangkannya kembali.”
“Kau lebih tahu apa yang terjadi, selamatkan saja dirimu,” jawab Raden ketus.
“Aku sudah membujuk ibumu untuk mempertahankan rumah ini dan pabrik atas namanya. Ibumu menandatangani surat wasiat jauh sebelum beliau meningggal, beliau mewariskan rumah ini dan pabrik kepada Guntur. Waktu itu aku sudah berpikir bahwa itu bukan ide yang baik. Dan sekarang…”
“Bila kau mengira Gemintang memengaruhi keputusan Guntur, kau keliru.”
“Begitukah?”
“Ya,” jawab si pengacara. “Gemintang sama sekali tidak peduli soal rumah ini, sama seperti soal beasoswa yang di terimanya."
Raden memutar kepala seketika. “Apa yang kautahu tentang hal itu?”
__ADS_1
“Aku tahu,” jawab Randy sambil merendahkan suara. “Aku tahu segala yang dilakukan Guntur terhadap Gemintang secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak mengerti sikapnya. Tadinya aku mengira ia seperti bandot yang suka daun muda, Tapi… yah, ia melakukan itu dengan perempuan muda lainnya.” Ia menatap. Raden dalam-dalam. “Tapi belakangan aku tahu, bertahun-tahun Guntur memperalat Gemintang untuk menarikmu pulang.”
“Yah, bila itu yang Guntur inginkan sebelum ia meninggal, sudah terkabul. Karena aku sudah pulang sebelum dia meninggal." Raden pergi, membiarkan pintu gerbang di belakangnya terbanting.
Dari ruang tamu, Gemintang melihatnya pergi. Ia sudah mendapatkan apa yang selalu didambakannya. Rumah mewah. Tetapi ia justru sama sekali tak bahagia.
“Tante Gemintang, apa yang bisa kulakukan dengan pabrik itu?” tanya Laura bingung ketika muncul di belakang ibu tirinya. “Aku hanya pernah ke sana beberapa kali dalam hidupku.”
Perasaan iba melihat perempuan muda yang bingung itu mengalihkan kepedihan yang melanda hatinya. Gemintang memeluk Laura dengan hangat. “Kau jangan terlalu mengkhawatirkan pabrik. Ayahmu hanya mewarisimu keuntungan yang didapat dari pabrik.”
“Lalu bagaimana dengan tante, bukankah tante yang bekerja keras mengelolanya?”
“Aku dapat gaji tahunan untuk mengawasi pabrik. Randy akan memberitahu kita berdua tentang perhitungannya dan mengawasi semuanya. Tak usah cemas. Semuanya akan berjalan seperti biasanya.”
“Tante akan tinggal di sini, kan? Tante tidak akan pergi?”
“Kau dengar apa yang dibacakan Randy. Daddy memberikan rumah ini padaku.” Ia meletakkan pipinya ke rambut Laura dan membiarkan rambut itu mengisap air mata yang menitik jatuh dari matanya.
Gemintang tidak bisa di bogongi, ia tahu Guntur memberikan rumah mewahnya kad Gemintang agar membuat Raden sangat membencinya. Ia kini memang menjadi pemilik rumah ibunda Raden, namun ia bersedia memberikan untuk Raden karena ia tahu Raden sangat mencintai rumah ini, rumah ini menjadi bagian dari diri Raden dan ibundanya yang amat Raden cintai.
“Tante tetap di sini, tetapi kak Raden akan pergi,” ucap Laura sedih.
__ADS_1
“Aku berharap Raden masih mau tinggal di sini karena aku sama sekali tak keberatan dia tinggal di sini." Gemintang semakin erat memeluk Laura.