
Bayang-bayang malam yang panjang mulai menyelinap di antara jendela, Heny sibuk membereskan gelas dan tisu bekas pakai, dan membuang debu rokok dari asbak.
“Ada yang mau makan malam?” tanyanya.
“Aku tidak mau, terima kasih, Heny,” jawab Gemintang dengan galau.
“Tidak, terima kasih.” Raden menuang minuman kerasnya ke dalam gelas tinggi. “Tidurlah, Heny. Kau sudah bekerja keras sepanjang hari.”
Heny mengangkat baki yang penuh dengan gelas-gelas. “Setelah selesai mencuci gelas-gelas ini, aku akan tidur. Ada hal lain yang kau butuhkan, nyonya?”
Gemintang tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu menggeleng. “Selamat malam, Heny.”
“Hmmm, di kulkas banyak makanan bila ada yang lapar. Selamat malam.”
Heny meninggalkan Gemintang dan Raden berduaan di ruang tamu. Gemintang menyandarkan kepala di bantal sofa dan memijat-mijat pelipisnya sambil memejamkan mata, ia membuka kancing kemejanya dan melepasnya separuh sembari menarik napas lega.
Setelah membuka setelan jas hitamnya, Raden menggulung lengan kemeja. Ia berdiri di salah satu sudut jendela, satu tangan dimasukkan ke saku celana, tangan yang lainnya sesekali mendekatkan gelas minuman ke bibirnya. Ini pertama kalinya mereka berduaan sejak meninggalkan rumah sakit dua malam yang lalu. Sepertinya mereka tak punya bahan obrolan.
Perlahan mata Gemintang membuka, ia mengamati Raden dari seberang ruangan. Rambutnya yang hitam tampak kontras sekali dengan kerah kemejanya yang putih. Bahunya bidang.
Selagi Gemintang asyik mengamatinya, mendadak Raden tampak tegang dan mengumpat, “Apa-apaan mereka itu?” Raden meletakkan gelas minuman di meja lalu menghambur ke luar ruangan. Raut wajahnya tampak tegang. Karena terkejut, Gemintang pun melompat dari sofa dan cepat-cepat lari ke jendela.
__ADS_1
Tampak Adit dan Laura di halaman, mereka berdua berjalan perlahan menuju rumah. Tangan Adit merangkul pundak Laura, tubuh mereka rapat. Laura merebahkan kepala di dada Adit. Adit menunduk, menempelkan kepalanya ke kepala Laura.
Gemintang melihat bibir Adit bergerak‐gerak, berbicara pada gadis itu dengan lembut. Kemudian dilihatnya bibir Adit mengecup pelipis Laura, memberikan ciuman lembut.
Gemintang menghambur ke luar dengan kaki yang hanya mengenakan stoking, karena tahu apa yang dilihat Raden. Ia harus mengejar Raden sebelum pria itu menghajar Adit.
Tapi saat Gemintang membayangkan Raden menghajar Adit, ia mendengar pintu depan dibanting Raden keras-keras, langkahnya menggema di lantai teras rumah. “Laura!” seru Raden.
Gemintang mengejar Raden, tergesa-gesa menuruni anak tangga. “Raden, jangan.”
Laura mengangkat kepala dari dada Adit, tetapi tidak kelihatan ia hendak menjauhkan diri dari Adit. Sebaliknya, ia malah menggandeng Adit ke hadapan Raden yang memanggilnya.
“Ya, Kak Raden?” ujar Laura.
“Dari mana kau?”
“Aku dari rumah mang Adit, nonton televisi.” Laura tersenyum pada Adit. “Adit ingin menghiburku, melupakan kedukaanku karena ditinggal Daddy.”
Api kemarahan yang menggelora dalam hati Raden seperti disiram bensin. “Hmmm, kau tahu ini sudah larut malam. Sebaiknya kau cepat pergi tidur.”
“Tadi mang Adit juga bilang begitu padaku,” jawab Laura sambil menarik napas. “Selamat malam, semuanya.” Laura tersenyum manis pada Adit sebelum masuk rumah.
__ADS_1
Raden membiarkan beberapa detik berlalu, sampai akhirnya terdengar suara pintu depan ditutup Laura. Kemudian ia cepat-cepat mendekati Adit. “Jangan pernah sentuh adikku lagi, paham? Jika aku melihatmu menyentuhnya sekali lagi, kau akan kehilangan pekerjaan dan aku akan mengusirmu pergi dari sini.”
“Aku tidak mengerayangi Laura, tuan Raden,” jawab Adit dengan nada datar. “Aku hanya ingin menghiburnya. Ia sedih karena kehilangan daddynya dan… beberapa hal lainnya.”
“Adikku tidak perlu ‘hiburan’ darimu.”
“Raden,” sela Gemintang sambil memegang tangan Raden, agar Raden menahan emosinya, namun Raden justru menepis tangan Gemintang.
“Apa maksud tuan?” tanya Adit.
“Kau tahu apa yang kumaksud. Kau pura-pura menghiburnya, padahal kau menginginkan adikku."
Adit menggigit bibir bawahnya. “Terserah apa yang Anda pikirkan tentang saya,tuan, tetapi begitulah faktanya. Saya tak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti Laura, dan takkan pernah.”
Raden menatap Adit dengan marah. “Kalau begitu, berarti tak ada masalah jika jauhilah Laura? Agar kita tidak ada salah paham.” Raden berbalik dan masuk ke rumah.
Setelah melempar pandang minta maaf pada Adit, Gemintang buru-buru mengejar Raden. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, ditariknya tangan Raden berbalik menghadap ke arahnya. “Kau keterlaluan! Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Adit memberikan kepuasan padamu? Kau merasa lebih baik sekarang?”
“Tidak juga.”
Raden membalik situasi, kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Gemintang, didorongya masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Dipepetnya Gemintang ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali dengan wajah Gemintang, napasnya memburu. Ia bertanya, “Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Gemintang?”
__ADS_1